Move

Move
Mencari sebuah bukti


__ADS_3

Malam harinya di kediaman Ashraf, terlihat Ashraf tengah duduk termenung sambil menatap ke arah jernihnya air di kolam renang area samping Mansionnya. Pikirannya saat ini benar-benar melayang membayangkan percakapannya dengan Alice tadi sore di telepon. Helaan napas bahkan terdengar berhembus dengan kasar dari mulutnya saat itu.


"Apa yang coba kamu lakukan Al? Entah mengapa aku sangat takut jika kamu terus berada bersama dengannya, kamu akan merasa nyaman dan tidak ingin kembali bersama dengan ku lagi." ucap Ashraf sambil menatap lurus ke arah depan.


**


Flashback on


"Aku mengingat semuanya!" ucap Alice dengan tiba-tiba.


Mendengar perkataan dari Alice barusan, tentu saja membuat Asraf langsung terkejut bukan main. Ashraf tidak menyangka jika Alice benar-benar mengatakan hal ini, membuat sebuah senyum terlihat dengan jelas terlukis indah di raut wajahnya saat itu.


"Benarkah Al? Aku sungguh bahagia mendengarnya... Apakah kamu mau aku jemput sekarang juga? Akan aku pastikan bahwa aku memberi peringatan keras kepada Kafin karena telah menyembunyikan mu selama ini. Aku benar-benar merindukan mu Alice..." ucap Ashraf dengan manik mata yang berbinar.


Alice yang mendengar dengan jelas perkataan Ashraf yang akan memberikan pelajaran tegas kepada Kafin, entah mengapa merasakan sesuatu hal yang lain? Seakan Alice benar-benar tidak suka dan juga tidak terima jika Ashraf mengatakan hal tersebut kepadanya.


"Tidak perlu terlalu terburu-buru, aku masih ingin mencari tahu apa tujuan sebenarnya Kafin melakukan hal ini kepadaku. Kamu tahu bukan? Jika aku tidak pernah keluar dari sebuah masalah sebelum masalah tersebut benar-benar telah selesai." ucap Alice kemudian yang lantas membuat raut wajah Ashraf berubah dengan seketika.


"Apa-apaan ini Al, masalah mu sudah selesai tepat setelah kamu mengingat segalanya. Lalu apa lagi yang kamu cari? Jangan membuat penyakit dan segera keluar dari sana bersama dengan ku!" ucap Ashraf yang seakan tidak suka dengan sikap Alice yang selalu seperti ini.


"Aku mohon jangan memaksa ku, terlalu banyak hal yang perlu aku sesuaikan setelah ingatan ku kembali. Masih ada Belinda dan juga Altair yang tentu akan terluka jika tiba-tiba aku pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua. Beri aku waktu untuk berpamitan, setidaknya meski aku bukan Ibu mereka namun aku tidak ingin menoreh luka di hati mereka akan sikap ku yang egois." ucap Alice mulai menjelaskan perasaannya.

__ADS_1


Sedangkan Ashraf yang mendengar perkataan dari Alice barusan, tentu saja langsung memutar bola matanya dengan jengah. Entah mengapa Ashraf merasa bukan hanya Belinda dan juga Altair yang menjadi alasan Alice tidak ingin pergi dari sana. Melainkan sosok seorang Kafin yang selama ini berdiri di sebelahnya sebagai suami gadungannya.


"Benarkah ini semua hanya karena dua anak kembar itu? Atau... Seorang Kafin?" ucap Ashraf sengaja menjeda kalimatnya saat itu.


Mendengar nama Kafin disebut lantas membuat hati Alice sedikit berdenyut, ia bahkan sudah menyerahkan segenap jiwa dan raganya untuk Kafin. Namun nyatanya sebuah kenyataan menampar dirinya dengan kuat dan langsung melemparkannya ke dalam jurang terdalam.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, aku murni menyayangi anak-anak itu jadi ku harap kamu jangan mencampurkan urusan lain di dalamnya." ucap Alice dengan nada yang terdengar begitu dingin, membuat seulas senyuman sinis terlihat jelas di raut wajahnya saat itu yang tentu saja tidak akan terlihat oleh Alice saat ini.


