
Keesokan harinya di area meja makan
Hari ini hujan turun membasahi bumi, gemericik air terdengar begitu menyejukkan hati setiap insan di muka bumi ini. Dengan raut wajah yang gembira Alice mulai menata satu persatu hidangan di meja makan, membuat Altair dan juga Belinda nampak aneh melihat ekspresi raut wajah Alice saat ini.
"Bunda keramas lagi? Bukankah kemarin Bunda baru melakukannya?" celetuk Belinda yang lantas menghentikan gerakan Alice dengan seketika.
Mendapat pertanyaan tersebut, lantas langsung membuat raut wajah Alice berubah seketika. Alice bahkan benar-benar bingung ketika harus menjelaskan alasan mengapa ia harus keramas lagi saat ini.
"Apa yang harus aku jawab? Tidak mungkin bukan? Jika aku mengatakan semalam aku dan Kafin telah melakukan hubungan suami istri. Mana bisa aku meracuni pikiran polos mereka dengan hal itu?" ucap Alice terdiam dengan kikuk, membuat Belinda semakin penasaran karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Alice saat ini.
"Jangan terlalu sering keramas Bun karena itu bisa merusak akar rambut." jawab Altair dengan nada yang datar sambil mulai membuka piring di hadapannya.
"Oh ya? Benarkah? Jika begitu Bunda akan mengatakan kepada Ayah kalian agar tidak melakukannya setiap hari." ucap Alice yang tanpa sadar malah mengatakan sesuatu hal yang membuat Altair dan juga Belinda kebingungan.
"Apa hubungannya keramas dengan Ayah? Mengapa Bunda malah melarang Ayah?" ucap Belinda lagi yang lantas membuat Alice langsung menelan salivanya dengan kasar.
Di saat Alice tengah bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada Belinda dan juga Altair. Sebuah suara yang berasal dari arah anak tangga, lantas langsung membuat ketiganya menoleh dengan seketika ke arah sumber suara. Setidaknya dengan hal itu Alice menjadi terselamatkan dan tak perlu menjawab pertanyaan dari keduanya.
"Apakah ada sesuatu? Mengapa Ayah mendengar kalian membicarakan Ayah?" ucap Kafin yang terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan dan mengambil duduk di sana, bersiap untuk ikut sarapan pagi.
"Em tidak ada..." ucap Alice menengahi sambil mengambil piring Kafin dan mengisinya dengan nasi dan berbagai jenis lauk yang tersedia di meja makan.
"Benarkah?" ucap Kafin tak langsung percaya.
"Ada Ayah, mengapa Bunda selalu keramas belakangan ini. Apakah..." ucap Belinda namun terpotong oleh Alice saat itu.
"Apakah Abel sudah mempersiapkan baju ganti? Bukankah nanti ada ekskul tari?" ucap Alice kemudian.
"Belum Bun..." ucap Belinda ketika ia baru mengingat akan hal tersebut.
__ADS_1
"Jika sudah sarapan, ayo Bunda bantu mempersiapkannya." ajak Alice kemudian yang lantas membuat Belinda mengangguk tanda mengerti.
Setelah menyelesaikan sarapannya Belinda kemudian turun dari kursi dan mulai melangkahkan kakinya bersama dengan Alice menuju ke arah kamarnya.
Kafin yang melihat kepergian Belinda dan juga Alice menuju ke arah kamar, lantas langsung meletakkan sendok dan garpunya di piring. Membuat Altair yang mendengar dentingan sendok dan garpu milik Kafin di letakkan barusan, lantas langsung menoleh dengan seketika ke arah Kafin saat itu.
"Apa kamu sungguh ingin ikut pertandingan tersebut?" ucap Kafin kemudian yang lantas membuat Altair langsung mengernyit begitu mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulut Kafin barusan.
"Jika Ayah tidak menginginkannya aku tidak akan ikut, lagi pula nanti aku berencana untuk mengatakannya kepada Miss jika aku tidak bisa bergabung." ucap Altair dengan nada yang datar, namun malah membuat Kafin kecewa karena mengira jika Altair menyerah begitu saja untuk membujuknya.
Altair yang melihat raut wajah kecewa yang ditunjukkan oleh Kafin tentu saja langsung mengernyit, seakan bertanya-tanya apa yang membuat Kafin seperti itu.
