
Ruangan CEO
Setelah kepergian Ashraf dari ruangannya, raut wajah Kafin berubah dengan seketika. Perkataan Ashraf yang menanyakan keberadaan Alice kepadanya, benar-benar membuat Kafin kepikiran.
"Apa yang terjadi kepada Alice sebenarnya? Mengapa Ashraf malah menanyakan Alice dan datang ke sini?" ucap Kafin dengan raut wajah yang nampak menerka-nerka.
Disaat Kafin tengah berada dalam kebimbangan sebuah suara yang berasal dari langkah kaki seseorang, nyatanya sama sekali tidak membuat Kafin tersadar dari lamunannya saat itu.
"Tuan ada beberapa dokumen tambahan yang harus anda tanda tangani, sepertinya nanti sore Tuan Dev akan menyempatkan diri mampir ke mari dan menemui anda." ucap sebuah suara yang berasal dari Dimas saat itu, sambil meletakkan beberapa dokumen yang ia bawa sedari tadi.
"..."
Keheningan yang terjadi tepat setelah perkataan Dimas barusan, membuat Dimas langsung mengernyit dengan raut wajah yang bingung. Dimas yang semula tidak terlalu memperhatikan Kafin saat itu, lantas langsung mendongak dengan seketika di saat ia sama sekali tidak mendengar jawaban apapun dari Kafin saat ini.
Tak tak tak
"Tuan..." ucap Dimas sambil mengetuk meja kerja Kafin dengan pelan.
Mendengar sebuah suara tersebut lantas membuyarkan pemikiran Kafin saat ini, Kafin mendengus dengan kesal ketika mendapati Dimas mengganggu pikirannya.
"Dari pada kau mengganggu ku untuk hal yang tidak penting, sebaiknya kau cari tahu dimana keberadaan Alice saat ini!" ucap Kafin dengan nada yang dingin, namun membingungkan bagi Dimas.
"Alice Tuan? Lalu ke mana saya harus mencarinya?" ucap Dimas dengan nada yang terdengar polos, membuat manik mata Kafin membulat dengan seketika.
"Jika aku tahu aku tidak akan menyuruh mu, sana pergi dan lakukan dengan segera. Cari Alice dimana pun jika perlu di lubang semut sekalipun!" ucap Kafin kemudian dengan nada yang terdengar mulai meninggi, karena kesal akan wajah polos milik Dimas itu.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut membuat Dimas langsung melangkahkan kakinya mundur secara perlahan. Nada tinggi Kafin sudah menjelaskan segalanya, bukankah jika seperti ini sebaiknya ia segera berlalu pergi dari sini? Setidaknya untuk menghindari amukan Singa yang tengah lapar saat ini.
"Ba...baik Tuan..." ucap Dimas sambil mulai mengambil langkah kaki mundur dan berlalu pergi dari ruangan Kafin tersebut.
Kafin yang melihat kepergian Dimas barusan lantas mendengus dengan kesal. Disaat Kafin sedang dalam keadaan yang khawatir bisa-bisanya Dimas malah bercanda seperti itu, membuat Kafin tak habis pikir akan watak lemot Dimas saat ini.
"Benar-benar menyebalkan!" ucap Kafin dengan nada yang kesal.
***
Ruang kontrol mall
Saat ini terlihat Ashraf tengah sibuk menatap ke arah layar komputer rekaman kamera pengawas. Beruntung sekali ia kenal dengan pemilik mall ini, sehingga hanya untuk sekedar melihat rekaman kamera pengawas, sama sekali bukan sebuah masalah besar bagi Ashraf.
Ashraf terlihat begitu fokus menatap kepergian beberapa orang yang terlihat berlalu lalang saat ini. Sampai kemudian matanya terhenti kepada sosok Alice yang terlihat masuk ke dalam kamar mandi, setelah percakapan singkatnya bersama dengan wanita yang tak di undang saat itu.
