Move

Move
Sebuah bayangan


__ADS_3

"Apa yang kamu bicarakan? Tidak ada yang boleh pergi dari sini!" pekik Kafin.


Disaat situasi tengah menegang saat ini sebuah suara yang berasal dari area pintu utama, lantas langsung membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


"Apakah kamu perlu berteriak-teriak seperti itu?" ucap sebuah suara yang ternyata berasal dari Ashraf.


Mengetahui jika suara tersebut berasal dari Ashraf, lantas membuat Kafin semakin mengepalkan tangannya. Ia bahkan belum memperbaiki segalanya, namun Ashraf malah datang dan merusak segalanya.


"Siapa yang mengijinkan mu masuk ke rumah ku?" ucap Kafin dengan nada yang datar.


"Aku ingin menjemput Alice untuk pulang, bukankah dia sudah mengatakan kepadamu dan mengakhiri segalanya?" ucap Ashraf dengan nada yang santai sambil mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Alice berada.


"Berhenti!" ucap Kafin dengan nada yang tegas, namun sayangnya sama sekali tidak di gubris oleh Ashraf.


Mendapati tingkah Ashraf yang begitu songong, membuat Kafin langsung menarik pundak Ashraf. Hingga membuat Ashraf hampir saja tersungkur jika ia tidak berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya saat itu. Kafin mencengkram kemeja Ashraf dengan erat dan menatapnya tajam, namun sama sekali tidak membuat Ashraf takut ataupun gentar ketika mendapati tingkah Kafin saat ini.


"Sudah ku bilang untuk berhenti! Apakah telinga mu itu tuli ha?" ucap Kafin dengan nada yang berteriak, membuat semua orang yang ada di sana lantas terkejut dengan seketika.


***


Alice yang tahu situasinya tidaklah mendukung, lantas langsung menutup telinga Altair saat itu kemudian mengarahkannya agar menatap ke arahnya.


"Alta masuk ke kamar ya temani Abel di dalam..." ucap Alice kemudian sambil mengusap pelan rambut Altair saat itu.

__ADS_1


"Jaga diri baik-baik Bunda, kami menyayangi Bunda..." ucap Altair sambil mencium pipi Alice saat itu.


Setelah mengatakan hal tersebut Altair lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar sesuai dengan perkataan dari Alice barusan. Sedangkan Alice yang melihat kepergian Altair barusan, kemudian mulai mengambil langkah kaki yang lebar hendak memisah keduanya.


Ditariknya pundak Kafin saat itu seakan berusaha untuk melepas cengkraman tangan Kafin yang begitu kuat di area kerah baju Ashraf saat itu.


"Berhenti kalian berdua! Apa kah kalian tidak malu bertingkah seperti anak kecil seperti ini?" pekik Alice sambil terus berusaha untuk memisah keduanya saat itu.


Hanya saja Kafin yang mendengar teriakan dari Alice barusan bukannya melepas cengkraman tangannya malah semakin mempereratnya. Kenyataan jika Alice lebih membela Ashraf benar-benar membuatnya sakit hati. Sehingga tanpa sadar hendak melayangkan pukulannya ke arah Ashraf saat itu, namun sayangnya harus terhenti di angan-angan ketika mendapati Alice yang sudah berdiri tepat di antara ia dan juga Ashraf.


"Bianca..." ucap Kafin tanpa sadar dengan nada yang terdengar lirih.


Mendengar nama Bianca di sebut tentu saja langsung membuat Alice berdecak dengan kesal. Entah mengapa sedari tadi Alice terus menunggu Kafin mengucapkan namanya dan mengatakan jika ia tidak bisa hidup tanpa dirinya. Hanya saja, bahkan hingga detik ini bukan namanya yang keluar dalam setiap kata yang berasal dari mulutnya melainkan Bianca. Bukankah penantian Alice yang terus berusaha untuk mengulur waktu sedari tadi, hanya berakhir dengan sia-sia?


Mendengar hal tersebut, emosi Kafin yang tadinya semakin menjadi-jadi, perlahan-lahan mulai mereda ketika ia menyadari kesalahan terbesarnya dalam hubungan ini. Ya kesalahan yang tidak akan pernah bisa ia perbaiki kembali sampai kapan pun.


"Aku..." ucap Kafin yang tidak tahu harus berkata-kata apa untuk menjawab setiap kata yang keluar dari mulut Alice saat itu.


"Apa? Mengapa kamu diam? Apa kamu baru menyadarinya sekarang? Terlambat Kaf! Aku bahkan sudah mencoba untuk memberimu satu kali kesempatan lagi siapa tahu kamu masih menganggap ku ada walau semua ini hanya sebuah tipuan belakangnya. Sayangnya hingga hari ini aku tetap menjadi bayang-bayang Bianca di mata mu, bukan? Jadi aku mohon biarkan seorang Alice ini pergi! Jika memang kamu menginginkan Bianca kamu cari saja dia di kuburan, jangan pernah datang dan mencarinya kepadaku!" ucap Alice sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan kediaman Kafin, diikuti oleh Ashraf di belakangnya.


"Al..lice..." panggilnya lirih namun sayangnya tidak akan bisa menghentikan langkah kaki Alice dan merubah keputusannya untuk pergi dari hidupnya.


"Arggg benar-benar sialan! Mengapa aku bodoh sekali?" pekik Kafin dengan nada yang kesal sambil menatap kepergian Alice dan juga Ashraf yang semakin menjauh.

__ADS_1


**


Di sebuah mobil yang di kendarai oleh Ashraf, keheningan nampak terjadi di sana. Baik Ashraf maupun Alice sama-sama terhanyut dalam pemikiran mereka masing-masing. Diliriknya sekilas Alice yang nampak terdiam tanpa mengatakan apapun atau bahkan menjelaskan situasinya kepada Ashraf. Mendapati hal tersebut lantas membuat Ashraf langsung melipir ke arah bahu jalan dan menghentikan laju mobilnya saat itu juga.


Menyadari jika Ashraf saat ini tengah menghentikan laju mobilnya, lantas membuat Alice langsung menoleh ke arah Ashraf detik itu juga.


"Apa yang terjadi?" tanya Alice kemudian dengan raut wajah yang penasaran, namun Ashraf yang di tanya seperti itu malah hanya terdiam sambil menatap manik mata Alice dengan tatapan yang intens.


"Katakan padaku sejujurnya, apakah kamu dan juga dia sudah melakukan hubungan suami istri?" ucap Ashraf kemudian yang tentu saja membuat Alice langsung terkejut dengan seketika.


"Aku.. Aku minta maaf.. Aku benar-benar.." ucap Alice dengan raut wajah yang menunduk.


"Sial!"


Mendengar pengakuan tersebut tentu saja membuat Ashraf kesal bukan main. Di bukanya pintu mobil sambil mulai melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobil. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Alice semakin merasa bersalah atas kesalahan yang tentu saja fatal dan tidak akan bisa di perbaiki sama sekali.


Alice yang melihat Ashraf pergi lantas terlihat mulai menyusul langkah kaki Pria itu keluar dari dalam mobil. Hanya saja ketika pijakannya menyentuh tepat di tanah saat itu, entah mengapa pijakannya terasa kembali berputar. Mendapati hal tersebut membuat Alice lantas langsung memegang badan mobil seakan mencoba untuk menyeimbangkan dunianya yang sedang berputar saat ini.


"Apakah kau sudah gila ha?" pekik Ashraf dengan nada yang kesal.


"Aku..."


Bruk

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2