Move

Move
Kakak akan mengantarmu pulang


__ADS_3

Setelah memastikan segalanya aman, Caramel mulai memberanikan dirinya untuk keluar dari tempat persembunyiannya saat itu. Dengan raut wajah yang ketakutan Caramel mulai celingukan kesana kemari berharap tidak ada seorang pun yang akan melihatnya keluar dari sana.


"Mama Cala takut..." ucapnya dalam hati sambil mulai membawa langkah kakinya keluar dari area ruangan kamar tersebut.


Dengan langkah kaki yang perlahan dan juga hati-hati, Caramel mulai membawa langkah kakinya sambil mengedarkan pandangannya ke sana kemari mencoba mencari jalan keluar dari tempat tersebut.


Tak tak tak


Suara langkah kaki seseorang yang mendekat, lantas membuat Caramel dengan seketika menghentikan langkah kakinya saat itu. Caramel yang tidak tahu serta kebingungan mencari tempat bersembunyi di sana. Pada akhirnya memilih untuk membuka pintu kamar yang terletak di sebelahnya saat itu.


Entah pintu kamar siapa yang saat ini ia buka, namun gadis kecil tersebut sama sekali tidak memperdulikannya. Caramel mengambil langkah kaki yang cepat menuju ke arah walk in closet dan masuk ke dalam sebuah almari pakaian.


Criet....


"Apa kamu tengah bercanda? Ayolah.. Jangan selalu memikirkan tentang pekerjaan Rumah, sekali-kali kita harus bersenang-senang bukan? Aku lelah terus belajar." ucap sebuah suara yang lantas membuat Caramel semakin membawa dirinya ke arah pojok almari tersebut.


"Mau kemana lagi kamu Bel? Bukankah kemarin kita sudah hang out? Jangan mengganggu ku sekarang.. Kalau Mama ku tahu aku pasti sudah di gantung bersama dengan jemuran!" ucap seseorang di seberang sana.


Belinda yang mendengar perkataan sahabatnya hanya tersenyum dengan kecut seakan sedang menertawakan dirinya sendiri saat ini.


"Cih, anehnya aku malah menginginkan hal itu. Apa menurut mu aku sudah gila?" ucap Belinda dengan senyuman yang miris.


"Oh ayolah nona Belinda, berhenti meratapi nasib. Begini saja.. Aku akan mencoba untuk menyelesaikan pekerjaan Rumah ku secepat mungkin, setelah itu aku akan menghubungi mu dan kita keluar bersama, bagaimana?" ucapnya lagi yang seakan merasa bersalah karena tanpa sengaja mengatakan suatu hal yang membuat Belinda sedih.


"Baiklah, tak perlu terburu-buru tapi terima kasih sudah mau menemani ku." ucap Belinda sambil tersenyum simpul.


"Tak perlu sungkan, sampai jumpa nanti.." ucapnya lagi.


"Tentu" jawab Belinda sebelum pada akhirnya memutus sambungan telponnya begitu saja.


Setelah sambungan telponnya terputus Belinda menghembuskan napasnya dengan kasar beberapa kali. Sambil menyandarkan tubuhnya di sebuah etalase aksesoris miliknya, Belinda nampak menatap lurus ke arah depan.

__ADS_1


"Aku benar-benar merindukan omelan Bunda.. Apa Bunda juga merindukan kami?" ucap Belinda tanpa sadar sambil mulai memperbaiki posisinya dan menatap ke arah almari pakaiannya.


Disaat perasaan merindu menghampiri dirinya saat itu, manik mata Belinda menangkap sebuah bayangan di dalam almari pakaiannya yang terletak di antara tatanan dress-dress panjang miliknya.


Belinda terdiam di tempatnya dengan seketika ketika menangkap sebuah bayangan asing di sana. Sampai kemudian Belinda memutuskan untuk mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah sumber bayangan tersebut dan menyibak beberapa dress miliknya.


"Kamu!" pekik Belinda yang terkejut ketika mendapati sosok yang tak asing di dalam almari pakaiannya.


