
"Kalian berdua sama saja, ajari anak mu untuk berhenti memanggil ku Papa karena aku bukan lah Papa kandungnya!" pekik Alex dengan nada yang kesal ketika mendapati Tia lagi dan lagi memanggilnya dengan sebutan Papa.
"Lex.." panggil Cicil seakan berusaha untuk memperingati Alex agar tidak membuka luka lama.
"Ada apa? Memang kenyataannya begitu bukan? Dia bukanlah anak ku! Kau pikir hidup dengan kalian selama ini begitu membuat ku bahagia? Jawabannya adalah tidak. Gara-gara perusahaan Papa ku yang bangkrut, aku terpaksa harus menikahi putri ketua dewan yang saat itu tengah mengandung anak orang lain yang aku sendiri gak tahu siapa Bapaknya. Apa kau pikir aku mencintai mu? Tidak sama sekali!" ucap Alex dengan nada yang meninggi sambil menunjuk ke arah Tia saat itu.
Cicil yang mendengar Alex kembali mengungkit akan kejadian masa lalu, lantas menjadi terkejut dan menatap ke arah Tia saat ini. Raut wajah Tia benar-benar terlihat bingung dan berkaca-kaca, membuat Cicil yang melihat hal tersebut lantas langsung menjadi kesal akan sikap Alex yang blak-blakan.
"Tia masuk kembali ke kamar sekarang juga!" ucap Cicil kemudian memerintahkan Tia agar beranjak pergi dari sana.
"Tapi Ma, benarkah aku bukan anak kandung Papa?" ucap Tia dengan raut wajah polos khas anak-anak.
"Tia Mama bilang masuk sekarang! Apa kamu ingin jadi anak nakal ha?" pekik Cicil kemudian.
Mendengar bentakan tersebut tentu saja membuat gadis kecil itu terkejut dan juga menangis. Sambil mengusap air matanya yang mulai turun dan membasahi pipinya, Tia terlihat mengambil langkah kaki yang lebar berlarian menuju ke arah kamarnya.
Sedangkan Cicil yang melihat kepergian Tia barusan, tentu saja langsung merasa bersalah. Cicil benar-benar tidak ada niatan untuk membentak Tia, namun situasinya yang tidak mendukung membuat Cicil mau tidak mau harus melakukan hal itu.
"Ada apa Cil? Apa kamu merasa bersalah? Jika memang merasa bersalah kejar anak mu dan jelaskan kepadanya, jangan mengganggu ku lagi oke!" ucap Alex kemudian yang lantas membuat Cicil langsung menoleh dengan seketika ke arah Alex saat itu.
"Diam! Ku bilang diam..." pekik Cicil sambil mengangkat tangannya tinggi hendak menampar Alex, namun terhenti di awang-awang.
__ADS_1
Sepertinya Cicil tidak sanggup jika harus melayangkan pukulannya kepada Alex saat ini, membuat bibirnya terlihat begitu bergetar ketika mendapati ia kembali kalah dalam melawan perasaannya sendiri.
"Apa? Apa kau mau menampar ku saat ini? Lakukan! Lakukan sekarang juga, kebetulan sekali aku sudah muak dengan mu! Bagaimana jika sekalian saja kita tanda tangani surat cerai?" ucap Alex kemudian yang langsung membuat bola matanya membulat dengan seketika.
"Tidak akan pernah, kau tahu Papa ku bukan? Jika sampai dia tahu, dia pasti akan..." ucap Cicil yang langsung di potong Alex sambil tersenyum dengan kecut.
"Akan apa? Lagi pula semuanya sudah berantakan saat ini, jadi jika dia ingin menambahkan kesengsaraan ku saat ini silahkan saja.. Pintu rumah ini terbuka dengan lebar untuknya!" ucap Alex lagi dengan nada yang penuh penekanan, sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari area sana dan meninggalkan Cicil seorang diri.
