
Naira pov
"Ce, gw mau ke perpus ya, lagi males ke kantin gw mau ke perpus aja mau ngadem, wkwk."
"Ohh, oke oke. Gw laper banget, nanti kalo makanannya udah abis gw nyusul dehh ke perpus" Kata temanku yang satu ini sambil bergegas menuju kantin.
Sebenernya, gw cuma alesan buat ngadem. Gw emang lagi gaada mood buat makan aja. Tapi, nanti si Cece bawelnya keluar lagi nanya-nanyain gw kenapa. maap ya ce, wkwk
Gw berdiri diantara lemari-lemari yang berisi ratusan buku. Buku-buku ini tidak semuanya tersusun rapi, banyak juga yang tidak berada pada tempatnya. Entahlah, mungkin petugas perpusnya masih belum punya waktu untuk merapikan semua buku ini.
Kuambil satu buku yang cukup menarik perhatianku "Sinopsis Skizofrenia". Entahlah, gw gatau apa itu Skizofrenia tapi gw tertarik sama cover bukunya. Gw mulai duduk di salah satu kursi dan mulai membaca apa itu Skizofrenia, dan gejala-gejalanya.
"Kamu harus merapikan semua buku yang ada di dalam perpustakaan" Bentak salah satu guru.
"Pak, tapi kan.." Potong suara pria yang sepertinya ku kenal, tapi entahlah.
"Gaada tapi-tapian. Cepat!"
Kudengar pria itu menghembuskan nafas pasrah. Dia membuka pintu perpustakan. Huh, kali ini gw yang kesal. Dia Varo. Kenapa gw harus ketemu dia terus sih. Yaudahlah.
Ku fokuskan pandanganku kembali ke buku itu. Kulirik sesekali pria yang sedang merapikan buku dengan muka kusut.
10 menit berlalu, tak ada saling sapa antara gw dan dia. Mungkin, dia belum sadar kalo gw ada disini.
__ADS_1
"Belajar tros, pinter kaga g*bl*k iya." Akhirnya dia buka suara. haha
Varo duduk disamping gw, sambil mengangkat buku yang gw baca dengan tujuan melihat judul di cover buku itu.
"Skizofrenia? apaan itu?" Tanyanya
"Makanya, belajar" Ujarku dengan tatapan sinis.
"Cita-cita lo ketinggian, buat apasih"
"Kalau orang-orang bilang mimpi gw terlalu besar, gw bilang pikiran mereka yang terlalu kecil" Ucapku dengan tatapan sinis.
"Wah-wah, quotes darimana lu, keren amat." Ucap Varo sambil menggeser badannya sedikit mendekat kepadaku.
"Apaansi ganggu banget ah, sono cari buku, baca jg" Ucapku sambil berdiri pindah tempat berjarak sekitar 3 meter dari tempat awalku.
Begitu Cece masuk, dia langsung memfokuskan pandangannya ke Varo. Yaiyalah heran, soalnya di dalam perpus cuma ada gw, Varo, sama penjaga perpusnya.
"Lohh, lu ngapain disini?" Tanya Cece kebingungan sambil menatap Varo.
"Jualan bakso" Varo kemudian pergi meninggalkan perpus.
"Lahh ngape si tuh anak. Nai, dia tdi ngapain disini?" Kali ini, Cece bertanya kepadaku dengan wajah kebingungan.
__ADS_1
"Jualan sendal" kali ini gw jawab sambil jalan ke rak buku. Gw mau ngembaliin buku yang gw baca tadi.
"Naii, serius ah, ini gw nanya beneran."
"Udah ah, ayo" Gw narik tangan Cece keluar dari perpus.
"Nai, tau ga. Kak Gara udah masuk sekolah loh" Cerita Cece excited.
"Ohya? bagus deh"
"Tadi gw ketemu di kantin tauu. Sumpah seneng banget, dia nyapa gw duluan tau." Pekik Cece dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya."
"Seneng banget lu disapa kak Gara duluan"
"Yaiyalah, kan gw ganteng" Tiba² saja kak Gara ada di samping kita berdua.
Author pov
Naira grogi dan Cece malu. Itulah suasana yang terjadi sekarang. Sedangkan Gara? tertawa puasa katena melihat ekspresi Naira dan Cece yang bisa dibikang sangat akward.
"Udah ye, gausah khayalin orang ganteng, gw ke kelas duluan. Bye" Ucap Gara santai sambil meninggalkan mereka berdua.
"Ah, lu sih Nai, kan jadi malu gw" Ucap Cece menyalahkan Nai.
__ADS_1
"Lah, kan elu yang mulai topik tentang kak Gara" Ucap Naira tak terima.
"Au ah" Ucap Naira dan Cece bersamaan