
"Apa yang telah aku lakukan..." ucap Altair sambil melangkahkan kakinya mundur secara perlahan.
Nampaknya Altair saat ini tengah terpukul karena ia merasa gagal menjadi seorang kakak yang bisa melindungi Belinda. Meskipun keduanya kembar namun jarak kelahiran keduanya yang hanya berjarak 10 menit, di mana Altair lahir lebih dulu membuatnya merasa mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap Belinda saat ini maupun seterusnya.
Altair yang merasa gagal menjadi seorang kakak, lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya mundur secara perlahan. Entah mengapa ia merasa benar-benar tidak berguna saat ini, apalagi ketika melihat raut wajah khawatir yang terlihat dengan jelas di wajah Kafin dan juga Alice saat itu. Melihat hal tersebut lantas membuat Altair kemudian memilih untuk mengangkat kaki dan pergi dari sana.
"Aku benar-benar tidak berguna..." ucap Altair sambil menangis dengan tersedu dan terus membawa langkah kakinya berlari menjauh dari sana.
Altair berlari dan terus berlari membelah membelah daerah sekitar Taman tersebut dengan langkah kaki kecilnya. Sambil terus menangis dengan tersedu Altair nampak menghentikan langkah kakinya dan duduk di bawah pohon besar ketika langkah kaki kecilnya tidak lagi bisa berlari karena kecapekan.
Antar meringkuk di bawah pohon besar sambil menyembunyikan kepalanya di antara kedua kaki yang ia tekuk dengan rapat. Tangis pria kecil itu benar-benar pecah, entah apa yang membuatnya begitu bersedih namun ia merasa segala hal yang terjadi dalam keluarganya merupakan kesalahannya.
"Aku memanglah pembawa sial hiks hiks hiks..." ucap Altair sambil menangis dengan tersedu di sana.
***
"Ayah.. Bunda.. Uhuk uhuk..." ucap Belinda dengan perlahan membuat Kafin langsung memeluknya dengan erat ketika perkataan tersebut keluar dari mulut Belinda.
Satu persatu orang-orang nampak mulai meninggalkan tempat tersebut ketika mendapati bahwa Belinda berhasil diselamatkan, membuat kini hanya menyisakan Belinda, Kafin dan juga Alice yang masih tetap berada di sana. Alice mengusap rambut Belinda saat itu dengan lembut kemudian tersenyum simpul.
"Jangan lakukan hal itu lagi ya kamu benar-benar membuat Ayah dan Bunda khawatir." ucap Alice sambil mencubit pelan hidung Belinda saat itu.
"Maaf..." ucap Belinda dengan nada yang lirih.
__ADS_1
Mendengar permintaan maaf dari Belinda barusan, Alice hanya tersenyum dengan simpul kemudian menatap ke arah sekitar ketika ia menyadari ada yang kurang saat ini. Membuat Kafin yang melihat Alice celingukan kesana kemari lantas mulai menatap dengan raut wajah yang penasaran.
"Ada apa?" tanya Kafin kemudian sambil mulai mengangkat tubuh Belinda dan menggendongnya.
"Dimana Altair?" ucap Alice begitu mendengar pertanyaan dari Kafin barusan.
Sedangkan Kafin yang mendengar pertanyaan dari Alice barusan, tentu saja langsung mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencoba mencari keberadaan Altair di sekitar sana namun sayangnya ia tidak melihat Altair di manapun saat ini.
"Kamu benar, di mana Altair? Mengapa tidak ada di sini? Bukankah dia tadi bersama dengan kita?" ucap Kafin dengan raut wajah yang kebingungan.
Belinda yang mendengar keduanya menyebut nama Altair dan mencari keberadaannya, tentu saja langsung mendongak dan menatap ke arah sekitar.
"Abang tadi pergi mencari permainan itu yang aku lempar terlalu jauh, namun setelah itu Belinda sama kali tidak melihatnya di manapun lagi." ucap Belinda kemudian dengan nada suara yang serak.
