
Belinda yang berusaha sebisa mungkin memanfaatkan peluang yang di buat oleh Alice saat ini, lantas perlahan-lahan mulai bergerak menuju ke arah pintu dan pergi dari tempat itu.
Digendongnya tubuh gembul milik Caramel saat itu, meski sedikit berat namun Belinda berusaha untuk bergerak secepat mungkin berlalu pergi dari sana.
Sedangkan Caramel yang melihat pintu kamar tersebut kian jauh dari pandangannya, lantas mulai menatap sendu ke arah pintu kamar saat itu. Ada sedikit perasaan takut dalam diri gadis kecil tersebut ketika mendapati perlakuan Kafin kepada Alice sedari tadi, membuatnya semakin mempererat pegangan tangannya kepada Belinda saat ini.
"Kamu tenang lah, aku janji tidak akan ada yang terjadi kepada Bunda. Kamu percaya kepada ku bukan?" ucap Belinda yang seakan tahu jika Belinda tengah khawatir saat ini.
"Benalkah? Apakah Paman itu tidak akan melukai Mama?" ucap Caramel sambil membenamkan kepalanya pada pundak Belinda saat itu.
"Jangan khawatir, meski pun Ayah kelihatannya jahat dan garang namun sebenarnya dia berhati lembut dan juga baik. Jadi kamu tidak perlu khawatir akan hal itu." ucap Belinda berusaha untuk menenangkan hati gadis kecil itu.
***
Halaman belakang
Belinda terlihat membawa Caramel menuju halaman belakang dengan langkah kaki yang cepat. Di sana mobil milik Altair sudah menanti sedari tadi, membuat Altair yang mendapati keduanya tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya saat itu. Lantas membuat Altair langsung mengambil Caramel dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Lalu bagaimana dengan Bunda?" tanya Altair setelah membawa Caramel masuk ke dalam.
"Bunda sedang bersama dengan Ayah saat ini, Bunda menyuruh ku untuk mengantar Caramel ke rumah om Ashraf terlebih dahulu. Soal Bunda aku juga tidak tahu bagaimana dan apa yang terjadi di dalam." ucap Belinda yang tentu saja langsung membuat Altair mengernyit ketika mendengarnya barusan.
"Apa kamu yakin Ayah tidak akan berbuat macam-macam pada Bunda?" tanya Altair yang seakan tidak yakin akan Kafin.
__ADS_1
"Aku rasa untuk menyakiti kemungkinannya sangatlah kecil, hanya saja untuk sesuatu yang lain aku tidak yakin... Sudahlah sebaiknya kita segera pergi dari sini atau om Dimas akan menangkap kita nantinya." ucap Belinda kemudian sambil mendorong tubuh Altair agar segera masuk ke dalam mobil.
Sampai kemudian Belinda yang baru saja menyadari satu hal, lantas mulai menarik tangan Altair saat itu. Membuat gerakan Altair langsung terhenti dengan seketika.
"Apa kamu sudah memberi tahu pak Arman sebelumnya? Bagaimana jika ia membuka mulut dan mengatakan kepada Ayah nantinya?" ucap Belinda kemudian yang baru menyadari akan kehadiran pak Arman.
"Tidak perlu khawatir, pak Arman sama sekali tidak tahu akan detailnya dan aku mengatakan jika kita sedang menjemput seseorang untuk mengantarnya pulang. Aku rasa selama kita segera pergi dari tempat ini, pak Arman tidak akan curiga." ucap Altair yang lantas di balas Belinda dengan anggukan kepala.
"Bagus, jika begitu sebaiknya kita segera pergi dari sini." ucap Belinda sambil mulai membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya, di susul dengan Altair yang mengikuti Belinda masuk ke dalam mobil saat itu.
***
Sementara itu di ruangan kamar
Hanya saja ketika langkah kakinya baru saja hendak bergerak pergi dari sana, sebuah tarikan tangan yang berasal dari Kafin lantas membuatnya terhuyung dan jatuh tepat ke arah Kafin saat itu.