Cicil menatap kepergian Alex dengan tatapan yang terkejut, ia bahkan tadi hanya mengancamnya saja dan tidak sungguh-sungguh mengatakan hal tersebut kepada Alex. Namun sayangnya Alex yang begitu emosi malah menganggap semua perkataan Cicil adalah sungguhan.
"Bagaimana mungkin aku melakukan hal itu kepadamu Lex?" ucap Cicil sambil menatap kepergian Alex hingga punggungnya tidak lagi terlihat pada pandangannya saat itu.
***
Setelah Alice tanpa sengaja melihat Altair telah mendengar semua perkataannya tadi, dengan langkah kaki yang perlahan Alice mulai menggandeng tangan Altair dan menuntunnya untuk menuju ke arah kamar.
Keheningan benar-benar terjadi diantara keduanya, Alice bingung harus menjelaskannya seperti apa kepada Altair saat ini. Sampai kemudian ketika langkah kaki keduanya sampai tepat di depan pintu kamar Altair dan juga Belinda. Altair nampak menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah Alice dengan tatapan yang intens, membuat Alice lantas bertanya-tanya akan maksud dari tatapan Altair saat ini.
"Ada apa?" tanya Alice kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Bunda tak perlu membujuk Ayah lagi, dari dulu Ayah sudah membenci sepak bola jadi mustahil jika Ayah akan mengijinkan ku untuk bertanding. Aku akan memberitahu Miss jika aku tidak bisa ikut bertanding, Bunda tak perlu khawatir ya..." ucap Altair kemudian yang lantas membuat Alice langsung mengernyit begitu mendengar hal tersebut.
__ADS_1
"Kafin? Membenci sepak bola? Mengapa aku tidak tahu?" ucap Alice bertanya-tanya pada diri sendiri.
Mendapati pertanyaan dari Alice barusan lantas membuat Altair langsung kelabakan, ketika menyadari jika ia baru saja keceplosan dan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan kepada Alice.
Altair yang tahu jika ia sudah salah bicara, lantas mulai berpikir dan mencari alasan agar Alice tidak curiga akan perkataannya barusan.
"Iya Bun, Bunda tentu tidak akan tahu karena ini rahasia di antara para Pria. Aku yakin Ayah tidak akan memberitahukannya kepada Bunda karena takut jika Bunda akan menertawakannya." Ucap Altair kemudian mulai memutar otaknya dan mencari alasan yang sekiranya masih masuk akal. Bukankah Pria kecil ini begitu cerdas?
"Benarkah? Mengapa Bunda baru mengetahui hal ini?" ucap Alice yang tak langsung mempercayai perkataan dari Altair barusan.
"Tentu saja Bun, mangkanya jangan beritahu Ayah karena ini adalah sebuah rahasia. Selamat malam Bun love you..." ucap Altair sambil mencium pipi Alice kemudian mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar meninggalkan Alice seorang diri di sana.
Bruk
Suara pintu kamar yang tertutup dengan rapat benar-benar menyisakan keheningan di sana, membuat Alice lantas menarik napasnya dalam-dalam sambil menatap kosong ke arah depan.
"Selamat malam..." ucap Alice kemudian membalas perkataan Altair sebelum ia masuk ke dalam kamar.
Beragam pikiran kini kembali memenuhi isi kepala Alice, disaat lagi-lagi Alice merasa sesuatu yang asing dan aneh ketika ia mendapati beberapa hal yang seharunya ia ketahui. Namun anehnya sama sekali tidak pernah ada di ingatan Alice, rasanya seperti sesuatu hal baru yang sengaja di tambahkan di ingatannya.
"Ah ayolah.. Mengapa aku mulai lagi? Ini bahkan sudah kesekian kalinya aku curiga, namun tidak ada satu pun yang terbukti dari semua kecurigaan ku. Jika memang aku bukanlah istri Kafin serta Ibu dari dua anak itu, mengapa aku bisa berakhir di sini? Bukankah hal ini sangat aneh?" ucap Alice pada diri sendiri seakan menertawakan isi pikirannya yang sama sekali tidak pernah terbukti kebenarannya.
__ADS_1
Bersambung