Mendengar perkataan Alice barusan lantas membuat Kafin langsung menggenggam lengan tangan Alice yang satunya, seakan tidak mengizinkan Alice untuk pergi dan bergerak seorang diri. Hal tersebut membuat Alice yang ditahan, tentu saja langsung menoleh ke arah Kafin dengan tatapan yang bertanya.
"Jangan pergi seorang diri, mari kita cari sama-sama." ucap Kafin kemudian dengan nada yang datar dan seperti tak rela.
"Jangan ngotot, Belinda saat ini bajunya tengah basah kuyup. Gantilah dulu pakaiannya di mobil, aku tadi membawa beberapa pakaian ganti untuk jaga-jaga Apabila terjadi sesuatu. Baru setelah itu kalian boleh menyusul ku, mengerti?" ucap Alice kemudian dengan tatapan yang memperingati keduanya.
"Tapi Al aku..." ucap Kafin namun terhenti ketika mendapat tatapan yang tajam dari Alice barusan.
Dengan perlahan Alice mulai melepas genggaman tangan Kafin di lengannya kemudian berlalu pergi dari sana dengan langkah yang bergegas mencoba mencari keberadaan Altair di sekitar sana. Kafin yang melihat kepergian Alice dari sana, tentu saja hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Helaan napas bahkan terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Kafin saat itu.
__ADS_1
"Bajunya bahkan basah, bagaimana kalau dia sampai masuk angin dan sakit nantinya?" ucap Kafin kemudian pada diri sendiri sambil menatap kepergian Alice saat ini.
***
Tanpa memikirkan penampilan dan bajunya yang saat ini basah kuyup, Alice yang khawatir akan keadaan Altair lantas langsung berlarian ke arah sekitar mencoba mencari keberadaan Altair di sekitar sana. Ia jelas yakin jika Altair belum terlalu jauh dari Taman tersebut, membuatnya terus mempercepat langkah kakinya mencoba mencari keberadaan Altair di sekitaran sana.
"Permisi, apa kalian melihat seorang anak laki-laki tampan dengan hidung mancung dan menggunakan setelan pakaian berwarna coklat dan juga hitam?" tanya Alice pada seseorang yang tengah duduk-duduk santai berpiknik bersama keluarganya.
"Maaf kami tidak melihatnya, kami bahkan baru datang." ucap salah seorang di sana membuat Alice lantas langsung mengangguk tanda mengerti.
"Terima kasih banyak..." ucap Alice kemudian berlalu pergi dari sana kembali meneruskan langkah kakinya mencari keberadaan Altair di sana.
Alice terus melangkahkan kakinya dan sesekali bertanya kepada beberapa orang tentang Altair. Namun nyatanya tidak ada satupun dari mereka yang melihat keberadaan Altair saat ini. Rasa frustasi dan juga khawatir mendadak menyelimuti dirinya, dengan perasaan yang bercampur aduk Alice terus membawa langkah kakinya menyusuri area Danau tersebut. Entah mengapa ia tetap saja yakin jika Altair masih berada di sini.
"Kamu di mana Alta?" Mengapa Bunda tidak bisa menemukanmu di manapun?" ucap Alice sambil mengusap raut wajahnya dengan kasar.
Alice yang tak kunjung menemukan keberadaan Altair saat itu, lantas menghentikan langkah kakinya dengan sejenak. Diambilnya napas dalam-dalam sambil terus mengedarkan pandangannya ke arah sekitar.
Di saat perasaan khawatir dan juga tanda tanya berputar di kepalanya saat ini, samar-samar Alice seperti mendengar suara tangisan seseorang yang membuatnya lantas langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengar suara tangisan tersebut.
Alice yang merasa suara tangisan tersebut berada di dekatnya, lantas memutuskan untuk membawa langkah kakinya menuju ke arah sumber suara. Alice rasa mungkin saja jika suara tersebut adalah Altair. Sampai kemudian langkah kakinya lantas terhenti begitu melihat bocah laki-laki tengah meringkuk di batang pohon besar sambil menenggelamkan kepalanya.
"Altair?"
__ADS_1
Bersambunf