Mendengar sebuah suara yang mau tidak mau membuat wajah Caramel mendongak menatap ke arah sumber suara, membuatnya sedikit tersentak ketika mendapati Belinda tengah berdiri di hadapannya saat ini.


.


.


.


.


"Makanlah dulu kamu pasti lapar kan?" ucap Belinda dengan ramah, membuat Caramel langsung menatap ke arahnya.


Mendengar hal tersebut membuat Caramel lantas menggeleng dengan keras, membuat Belinda mengernyit dengan seketika begitu melihat ekspresi Belinda saat ini.


"Cala ingin pulang..." ucap Caramel dengan raut wajah yang sendu.


"Nanti setelah kamu makan, Kakak janji akan mengantar mu pulang. Kamu makan dulu ya?" ucap Belinda lagi mencoba untuk membujuk Caramel saat itu.


Caramel yang mendengar perkataan dari Belinda barusan lantas tersenyum dengan simpul, kemudian mulai memakan satu persatu makanan yang di bawa oleh Belinda di nampan tersebut. Seulas senyum terlihat terbit dari raut wajah Belinda ketika melihat Caramel makan dengan lahapnya.


"Anak pintar...." ucap Belinda sambil mengusap puncak kepala Caramel saat itu.


**

__ADS_1


Setelah selesai makan sesuai dengan perkataannya sebelumnya, Belinda mulai membawa Caramel keluar dari Rumahnya. Entah bagaimana Caramel bisa sampai di Rumah ini, namun yang jelas saat ini bukanlah saat yang tepat untuk tanya jawab.


Dengan langkah kaki yang perlahan Belinda menggandeng tangan Caramel, menyusuri satu persatu area Rumahnya menuju ke arah pintu utama.


"Apa kalian tidak bisa menemukannya? Bagaimana mungkin kalian bisa kecolongan ha? Dia hanyalah seorang anak kecil, apa kau pikir dia punya ilmu menghilang?" pekik sebuah suara yang tentu saja sangat di kenal oleh Belinda saat itu.


Mendengar suara Kafin yang semakin mendekat saat itu tentu saja membuat Belinda mulai khawatir, takut jika Kafin menemukan keduanya saat ini. Ditariknya tangan Caramel saat itu untuk masuk ke sebuah ruangan yang seharusnya menjadi ruangan kamar tamu yang kosong.


Criet....


Sebuah suara pintu yang tertutup membuat langkah kaki Kafin saat itu langsung terhenti dengan seketika. Ia bahkan sungguh yakin jika ia mendengarnya barusan di sana, namun ketika ia menatap ke arah sumber suara tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya.


"Kami benar-benar minta maaf Tuan..." ucap sebuah suara di seberang sana.


"Aku tidak mau tahu kalian harus menemukannya sebelum gelap, jika sampai kalian gagal.. Aku pastikan jika kalian akan menanggung resikonya!" ucap Kafin kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana.


Kafin yang tidak mendapati sesuatu di sana pada akhirnya memutuskan untuk berlalu pergi dari sana dan kembali mencari Caramel.


***


Di area dalam ruangan yang dimasuki Belinda dan juga Caramel, terlihat Belinda begitu serius mencoba mendengar suara di luar sana. Belinda bahkan sampai menempelkan telinganya ke arah pintu, berharap dengan begitu ia bisa memastikan apakah Kafin masih di luar atau tidak.


Beberapa menit menempelkan telinganya di pintu ruangan kamar tersebut, Belinda yang yakin jika Kafin sudah berlalu pergi dari hadapan sana lantas mulai bernapas dengan lega.


"Sepertinya Papa sudah tidak ada di luar, sebaiknya kita segera pergi sekarang!" ucap Belinda sambil berusaha menggapai Caramel di belakangnya.


Hanya saja Belinda yang terus berusaha untuk menggapai Caramel saat itu, merasakan jika Caramel sudah tidak berada di belakangnya saat ini.


"Mel.. Caramel..." ucap Belinda sambil mulai berputar untuk mencari keberadaan Caramel di sana.


"Mama!" pekik Caramel dengan tiba-tiba yang lantas mengejutkan Belinda saat itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2