Cup
Bibir keduanya mendarat tepat di area bibir masing-masing, entah ini adalah sebuah kebetulan atau memang sudah di atur oleh Kafin sebelumnya. Namun yang jelas hal ini benar-benar mengejutkan bagi Alice saat ini.
Manik mata Alice membulat dengan seketika di saat situasi canggung mendadak terjadi di antara keduanya. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Alice berusaha sebisa mungkin untuk memperbaiki posisinya saat itu. Hanya saja Kafin yang seakan tak rela jika momen ini berakhir dengan sia-sia lantas terlihat menahan tengkuk Alice agar tidak bisa beranjak dari posisinya.
"Apa yang dia lakukan sebenarnya?" ucap Alice dalam hati ketika mendapati jika bibir keduanya bertemu saat ini.
__ADS_1
Kafin yang tahu akan sikap Alice yang begitu tegang dan juga canggung mulai berusaha membawa Alice ke dalam permainannya. Perasaan menggebu jelas terasa begitu kuat berasal dari dirinya, membuat Alice malah ikut terhanyut ke dalam permainan tersebut di saat perasaan merindu telah mengakar di hatinya sejak beberapa tahun yang lalu.
Keduanya terhanyut begitu saja tanpa paksaan ataupun kata-kata kasar yang keluar dari mulut keduanya saat itu. Hanya ada perasaan merindu yang begitu kuat dan membelenggu keduanya agar sama-sama menyalurkan hasratnya yang sudah terpendam bertahun-tahun lamanya.
Kafin yang tidak sabaran lantas mengangkat tubuh Alice ala bayi besar dan menidurkannya di ranjang. Napas Alice terdengar begitu terengah-engah ketika ia pada akhirnya berhasil mengambil napas panjang setelah keduanya b3rc1um4n barusan.
Kafin melepas kancing baju pada kemejanya dan membuangnya begitu saja ke sembarang arah. Baru setelah itu ia naik ke atas ranjang dan menempatkan posisi di atas Alice.
"Aku sungguh minta maaf Al... Aku sama sekali tidak berniat untuk menipu mu." ucap Kafin sambil bermain di area leher Alice, membuatnya bukan menjawab dengan kata-kata malah menggunakan sebuah suara d3s4h4n yang malah mengundang perasaan ingin dalam diri Kafin bangkit saat itu.
Alice yang begitu hanyut dalam permainan Kafin saat ini, mencoba untuk bangun dari hasrat yang mengerubunginya.
"Apa yang kamu lakukan Al? Ayo lawan! Mengapa kamu malah hanyut dalam permainannya?" ucap Alice dalam hati berusaha untuk mendorong perasaan ingin dan juga menerima setiap sentuhan dari Kafin saat ini.
Alice mendorong tubuh Kafin cukup keras hingga terpelanting ke samping kasur saat itu, membuat situasi mendadak menjadi hening saat itu ketika Alice berhasil menyingkirkan Kafin dari hadapannya.
Alice bangkit dari posisinya kemudian duduk dan memunggungi Kafin yang masih seakan terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Alice saat ini.
"Maafkan aku Kaf tapi semua ini tidaklah benar, minggu ini aku akan menikah dengan Ashraf dan aku harap jangan lewati batasan mu." ucap Alice yang tentu saja langsung membuat Kafin terkejut dengan seketika begitu mendengar perkataan dari Alice barusan.
Mendengar hal tersebut membuat Kafin langsung menarik tangan Alice, kemudian membuatnya menatap lebih dalam ke arah manik matanya.
"Tatap mataku dan katakan jika kamu tidak mencintai ku! Katakan kepada ku dengan lantang Al!" ucap Kafin kemudian yang lantas membuat Alice terkejut dengan seketika.
__ADS_1
Bersambung