
"Apa Alta membaca pesan singkat di ponsel Bunda?" ucap Alice yang curiga jika Altair melakukan hal tersebut.
Waktu dan tempat dimana Altair juga Belinda berada saat itu, benar-benar membuat Alice curiga karenanya. Dan sekarang kecurigaannya tersebut malah di dukung dengan tatapan memelas dari Altair yang menatap ke arahnya saat ini. Seakan mengatakan jika semua tuduhan dari Alice barusan benar adanya.
Helaan napas bahkan terdengar berhembus dengan kasar dari mulut Alice saat itu, dimana ketika Alice mendapati jika memang prediksinya benar tentang Altair yang membaca pesan singkat di ponselnya saat itu.
Tingkah keduanya yang begitu aneh membuat Kafin yang sama sekali tidak tahu akan duduk dari permasalahan yang mereka bicarakan, lantas langsung menatap keduanya dengan tatapan yang mengernyit secara bergantian seakan mencoba untuk mencernanya satu persatu.
"Alta minta maaf Bunda... Alta benar-benar mengaku salahkan akan hal itu. Alta hanya takut jika Bunda dan juga dia melakukan sesuatu hal yang lain dan meninggalkan kami..." ucap Altair dengan nada yang terdengar sendu, membuat Kafin kian mengernyit ketika mendengar jawaban dari Alta barusan.
"Tunggu sebentar, sebenarnya pesan singkat apa yang tengah kalian berdua bicarakan sedari tadi?" ucap Kafin kemudian yang lantas membuat Alice, Altair dan juga Belinda menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
Mendengar pertanyaan dari Kafin barusan, tentu saja membuat Alice terkejut dengan seketika karena ia tidak menyadari jika dirinya baru saja keceplosan dalam berbicara.
"Anak-anak sebaiknya kalian naik ke atas dulu dan ganti baju kalian, jangan lupa untuk cuci tangan dan cuci kaki kalian!" ucap Alice kemudian yang lantas mau tidak mau membuat Altair dan juga Belinda terlihat mulai bangkit dari tempat duduknya.
Setelah kepergian Altair dan juga Belinda dari hadapan keduanya, lantas langsung membuat Kafin menarik tangan Alice saat itu. Ditatapnya manik mata Alice dalam-dalam seakan menunggu jawaban akan pertanyaannya sedari tadi yang tak kunjung di jawab oleh Alice sedari tadi.
"Katakan kepada ku, ada apa sebenarnya Al?" ucap Kafin yang tidak lagi sabar menunggu jawaban dari Alice saat ini.
__ADS_1
"Baik, aku minta maaf jika tidak pernah mengatakan apapun kepadamu. Aku datang ke sana untuk bertemu dengan Ashraf, ada beberapa hal yang harus aku luruskan dengannya dan aku..." ucap Alice berusaha untuk meluruskan segalanya, namun malah di potong oleh Kafin yang mendadak marah ketika mendengar perkataan dari Alice barusan.
"Atas dasar apa kamu menemui dirinya di sana? Mengapa kamu tidak mengatakan apapun kepadaku Al? Apa kamu pikir aku menyetujuinya?" pekik Kafin dengan kilatan penuh amarah, yang tentu saja membuat Alice terkejut seketika begitu mendengar perkataan dari Kafin barusan.
"Ada apa sebenarnya dengan mu Kaf, aku bahkan sudah minta maaf kepadamu barusan bukan? Apakah perlu kamu sampai berteriak seperti ini? Lagi pula tidak ada yang terjadi antara aku dan juga Ashraf di sana! Aku datang untuk menjelaskan batasan kita berdua, tapi kau... Kamu marah untuk sesuatu hal yang kamu sendiri tidak tahu balasannya?" ucap Alice dengan nada yang ikut meninggi.
Mendengar perkataan Kafin yang menuduhnya tidak-tidak serta terus berteriak seakan marah tanpa sesuatu alasan yang jelas, lantas membuat Alice langsung menatap ke arah Kafin dengan tatapan yang tajam. Kafin benar-benar sudah keterlaluan saat ini, Kafin bahkan tidak ingin mendengar penjelasannya saat ini yang malah mengedepankan segala emosinya.
