Move

Move
Dia dan Bianca adalah sama!


__ADS_3

"Siapa yang sebenarnya kamu cari Kaf?" ucap sebuah suara yang tentu saja langsung mengejutkan Kafin dengan seketika.


"Mama!" pekik Kafin.


Kafin benar-benar terkejut ketika mendapati kehadiran Kiran di Rumahnya. Entah apa yang membuat Kiran datang kemari, namun yang jelas apapun alasannya akan sangat gawat jika sampai Kiran bertemu dengan Alice saat itu.


"Gawat, jika sampai Mama tahu ada yang mirip Bianca di Rumah ini.. Sudah pasti ia akan mempertanyakan segalanya dan aku yakin semua masalah akan kian menjadi rumit." ucap Kafin dalam hati dengan raut wajah yang gelisah.


Kafin yang sadar jika situasinya sedang tidak baik saat ini, lantas terlihat mengedarkan pandangannya ke area sekitar seakan mencoba untuk mencari keberadaan Alice di sekitaran.


"Apakah kamu sedang mencari Alice?" ucap Kiran yang seakan tahu jika Kafin saat ini tengah mencari keberadaan Alice.


Kafin yang mendengar hal tersebut tentu saja terkejut bukan main. Ia bahkan sampai menatap tidak percaya kepada Kiran ketika nama Alice keluar dari mulutnya begitu saja.


"Ba...bagaimana Mama tahu tentang Alice?" ucap Kafin dengan raut wajah yang penasaran.


Hening sesaat tepat setelah pertanyaan tersebut terdengar di telinganya. Sampai kemudian sebuah suara yang begitu Kafin kenal terdengar menggema di telinganya. Kafin yang seakan tidak percaya akan nada suara tersebut, tentu saja langsung menatap ke arah sumber suara dengan raut wajah yang terkejut.


"Apa kamu mencari ku?" ucap Alice sambil melangkahkan kakinya menuruni satu persatu anak tangga mendekat ke arah dimana Kafin berada.

__ADS_1


"Al kamu..." ucap Kafin yang tersentak akan perubahan sikap yang di tunjukkan oleh Alice saat ini.


"Iya Kaf, semua pemikiran yang ada di kepala mu itu benar. Aku Alice dan bukan Bianca, hanya itu yang ingin aku tekankan kepada dirimu. Dan sekedar informasi aku lah yang membawa tante Kiran kemari agar membuat mu sadar jika apa yang sudah kamu lakukan kepadaku tidaklah adil." ucap Alice dengan nada yang terdengar datar, namun berhasil membuat Kafin terkejut karenanya.


Bagai jatuh dan tertimpa tangga, mungkin pribahasa itu yang saat ini cocok untuk seorang Kafin. Belum habis keterkejutannya akan kehadiran Kiran di kediamannya saat ini, perkataan Alice yang seakan mengisyaratkan jika ia telah mengingat segalanya. Lantas membuat Kafin berkali-kali lipat terkejut karenanya.


Mulut Kafin saat itu benar-benar langsung terkunci dengan seketika. Kafin bahkan tidak tahu lagi harus mengatakan hal apa kepada Alice maupun kepada Kiran saat ini, ia benar-benar tersudut oleh kedua orang yang saat ini tengah berdiri dan menatap ke arahnya dengan tatapan yang tajam.


"Al kamu sudah mengingat segalanya?" ucap Kafin kemudian dengan tatapan yang penuh tanda tanya, seakan mencoba untuk memastikannya sekali lagi.


Meski Kafin sudah tentu tahu apa jawaban dari pertanyaannya barusan, namun Kafin tetap saja masih ingin memastikan segalanya. Seakan seperti mencoba mencari secercah sinar harapan untuknya dan juga untuk anak-anaknya.


