Move

Move
Tidak ada pilihan lain


__ADS_3

Alice yang tidak mendapati keberadaan Caramel dimanapun saat itu, lantas terlihat berlarian ke sana kemari mencari keberadaan Putri gembulnya. Alice berlarian ke sana kemari dan menanyakannya pada beberapa orang, siapa tahu ada yang melihat kepergian Caramel. Namun meski Alice sudah hampir memutari area Rumah sakit, ia tetap tidak bisa menemukan keberadaan Caramel.


"Cara kamu di mana nak..." ucap Alice dalam hati sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar.


Alice yang tak kunjung menemukan keberadaan Caramel, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya sejenak. Manik matanya yang berkaca-kaca terlihat jelas mengiringi rasa khawatir yang memenuhi hatinya saat ini. Diremasnya area atas kemejanya dengan erat, sampai kemudian sebuah deringan ponsel miliknya lantas terdengar menggema membuyarkan semua lamunannya saat itu.


Alice yang melihat nomer baru di layar ponselnya, lantas terlihat mengernyit dengan tatapan yang bertanya-tanya. Alice yang awalnya ragu akan panggilan telpon tersebut, pada akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya sambil berusaha untuk menenangkan hatinya yang tengah kalut saat ini.


"Halo" ucap Alice setelah menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Apa kamu sedang mencari Putri mu saat ini?" ucap sebuah suara di seberang sana yang lantas membuat Alice membeku di tempatnya saat itu.


"Ka..fin" ucap Alice dengan bibir yang bergetar.


Satu nama berhasil meluncur dari mulut Alice saat itu, sebuah suara yang tidak akan pernah mungkin bisa ia lupakan hingga detik ini. Alice terdiam mematung di tempatnya tepat ketika mendengar sebuah suara seseorang yang terus lagi dan lagi melukai hatinya, mendadak terdengar dan mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak Alice inginkan.


"Aku benar-benar terharu kau masih mengingat suara ku Al, tapi sayangnya ingatan mu sama sekali tidak membuat rasa di hati mu tumbuh hingga detik ini untuk ku. Aku memutuskan untuk membawa putri mu, jika kamu menginginkannya datanglah ke Rumah di mana sebuah kenangan pernah tercipta dahulu. Aku akan menantikan kedatangan mu!" ucap Kafin dengan nada yang terdengar sumbang, sebelum pada akhirnya menutup panggilan telponnya begitu saja tanpa memberikan kesempatan kepada Alice untuk berbicara.


"Apa yang kamu lakukan kepada Cara? Halo Kaf.. Kafin..." ucap Alice dengan nada yang terdengar kesal saat itu.


Namun sayangnya sekuat apapun teriakan Alice, nyatanya sama sekali tidak berpengaruh tepat ketika panggilan telpon tersebut terputus begitu saja. Alice berdecak dengan kesal ketika mendapati sikap egois Kafin yang terlalu mendarah daging itu.


"Kafin... Benar-benar br3ngs3k!" ucap Alice dengan tatapan yang tajam mengarah lurus ke arah depan.

__ADS_1


Tidak ada pilihan lain bagi Alice saat ini selain menuruti perkataan Kafin dan datang ke Rumah itu. Lagi pula Caramel tengah sakit saat ini, sungguh tidak mungkin jika ia membiarkan putrinya bersama dengan Kafin di Rumah itu.


***


Di dalam mobil milik Kafin


Setelah ia memutus sambungan telponnya begitu saja, Kafin nampak tersenyum dengan simpul menatap lurus ke arah depan. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh Pria itu, namun yang jelas tanda merah di area leher Alice benar-benar membuatnya matah.


Ditatapnya kursi penumpang di sebelahnya, dimana saat ini terlihat Caramel yang tengah tertidur dengan pulas. Setelah meminum obat tidur yang di berikan oleh Dimas lewat segelas minuman, Dimas langsung membawa Caramel masuk ke dalam mobil dan mengamankannya.