"Jadi kamu ingin menyerah sebelum bertanding? Sayang sekali..." ucap Kafin dengan nada yang mendengus kesal, namun berhasil membuat Altair bingung karenanya.
"Apa maksud Ayah? Bukankah Ayah tidak menyukainya? Jadi..." ucap Altair namun terpotong akan perkataan Kafin barusan.
"Jadi jika Ayah menyuruh mu untuk masuk ke dalam sumur, apa kamu juga akan melakukannya untuk Ayah?" ucap Kafin dengan nada yang terdengar santai.
"Sayang sekali kamu sudah menyerah padahal Ayah sudah berubah pikiran..." ucap Kafin sambil menyerut kopi di cangkirnya.
"Tunggu dulu.. Apakah Ayah benar-benar mengijinkannya? Benarkah? Tapi bagaimana bisa?" ucap Altair dengan raut wajah yang sumringah.
"Tentu.. Berterima kasihlah kepada Bunda mu yang telah berhasil membujuk Ayah, Ayah harap kamu tidak menyianyiakan kesempatan yang Ayah berikan kepadamu." ucap Kafin kemudian sambil mengusap rambut Altair dengan lembut saat itu.
"Pasti Ayah.. Terima kasih banyak karena telah percaya kepada ku..." ucap Altair kemudian dengan senyuman yang lebar.
***
Sore harinya
__ADS_1
Seperti perkataan dari Kafin semalam, saat ini Alice terlihat tengah bersiap untuk pergi ke event perusahaan. Ditatapnya dirinya pada sebuah stand mirror yang berdiri tepat di hadapannya.
"Apakah gaun ini cocok untuk ke event kali ini? Aku bahkan tidak tahu apakah event ini bersifat formal atau bebas, bagaimana jika aku salah kostum nantinya?" ucap Alice dengan raut wajah yang cemberut.
Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari pintu masuk kamarnya, lantas membuat Alice langsung menoleh ke arah sumber suara saat itu.
"Apakah kamu sudah siap? Mengapa raut wajah mu cemberut begitu?" ucap Kafin yang berhenti tepat di belakang Alice saat itu.
"Sebenarnya apa tema dari event tersebut, mengapa aku merasa tidak terlalu cocok memakai gaun ini? Apa aku ganti saja ya?" ucap Alice sambil menatap dirinya di cermin.
"Tidak perlu mengkhawatirkan tentang tema, jadilah diri sendiri karena kamu cantik apa adanya." ucap Kafin dengan nada yang berbisik sambil kemudian mencium area pundak Alice yang terekspos saat itu.
"Ah kamu mah selalu saja begitu, jangan menggoda ku terus." ucap Alice sambil mendengus dengan kesal.
"Maaf.. Maaf.. Aku terlalu terbawa suasana, sebaiknya kita berangkat sekarang sebelum nanti pestanya aka berakhir karena kamu terlalu lama berdandan." ucap Kafin kemudian kembali menggoda Alice saat itu, yang lantas membuat Kafin langsung memperoleh tatapan tajam dari Alice.
"Kafinnnnnn" panggil Alice dengan nada yang memanjang begitu mendengar perkataan dari Kafin barusan.
***
Ballroom hotel
Event kali ini ternyata di adakan dalam jangkauan yang luas. Tidak hanya dalam negeri, bahkan beberapa pengusaha dari luar negeri terlihat menghadiri event tahunan kali ini.
Malam ini sepertinya Kafin yang menjadi sorotan utama dalam event ini, bagaimana tidak? Tepat ketika Kafin dan juga Alice datang, beberapa pebisnis yang sama sekali tidak Alice kenali nampak mendekat dan mengajak keduanya berbicara. Baik seputar bisnis Kafin maupun berbagai hal yang lainnya.
Ketika keduanya tengah sibuk menanggapi pembicaraan beberapa rekan bisnis Kafin. Dari arah tak jauh dari tempat keduanya berada, terlihat seorang pria dengan setelan jas rapi nampak menatap intens ke arah keduanya saat itu.
"Bukankah dia Alice? Bagaimana mungkin setelah menghilang selama berbulan-bulan, ia malah muncul di sini." ucap Pria itu sambil berusaha mempertajam penglihatannya.
__ADS_1
Bersambung