"Tentu, tidak hanya sebagian bahkan seluruhnya. Apa kamu ingin memberiku sebuah tes agar kamu yakin akan perkataan ku? Aku sudah benar-benar lelah terus kamu bohongi dan juga permainkan selama ini. Aku ingin kembali ke kehidupan normal ku, jadi aku harap kamu tidak melarang ku untuk hal ini." ucap Alice kemudian yang tentu saja langsung merubah raut wajah Kafin saat itu.


Entah apa yang akan terjadi pada dirinya maupun pada anak-anaknya, jika sampai melihat kepergian Alice dari kehidupan mereka semua.


"Aku mohon pikirkanlah sekali lagi Al, jika kamu pergi... Bagaimana denganku dan juga anak-anak? Apakah kamu tidak kasihan sama sekali kepadaku dan juga mereka? Meski aku telah membohongimu selama ini akan segala hal, tapi perasaan sayang kami kepada dirimu bukanlah sebuah kebohongan jadi aku mohon pikirkanlah sekali lagi Al." ucap Kafin berusaha untuk membujuk Alice agar tidak berlalu pergi dari kehidupan mereka.


Namun Alice yang sudah sepenuhnya sakit hati akan tingkah laku Kafin selama ini yang terus-menerus menyebutnya dengan nama Bianca, lantas membuat Alice mulai mencoba untuk mengambil tangan Kafin dan mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan Kafin di tangannya saat itu.

__ADS_1


"Jangan halangi aku Kaf..." ucap Alice yang lantas membuat Kafin langsung menggeleng dengan keras.


"Tidak! Tidak akan pernah ku biarkan hal tersebut terjadi!" pekik Kafin seakan sama sekali tidak ingin di bantah.


Sedangkan Kiran yang melihat segala hal yang terjadi di antara keduanya, lantas langsung mencoba untuk berbicara bersama dengan Kafin. Ia tahu dan bahkan jelas-jelas tahu, jika Kafin tidak bisa merelakan Bianca begitu saja sama seperti dirinya.


Begitu melihat ada seseorang yang berwajah mirip dengan Bianca, tentu saja akan membuatnya langsung berpikir sekaligus berharap jika Bianca kembali seperti semula. Namun sayangnya apa yang dilakukan oleh Kafin tentu saja salah dan tidak dapat di benarkan.


"Biarkan dia pergi Kaf... Biarkan dia kembali ke kehidupannya yang normal." ucap Kiran kemudian yang langsung membuat Kafin menoleh ke arah sumber suara.


"Berhenti mengatur ku Ma, Mama sama sekali tidak berhak akan hal ini. Aku mempunyai hak untuk menentukan apa pilihanku dan saat ini aku memilih untuk tetap memastikan Alice berada di sampingku saat ini, esok, maupun hingga ke depannya." ucap Kafin dengan nada penuh penekanan seakan tidak ingin dibantah sama sekali.


"Berhenti Kaf.. Mama mohon, Bianca tidak akan menyukai hal ini. Jadi berhenti terus menciptakan segala kondisi sesuai dengan keinginan mu!" pekik Kiran yang mulai terbawa situasinya.


Kiran merasa jika menantunya kali ini benar-benar sudah kelewatan, apa yang dilakukan oleh Kafin sama sekali tidak bisa ia terima dan maafkan. Lagi pula ketika ia sudah berusaha untuk bangkit dan mencoba untuk melupakan serta merelakan segala hal tentang Bianca.


Entah mendapat ide dari mana, Kafin tiba-tiba membawa seorang wanita yang berwajah mirip dan sama persis dengan Bianca dan berperan seakan-akan ia adalah Bianca. Bukankah hal ini terdengar sangat gila? Membayangkannya saja Kiran sama sekali tidak pernah memikirkan hal tersebut. Bagaimana mungkin Kafin melakukan hal tersebut dengan santainya?


"Mama itu tidak tahu apa-apa! Dia dan Bianca adalah satu orang.. Mereka sama dan juga satu, aku..." ucap Kafin dengan nada yang berteriak, namun terhenti ketika sebuah tamparan keras terdengar menggema di ruangan tersebut.

__ADS_1


Plak


Bersambung


__ADS_2