
"Diam! Kamu sama sekali tidak tahu apa-apa!" pekik Kafin sambil menggebrak meja saat itu, membuat suasananya semakin terasa begitu dingin di area meja makan.
"Apa yang tidak aku mengerti Yah, aku mengerti segalanya.. Ayah saja yang tidak mengerti kami!" pekik Belinda dengan nada yang terdengar begitu kesal.
Anak kecil yang bawel dan juga gembul itu kini sudah menjadi gadis yang remaja. Belinda benar-benar tumbuh menjadi gadis yang cantik namun bermuka jutek. Raut wajah cerianya menghilang seiring dengan masalah yang terjadi di keluarga mereka.
"Belinda!" pekik Kafin ketika mendapati jawaban dafi Belinda barusan.
"Hentikan Yah, sudah cukup.. Tidak perlu berteriak, jika Ayah tidak ingin datang.. Maka tidak usah datang. Ini hanyalah sebuah masalah sepele tidak perlu dibesar-besarkan seperti ini." ucap Altair kemudian sambil mulai bangkit dari kursinya.
"Ayo Bel kita berangkat sekarang nanti terlambat." ucap Altair kemudian sambil mulai mengambil langkah berlalu pergi dari sana.
Belinda yang mendengar ajakan dari Altair barusan, lantas langsung menghela napasnya dengan panjang. Sambil memasang raut wajah yang cemberut, Belinda mulai bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi mengikuti langkah kaki Altair yang lebih dulu berlalu pergi dari sana.
Sedangkan Kafin setelah kepergian Belinda dan juga Altair dari area ruang makan, lantas Langsung terduduk kembali di tempatnya dengan seketika. Entah apa yang membuatnya begitu emosi kepada Belinda, yang jelas Kafin sendiri tidak tahu apa yang terjadi kepadanya belakangan ini. Kafin yang dulunya sangat tenang dan juga berhati-hati, semenjak kepergian Alice ia menjadi Lebih arogan dan tidak terkendali.
Emosi Kafin sering sekali muncul dan mereda begitu saja tanpa bisa ia tahan, membuat Kafin terkadang merasa risih akan hal tersebut. Namun sayangnya sama sekali tidak bisa Kafin cegah ataupun atasi seorang diri. Diusapnya raut wajah Kafin dengan kasar saat itu kemudian menarik napasnya dalam-dalam.
"Apa yang terjadi kepadaku? Mengapa aku semakin tidak bisa mengendalikan emosi ku?" ucap Kafin dengan nada yang terdengar begitu frustasi karenanya.
**
__ADS_1
Sementara itu di Bandara S. Hatta terlihat Alice dan juga Ashraf tengah melangkahkan kakinya keluar dari area penerbangan. Saat itu Ashraf terlihat tengah menggendong bocah kecil kisaran umur lima tahun, yang saat ini tengah tertidur dengan lelapnya. Ashraf yang melupakan sesuatu lantas terlihat menghentikan langkah kakinya dengan sejenak, membuat Alice yang menyadari akan hal tersebut nampak mengernyit menatap ke arah Ashraf saat itu.
"Ada apa?" tanya Alice dengan raut wajah yang penasaran.
"Aku melupakan sesuatu, kamu tunggulah di sini sebentar. Jangan kemana-mana ingat itu Al.." ucap Ashraf mengingatkan Alice agar tidak bergerak sesuka hatinya.
"Tidak perlu khawatir aku akan menunggumu di sini, lagi pula Caramel ada bersama dengan mu, bukan? Jadi kamu tidak perlu takut aku akan melarikan diri darimu." ucap Alice sambil tersenyum dengan lembut.
Sedangkan Ashraf yang mendengar perkataan dari Alice barusan, lantas tersenyum dengan simpul. Diusapnya puncak kepala Alice saat itu dengan perlahan, membuat helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Alice.
"Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi hari ini, kita hanya beberapa hari di negara ini. Aku harap kamu tidak melakukan sesuatu yang aneh-aneh." ucap Ashraf kemudian yang lantas membuat Alice mengangguk dengan pelan.
Setelah mengatakan hal tersebut Ashraf kemudian mulai membawa langkah kakinya kembali menuju ke area dalam, sambil menggendong Caramel di gendongannya Ashraf terlihat mulai meninggalkan Alice seorang diri di sana.
**
"Apakah kabar Abel dan juga Alta ya? Apakah mereka tumbuh dengan sehat?" ucap Alice dalam hati sambil menatap lurus ke arah orang-orang yang berlalu lalang di area Bandara.
Di saat perasaan merindu tengah menempati seluruh isi hatinya saat ini, sebuah suara yang tidak asing di pendengarannya saat itu lantas langsung membuat Alice berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara dengan seketika.
"Alice?" ucap sebuah suara yang berasal dari Dimas.
__ADS_1
"Dimas! Bagaimana bisa kamu ada di sini?" ucap Alice yang seakan terkejut akan kehadiran Dimas di tempat ini.
Sadar jika kehadiran Dimas akan mengundang sesuatu yang tidak terduga, lantas membuat Alice langsung menatap ke arah sekitaran. Alice terlihat mencari keberadaan Ashraf di sekitar sana, ia benar-benar harap-harap cemas takut jika Asraf tiba-tiba muncul dan mendapati jika saat ini Dimas sedang berbicara dengannya.
"Kamu benar-benar Alice? Tuan sudah mencari mu kemana-mana, apakah kamu..." ucap Dimas namun terhenti ketika mendengar ucapan Alice barusan.
Alice yang benar-benar takut jika Ashraf mengetahui hal tersebut, lantas langsung mendekat ke arah Dimas dan mengarahkannya agar segera pergi dari hadapannya.
"Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini Dim, jangan menambah masalahku saat ini. Aku benar-benar sudah hidup dengan bahagia selama ini bersama dengan Ashraf. Jadi kumohon jangan ungkit masalah Kafin lagi karena itu hanya masa lalu, sebaiknya kamu segera pergi dari sini." ucap Alice kemudian yang lantas membuat Dimas langsung mengernyit begitu mendapati ia di usir secara terang-terangan oleh Alice.
"Jika kamu sudah bahagia, lalu apa masalahnya jika aku di sini? Aku bahkan hanya menyapamu, apa itu juga tidak diperbolehkan olehnya? Jika sampai Tuan tahu maka dia akan..." ucap Dimas namun langsung di potong oleh Alice dengan menginjak kaki Dimas saat itu.
"Aw apa yang kau lakukan sebenarnya? Sakit tahu enggak!" pekik Dimas ketika mendapati kakinya yang di injak dengan tiba-tiba.
Alice yang seakan tahu akan kelanjutan dari pertemuannya dengan Dimas saat ini, tentu saja langsung menggigit bibir bagian bawahnya dengan pelan. Alice jelas tahu jika ia tidak akan bisa membungkam mulut Dimas saat itu, namun yang jelas Kafin tidak boleh tahu jika ia sedang berada di Ibukota saat ini.
Alice terdiam akan pemikirannya saat itu membuat Dimas yang menyadari kecemasan Alice, lantas menatapnya dengan tatapan yang intens sekaligus penasaran akan apa yang sedang dipikirkan oleh Alice saat ini.
"Jika sampai Kafin tahu bahwa Caramel adalah Putrinya, entah apa yang akan ia perbuat kepadanya. Aku benar-benar belum siap jika harus berpisah dengan Cara..." ucap Alice dalam hati.
"Mengapa kamu diam? Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan selama ini?"
__ADS_1
Bersambung