Move

Move
Alur yang sengaja di buat


__ADS_3

Di sebuah mobil yang di kendarai oleh seorang sopir, terlihat Ashraf tengah sibuk menatap ke arah layar ponsel miliknya beberapa kali seakan menunggu sebuah pesan dari seseorang.


Sampai kemudian sebuah suara notifikasi dari ponsel miliknya, lantas terdengar dan membuat Ashraf langsung menatap ke arah layar ponsel miliknya dengan tatapan yang serius.


Sebuah informasi dan juga beberapa slide foto nampak terlihat jelas di sana, membuat Ashraf semakin memasang raut wajah yang serius seakan mencoba mencari tahu apa yang salah dari informasi tersebut.


Hingga ketika dirinya sampai pada berita tentang pernikahan Kafin dan juga Bianca beberapa tahun yang lalu, pandangan mata Ashraf langsung terhenti dengan seketika. Seakan mulai mendapat pencerahan dari masalah yang mendadak menghampiri dirinya.


"Jika dua tahun yang lalu Bianca mengalami kecelakaan dan dinyatakan tewas, bukankah cukup aneh? Jika satu tahun kemudian Alice mengalami kecelakaan yang sama dan sudah hilang selama berbulan-bulan lamanya. Aku rasa ada yang tidak beres akan hilangnya Alice beberapa bulan ini, bisa jadi segala sesuatunya telah di atur oleh Kafin yang mengetahui jika Bianca dan juga Alice memiliki wajah yang sama." ucap Ashraf sambil menatap ke arah slide pertama dan juga kedua dengan yang senyuman sinis, seakan mulai bisa membaca alur cerita yang di buat secara paksa oleh Kafin .


**


Kediaman Kafin


"Saya harap anda bisa menjaga bu Alice agar tetap dalam kondisi yang stabil. Jangan memberinya terlalu banyak tekanan karena saya takut itu akan berdampak pada ingatannya." ucap Dokter tersebut ketika langkah kaki keduanya sampai tepat di halaman kediaman Kafin.


"Tentu, terima kasih banyak." ucap Kafin yang hanya mengiyakan perkataan dari Dokter tersebut.


"Saya permisi." ucap Dokter tersebut sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari hadapan Kafin.


Kafin menatap kepergian Dokter tersebut dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Entah apa yang saat ini tengah berada di kepalanya, setelah mendengar perkataan dari Dokter tersebut. Lagi pula jika memang apa yang terjadi kepada Alice akan mempengaruhi ingatannya, bukankah hal itu akan sangat menguntungkan bagi Kafin? Bukankah sedari awal ini memanglah tujuannya?

__ADS_1


"Akan sangat bagus jika Alice kehilangan seluruh ingatannya sehingga aku bisa mengisinya dengan ingatan yang baru. Tapi aku tidaklah sejahat itu hingga harus mencuci otaknya dan menghilangkan segala memori miliknya. Aku hanya butuh waktu untuk mempersiapkan segalanya, jika memang sampai detik nanti aku dan anak-anak ku telah merelakan semuanya termasuk tentang kepergian Bianca. Aku akan pastikan jika aku yang akan mengantarkan Alice pulang dengan tangan ku sendiri." ucap Kafin sambil menatap lurus ke arah depan


**


Setelah Kafin mengantarkan Dokter yang memeriksa Alice ke depan. Sebuah deringan ponsel miliknya lantas terdengar menggema di telinganya saat itu. Sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar utama, Kafin nampak menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya ketika mendapati nama Dimas tertera jelas di sana.


"Halo Tuan..." ucap sebuah suara di seberang sana yang lantas membuat Kafin langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


"Apa kau sudah menemukannya?" ucap Kafin kemudian yang langsung bertanya, seakan tak sabar dengan informasi yang akan di sampaikan oleh Dimas.


"Tentu Tuan, saya sudah mengirimkan detailnya pada anda. Untuk ringkasannya dia adalah Ashraf Matthew, putra tunggal dari pemilik perusahaan penerbitan dan juga di bidang properti yaitu M&U Company. Dia adalah kekasih dari Alice sebelumnya Tuan." ucap Dimas kemudian memberikan ringkasan informasi tentang Ashraf kepada Kafin.


"Aku tahu jika dia adalah kekasih Alice, lalu tidak adakah info yang lebih mendetail lainnya?" ucap Kafin kemudian dengan nada yang kesal.


"Jangan bercanda, di dunia bisnis yang kejam ini.. Apakah benar-benar ada seorang pebisnis yang jujur? Aku rasa jika memang ada mungkin perusahaannya sudah lama longsor karena tergerus oleh mereka yang suka bermain dengan taktik." ucap Kafin meremehkan.


"Tentu Tuan, apa yang anda katakan ada benarnya juga." ucap Dimas kemudian seakan mengiyakan perkataan dari Kafin barusan.


"Awasi setiap pergerakan dari Ashraf saat ini, jika ia mulai menghalangi jalan kita maka dia harus segera di singkirkan sebelum menimbulkan masalah yang lebih fatal lagi!" ucap kafin kemudian memberikan perintah kepada Dimas.


Namun sayangnya ketika pembicaraan di antara Kafin dan juga Dimas terus berlanjut, sebuah suara teriakan dari Alice lantas terdengar menggema dan mengejutkannya saat itu.

__ADS_1


"Alice!" pekik Kafin kemudiaan dengan raut wajah yang penuh ke khawatiran.


Setelah mendengar teriakan Alice barusan, Kafin kemudian lantas memutus sambungan telponnya begitu saja. Kemudian berlarian menuju ke arah kamar utama untuk melihat kondisi Alice saat ini.


***


Kamar utama


"Ashraf.... Hhhhhh...." pekik Alice dengan tiba-tiba yang seperti langsung di lempar dari ketinggian.


Alice yang mendengar kata-kata dari Ashraf sebelumnya, lantas langsung terkejut dan terbangun dalam keadaan yang kebingungan. Tubuhnya bahkan basah dengan keringat yang Alice sendiri tidak tahu akan apa yang sedang terjadi dengannya saat ini.


Sedangkan Kafin yang saat itu tengah sibuk menelpon Dimas, untuk mengetahui kabar tentang sesuatu hal yang ia minta sebelumnya. Begitu mendengar teriakan yang berasal dari Alice barusan, lantas langsung membuat Kafin berlarian menuju ke arah dimana Alice berada.


"Al ada apa?" tanya Kafin yang terkejut begitu mendengar teriakan dari Alice barusan.


Alice yang mendapati jika saat ini yang sedang berada di hadapannya adalah Kafin, lantas langsung terdiam dengan seketika. Setelah bangun dari pingsannya, Alice mengingat segala kisahnya bersama dengan Ashraf. Namun sayangnya untuk saat ini yang hanya ia ingat adalah sepenggal kisah tentang Ashraf, sedangkan yang lainnya Alice tetap tidak bisa mengingatnya sama sekali.


Ditatapnya Kafin dengan tatapan yang intens, dimana saat ini Kafin tengah mengelap keningnya yang tengah basah karena keringat dengan telaten. Membuat Alice yang mendapati hal tersebut langsung bertanya-tanya, akan alur cerita apa sebenarnya yang terjadi di antara dirinya, Kafin dan juga Ashraf sebelumnya.


"Ada apa Al? Apa kamu bermimpi buruk?" ucap Kafin kemudian dengan nada yang lembut.

__ADS_1


"Siapa kamu sebenarnya?" ucap Alice kemudian dengan tatapan lurus menatap tepat ke arah manik mata Kafin, seakan berusaha untuk mencari sebuah kebenarannya di sana.


Bersambung


__ADS_2