
Di sebuah kawasan yang terletak di daerah puncak, dari arah tengah terlihat Rafi tengah melangkahkan kakinya mendekat ke sebuah ruangan yang terletak tak jauh dari ruang tengah.
Diketuknya pintu ruangan tersebut beberapa kali, sampai kemudian sebuah suara yang mempersilahkannya masuk ke dalam, lantas membawanya masuk secara perlahan ke dalam ruangan tersebut.
"Ada apa?" ucap sebuah suara di balik kursi goyang yang terletak di sudut ruangan dan menghadap ke arah pemandangan area perbukitan.
"Dia sudah sadar Tuan, apakah anda ingin melihatnya secara langsung?" ucap Rafi melaporkannya kepada Alex, dimana ia nampak mulai terlihat tersenyum sambil menatap ke arah dinding kaca di hadapannya itu.
Entah apa yang ada dipikiran Pria itu hingga memutuskan untuk menculik Alice di tengah gempuran pemilu dirinya. Hanya saja dalam pikiran Alex saat itu, melihat Alice yang semakin terlihat begitu mirip dengan Bianca membuatnya tidak bisa menahan dirinya. Lagi pula permasalahan yang ia hadapi tidak sampai hanya sebatas itu saja.
Berada di dekat Alice tentu tidaklah mungkin, apalagi berbicara secara baik-baik dengannya. Bukankah dengan melakukan hal ini setidaknya Kafin akan datang dan melakukan penawaran? Sampai pada akhirnya membuat Alex memilih jalan ini dan membawa Alice hingga sampai ke tempat ini.
"Tentu saja, bukankah sangat sayang jika aku tidak menyapanya bukan? Lagi pula Bianca ku pasti tengah kebingungan saat ini." ucap Alex sambil bangkit dari tempat duduknya saat itu.
Sedangkan Raffi yang mendengar nama Bianca keluar dari mulut Alex saat itu, tentu saja langsung mengernyit dengan raut wajah yang bingung. Nama yang disebutkan oleh Alex barusan jelas-jelas adalah salah, entah apa yang tengah dipikirkan oleh tuannya itu. Namun yang jelas sebagai bawahan, Raffi hanya bisa menjalankan tugas tanpa bisa bertanya lebih lanjut.
Alex terlihat mulai membawa langkah kakinya secara perlahan menuju ke arah Rafi saat itu, membuat Rafi terdiam di tempatnya sambil bersiap menerima tugas selanjutnya.
"Aku harap kau tidak melakukan kesalahan kemarin, kau tahu bukan bagaimana karakter Kafin dan juga Ashraf? Dua pemuda itu tidak akan melepaskan mu jika kamu mengganggu kawasan mereka berdua." ucap Alex sambil menepuk bahu Rafi, sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Rafi yang nampak langsung menelan salivanya dengan kasar begitu mendengar perkataan dari Alex barusan.
"Mati aku jika sampai aku meninggalkan jejak kemarin, sepertinya aku belum menghapus rekaman kamera pengawas di area kamar mandi mall. Arg mengapa aku bisa lupa?" ucap Rafi tepat setelah kepergian Alex barusan dari ruangan tersebut.
**
Di sebuah ruang kamar
__ADS_1
"Ap..a apaan ini..?" ucap Alice sambil berusaha untuk menarik kedua sisi tangannya dan bangkit, hanya saja sekeras apapun Alice mencoba tetap saja ia tidak berhasil sama sekali.
Sampai kemudian sebuah suara yang mendadak terdengar di kegelapan ruangan tersebut, lantas menghentikan gerakan Alice dengan seketika.
"Kamu sudah bangun rupanya?" ucap sebuah suara tak asing yang lantas membuat Alice langsung menghentikan gerakan tangannya dengan seketika.
Cetak...
Tepat setelah suara itu terdengar, lampu di ruangan kamar tersebut menyala dengan sempurna. Alice yang bisa melihat dengan jelas siapa dibalik suara tersebut, tampak langsung menatap tajam ke arah depan. Alice jelas tahu sosok yang mendekat ke arahnya adalah Alex, seseorang yang sama sekali tidak pernah ingin ia temui di manapun Alice berada.