"Baik, aku akan membiarkan mu untuk tetap tinggal di sana. Sampai detik ini aku berusaha bersikap dan juga berpikiran positif tentang mu, aku harap kamu jangan membuat ku kecewa karena aku tidak menerima akhir sebuah penghianatan." ucap Ashraf kemudian memutus sambungan telponnya begitu saja.


Kata-kata terakhir Ashraf benar-benar melukai hatinya, apa lagi yang bisa ia katakan untuk Ashraf. Segalanya sudah berhasil di bawa oleh Kafin termasuk sesuatu yang sudah ia jaga selama bertahun-tahun lamanya.


***


Kediaman Alex


Di ruangannya, Alex nampak menatap kosong ke arah depan. Pikirannya saat ini melayang memikirkan kembali perkataan Cicil yang mengatakan jika ada sosok wanita lain yang mempunyai paras begitu mirip dengan Bianca.


Setelah pertengkarannya dengan Cicil sebelumnya, Alex memaksa Cicil untuk menjawab rasa penasaran dalam dirinya tentang perkataan Cicil sebelumnya di telepon. Meski butuh waktu dan usaha yang keras, namun pada akhirnya Cicil memberikan informasi tersebut kepada dirinya dengan ganti jika pekan depan ia akan mengajak jalan-jalan Tia ke kebun binatang.


Alex yang memang membutuhkan informasi tersebut, tentu saja langsung mengiyakan permintaan Cicil walau ia tidak menginginkannya. Lagi pula hanya mengajak jalan-jalan bukan? Itu bahkan tidak berarti apa-apa dibanding informasi yang akan diberikan oleh Cicil saat ini.

__ADS_1


Alex nampak menghela napasnya dengan kasar, memikirkan segala kemungkinannya seorang diri benar-benar membuat kepalanya sangat pusing. Ditatapnya layar komputer miliknya dimana saat ini memperlihatkan cuplikan vidio dari kecelakaan yang di bicarakan oleh Cicil sebelumnya dengan raut wajah yang serius.


"Bagaimana bisa ada dua orang yang sama persis dalam satu kota? Jika berbeda negara mungkin aku akan mempercayainya. Namun bagaimana bisa?" ucap Alex dengan raut wajah yang serius menatap ke arah layar komputer miliknya.


***


Tengah malam di kediaman Kafin


Setelah memastikan jika Kafin sudah pergi tidur sebelumnya, Alice terlihat mulai mengendap-endap menuju ke ruangan kerja milik Kafin. Alice benar-benar penasaran akan alasan di balik kebohongan Kafin selama ini, membuatnya memutuskan untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya secara diam-diam.


Sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitaran, Alice mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut. Tanpa ingin membuang-buang waktunya lagi Alice terlihat mulai menggeledah area ruangan kerja Kafin tanpa terlewat sedikitpun. Kali ini Alice akan benar-benar pastikan jika ia akan mendapatkan bukti tersebut dimanapun Kafin menyembunyikannya.


"Dimana sebenarnya Kafin menyimpan sesuatu yang berkaitan tentang ku? Mengapa aku tidak bisa menemukannya dimanapun?" ucap Alice sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Alice yang mulai terlihat kesal ketika tidak mendapati apapun, lantas terdiam sejenak sambil menatap ke arah meja kerja Kafin tersebut. Alice benar-benar kesal karena ia tak kunjung menemukan apapun di ruangan kerja Kafin saat itu.


Sampai kemudian pandangan mata Alice lantas terhenti dengan seketika, disaat ia melihat sebuah foto dirinya yang sedang tersenyum dengan simpul tepat di sebelah foto Altair dan juga Belinda. Sebuah tulisan memancing rasa penasaran dalam dirinya saat itu.


"Bianca I love you?" ucap Alice dengan raut wajah mengernyit begitu mendapati nama Bianca tertulis di pojok sebelah kiri fotonya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2