Tidak ada yang menyadari jika gadis kecil itu tertidur karena minuman yang di berikan oleh Dimas, membuat Dimas begitu mudah melancarkan aksinya karena kebanyakan orang mengira jika Caramel tengah sakit hingga di gendong keluar seperti itu oleh Dimas.


"Dia benar-benar mirip dengan Belinda ketika kecil, apakah dia benar-benar putri ku? Tapi.. Mengapa Alice menyembunyikannya dari ku?" ucap Kafin sambil membenarkan rambut Caramel yang berantakan saat itu.


Suara pintu yang tertutup dengan rapat, lantas langsung membuyarkan segala lamunan Kafin saat itu. Membuat Kafin lantas menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Bram baru saja mengambil duduk di kursi pengemudi.


"Selanjutnya bagaimana Tuan?" tanya Bram kemudian sambil melirik ke arah kaca spion.


"Kita ke Rumah!" ucap Kafin dengan nada yang tegas membuat Dimas langsung mengernyit begitu mendengar perintah tersebut.


"Jika kita ke Rumah, lalu bagaimana dengan Nona dan juga Tuan muda?" ucap Dimas yang tidak mengerti akan arah pikiran Kafin saat ini.


"Bukankah harusnya mereka masih di Sekolah? Setidaknya aku punya waktu hingga nanti sore, jika memang tidak bisa maka kita katakan saja yang sebenarnya kepada mereka. Aku yakin baik Belinda maupun Altair akan menyetujui opsi ini." ucap Kafin dengan nada yang terdengar begitu santai saat itu.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Kafin barusan pada akhirnya mau tidak mau membuat Dimas menuruti perkataan dari Kafin saat ini. Meskipun terdengar begitu ragu, namun sebagai ajudan Dimas tetap harus melakukannya mengingat bagaimana hubungan Kafin dan juga kedua anaknya yang begitu buruk.


"Baik Tuan..." ucap Dimas sebelum pada akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan area plataran Rumah sakit dengan kecepatan sedang.


Tepat setelah mobil yang dikendarai oleh Dimas keluar dari area pelataran Rumah sakit, dari arah lorong Rumah sakit terlihat Alice tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang terburu-buru. Diedarkannya pandangannya ke arah sekitar, seakan mencoba untuk mencari keberadaan sebuah mobil yang mungkin saja masih berada di sana.


"Akh sial! Bagaimana bisa Kafin begitu cepat berlalu pergi dari sini?" ucap Alice dengan raut wajah yang kesal.


Sadar Jika ia baru saja kehilangan Kafin, tanpa pikir panjang lagi Alice lantas langsung berlarian menuju ke arah jalan raya saat itu. Alice berusaha secepat mungkin mendapatkan taksi, kendaraan umum atau bahakan sejenisnya yang bisa ia gunakan untuk menuju ke arah kediaman Kafin. Apapun yang terjadi Alice harus bisa membawa Caramel kembali pulang dengan tangannya sendiri.


"Cara tunggu Mama nak..." ucap Alice sambil berusaha untuk menyetop taksi saat itu.


***


Kediaman Kafin


Nafas terengah-engah terdengar jelas berhembus kasar dari mulut Alice saat itu. Dengan raut wajah yang sudah basah karena keringat, Alice nampak berhenti tepat di area gerbang kediaman Kafin. Karena sulitnya Alice mendapatkan taksi, pada akhirnya Alice memilih untuk menaiki kendaraan umum. Sayangnya kendaraan umum hanya bisa berhenti di ujung jalan dan tidak bisa masuk ke area perumahan elit. Alhasil membuat Alice mau tidak mau lantas jalan kaki dari ujung jalan untuk bisa sampai di kediaman Kafin.


Sambil mulai mengatur napasnya secara perlahan, Alice lantas mengambil langkah kaki masuk begitu saja melewati area pos satpam. Membuat Darto yang saat itu kebetulan tengah bersih-bersih, lantas terkejut akan kehadiran Alice yang terlihat begitu acak-acakan.


"Non Bianca, anda pulang?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2