"Kau! Apa yang kau lakukan padaku? Tidakkah kau takut jika sampai kau gagal dalam pemilu tahun ini?" ucap Alice dengan manik mata yang kesal menatap ke arah Alex saat itu.
Alex yang mendengar perkataan dari Alice barusan terlihat tersenyum dengan tipis, wanita yang saat ini berada di genggaman tangannya itu benar-benar membuatnya semakin bergairah.
"Entah mengapa melihat mu marah seperti ini, benar-benar membuat ku bergairah. Kamu tahu seperti ini lah Bianca ku dulu, aku yakin jika kamu adalah Bianca!" ucap Alex sambil meletakkan pantatnya pada kasur berukuran king size tersebut.
Alex yang mendapat perlakuan tersebut dari Alice, hanya tertawa dengan kecil kemudian kembali menatap wajah Alice dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Ayolah ini sama sekali tidak seru jika kamu hanya diam seperti itu, katakanlah sesuatu Bi..." ucap Alex sambil mencoba untuk mengarahkan wajah Alice kepadanya.
"Sudah ku bilang aku bukan Bianca! Apa kau seorang psiko gila yang terobsesi dengan Bianca? Jangan membuat ku tertawa karena tingkah konyol mu itu, aku yakin sebentar lagi.." ucap Alice namun terhenti tepat ketika Alex mencengkram area dagunya dengan kuat.
"Sebentar lagi apa? Apakah pahlawan mu akan datang? Coba tebak... Mana yang lebih dulu muncul? Calon suami mu itu atau malah... Kafin!" ucap Alex sambil menghempaskan dagu Alice begitu saja.
Manik mata Alice melebar dengan seketika di saat Alex menyebutkan nama Kafin barusan, membuat Alex lantas mendengus dengan kesal karenanya.
__ADS_1
"Jangan melucu, Kafin katamu? Apa hubungan ku dengannya, hingga ia harus datang ketika aku berada dan menjadi tawanan mu ha?" ucap Alice dengan tersenyum tipis.
Mendengar hal tersebut Alex bangkit dari tempatnya dan berganti memunggungi Alice. Ia sebenarnya juga tidak yakin jika Kafin akan datang ke tempat ini. Hanya saja ia benar-benar terpaksa harus melakukan hal ini untuk memancingnya keluar.
"Sial, jika sampai Kafin tidak muncul.. Tentu aku tidak bisa melakukan penukaran bukan? Arg benar-benar menyebalkan." ucap Alex yang mulai gelisah setelah mendengar perkataan dari Alice barusan.
Sebenarnya menculik Alice di tengah-tengah gempuran pemilu benar-benar sangat beresiko. Hanya saja tuntutan dari orang tua Cicil karena pertengkaran yang terjadi di antara Alex dan juga Cicil saat itu, membuat Alex mau tidak mau pada akhirnya memilih jalan ini.
**
Flashback on
Brak...
Suara beberapa dokumen yang terlempar dan berantakan di atas meja, lantas membuat Alex mendengus dengan kesal. Darmawangsa nampak begitu murka ketika mengetahui jika proyek taman terbuka hijau yang harusnya di dapatkan oleh perusahaan yang difokuskan untuk sosial milik Alex, harus jatuh ke tangan AK Company.
Pemerintah yang lebih melihat keuntungan dari proyek itu lewat AK Company, pada akhirnya memutuskan untuk menyerahkan proyek tersebut kepada AK Company daripada SJ Company.
"Bagaimana bisa kamu melakukan hal ini saja tidak becus ha? Jika cucu ku tidak mengatakan sesuatu tentang kau yang selalu terobsesi dengan Kafin ataupun istrinya, aku yakin perusahaan besar seperti AK Company tidak akan mau menerima proyek sosial seperti ini. Bisakah kau tidak mengacaukan segalanya ha? Apapun yang terjadi aku mau kau merebut kembali proyek itu! Entah kau harus bersujud atau bahkan bersimpuh di kakinya!" pekik Darmawangsa dengan nada yang terdengar begitu kesal.
Flashback off
**
"Sial, apa yang harus ku lakukan?"
__ADS_1
Bersambung