Ashraf mencoba untuk mencermati kemana perginya Alice setelah masuk ke kamar mandi. Hanya saja nyatanya setelah menit ke sekian kalinya, anehnya Ashraf sama sekali tidak mendapati Alice keluar dari sana.
Mengetahui hal tersebut tentu saja membuat Ashraf mulai frustasi karenanya. Ashraf berdecak dengan kesal, ketika menyadari jika ia tidak menemukan clue apapun meski ia sudah hampir satu jam penuh menatap layar monitor tersebut.
"Tunggu sebentar, apakah saat itu ada petugas cleaning service atau semacamnya yang sedang bertugas?" ucap Ashraf kemudian ketika merasa ada sesuatu yang janggal saat itu.
"Saya rasa untuk posisi area ini tidak ada Pak, ada beberapa rombongan dari Capres yang menyempatkan mampir ke mall ini. Dan saya yakin sebelum acara tersebut selesai, tidak di perbolehkan untuk staf yang tidak berkepentingan memasuki area ini." ucapnya sambil menunjuk ke arah beberapa tempat pada layar monitor tersebut.
"Jika memang seperti itu siapa tiga orang ini?" ucap Ashraf sambil menunjuk ke arah dia orang yang nampak mendorong troli dan juga seseorang lagi di belakangnya.
__ADS_1
"Sebentar saya akan mencoba untuk mengeceknya." ucapnya lagi sambil menggeser kursinya ke layar monitor di sebelah.
Petugas itu nampak mengetik sesuatu di sana, seakan mencoba mencari tahu tentang identitas tiga orang yang di tunjuk oleh Ashraf barusan. Sampai kemudian petugas itu lantas mengernyit dengan raut wajah yang bingung ketika menyadari sesuatu di dana.
"Maaf Pak, ketiga Pria ini bukan karyawan kami." ucapnya dengan raut wajah yang merasa bersalah.
Mendengar hal tersebut, lantas membuat Ashraf langsung kembali menatap ke arah latar komputer. Ditatapnya wajah ketiga Pria tersebut dengan tatapan yang tajam, seakan seperti harimau yang saat ini sudah menemukan mangsanya.
"Sudah ku duga!" ucap Ashraf dengan nada yang lirih, sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan ruangan kontrol dengan langkah kaki yang lebar.
Sedangkan petugas kendali di ruang kontrol tersebut, hanya bisa menatap kepergian Ashraf dengan tatapan yang takut. Ia bahkan benar-benar tidak ingin terlibat dalam hal ini.
"Sepertinya masalah ini adalah masalah yang besar, lagi pula aku hanya petugas jaga saja. Tidak akan ada yang mempersalahkan ku bukan? Mati aku jika sampai aku ikut terseret." ucapnya sambil menatap punggung Ashraf hingga tidak lagi terlihat pada pandangannya.
***
Sementara itu di sebuah ruangan yang gelap, terlihat Alice tengah menggeliat sambil mengerjapkan matanya. Ditatapnya area sekitar yang saat itu nampak begitu gelap tanpa secercah sinar yang masuk ke dalam.
"Aku dimana? Mengapa aku berakhir di tempat ini? Bukankah sebelumnya aku berada di mall bersama dengan Ashraf dan juga Caramel?" ucap Alice dalam hati sambil mencoba untuk menatap ke arah sekeliling saat itu.
Alice yang tak bisa melihat apapun lantas berusaha bangkit dari tempatnya. Namun sayangnya langsung terjatuh ketika ia baru menyadari jika kakinya terikat saat itu, sedangkan tangannya juga dalam posisi terikat. Namun secara terbentang seakan-akan berada di atas ranjang dan kedua tangannya di ikat di masing-masing sudut.
"Ap..a apaan ini..?" ucap Alice sambil berusaha untuk menarik kedua sisi tangannya dan bangkit, hanya saja sekeras apapun Alice mencoba tetap saja ia tidak berhasil sama sekali.
Sampai kemudian sebuah suara yang mendadak terdengar di kegelapan ruangan tersebut, lantas menghentikan gerakan Alice dengan seketika.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun rupanya?"
Bersambung