"Sudah cukup ya Kaf, kamu keterlaluan saat ini. Ketika aku mengatakan kepada Ashraf jika aku mempercayai suami ku. Namun ketika aku mendapati tingkah laku mu saat ini, aku menjadi semakin curiga dan kembali memikirkan segala perkataan Ashraf tentang mu!" ucap Alice kemudian dengan nada penuh penekanan sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana.
***
Di ruangannya terlihat Alex tengah memijat pelipisnya dengan perlahan ketika mendapati begitu banyak laporan dan juga berkas yang tertumpuk di mejanya saat itu. Setelah pemutusan kerja sama dengannya oleh Kafin beberapa hari yang lalu, perusahaannya benar-benar kacau dan tidak bisa di kendalikan.
Alex benar-benar tidak mempunyai celah untuk bergerak dan memperbaiki segalanya, membuatnya menjadi kesal ketika mendapati lagi dan lagi ia harus kalah dengan seorang Kafin.
"Arg benar-benar menyebalkan... Aku benar-benar membenci hal ini!" pekik Alex sambil melempar laporan yang berada di tangannya saat itu.
Disaat Alex tengah frustasi akan apa yang sedang terjadi, sebuah deringan ponsel miliknya lantas membuyarkan segala lamunannya saat itu.
__ADS_1
"Apa lagi yang dia inginkan sebenarnya? Kerjaannya hanya menambah kepala ku semakin terasa berat saja! Tidak ada yang benar-benar bisa ia lakukan selain hanya menjadi anak ketua Dewan. Benar-benar tidak menguntungkan sama sekali!" ucap Alex dengan kesal ketika melihat nama Cicil tertera dengan jelas di layar ponsel miliknya.
Alex yang sama sekali tidak ingin berbicara dengan Cicil saat ini, lantas terlihat menggeser ponselnya begitu saja di meja dan mengambil posisi berkacak pinggang menatap ke arah dinding bercat warna putih pada ruangannya saat itu.
Di saat Alex sedang berusaha ingin mengacuhkan panggilan tersebut, sayangnya lagi dan lagi ponsel miliknya kembali berdering dan membuatnya berdecak dengan kesal. Diambilnya ponsel tersebut dengan kasar kemudian mulai menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Sebenarnya mau mu itu apa sih ha? Tidak bisakah kau memberikan ku ruang untuk lepas dari cengkraman mu barang sejenak saja? Berhenti terus menelpon ku saat ini! Jika perlu selamanya menghilang lah!" pekik Alex dengan nada yang kesal tepat ketika sambungan telponnya terhubung saat itu.
"Aku tahu kamu marah kepada ku dan menganggap ku tidak berguna, tapi setelah kamu mendengar perkataan ku sebentar lagi. Aku yakin kamu pasti akan langsung menarik ucapan mu barusan tentang ku!" ucap Cicil dengan nada yang terdengar begitu santai.
Mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Cicil, lantas membuat Alex langsung mengernyit dengan seketika. Alex jelas tahu jika saat ini Cicil pasti sedang mencoba untuk memancingnya, itulah sebabnya ia mengatakan hal yang terdengar ambigu seperti ini.
"Jangan bercanda dengan ku karena aku tidak punya waktu untuk bercanda sama sekali saat ini. Jika kau ingin bermain-main, sebaiknya lakukan saja bersama dengan Tia karena aku sama sekali tidak minat dengan permainan mu itu!" ucap Alex dengan nada yang ketus, membuat seulas senyuman sinis terlukis di wajah Cicil saat itu yang tentu saja tidak akan bisa di lihat oleh Alex saat itu.
"Baiklah, sayang sekali kamu tidak berminat padahal aku ingin memberitahukan kepadamu jika ada seorang gadis yang berwajah sama percis dengan Bianca!" ucap Cicil yang sengaja memancing Alex saat itu.
"Apa katamu!" pekik Alex barusan yang terkejut ketika mendengar perkataan dari Cicil barusan.
Bersambung
__ADS_1