Move

Move
Cara kamu dimana nak?


__ADS_3

Karena kejadian semalam dimana Alice yang menghukum Caramel untuk tidur sendiri saat itu. Pagi harinya Caramel demam, mungkin karena takut dan tidak terbiasa sendiri sehingga membuat Caramel begitu shock. Membuat suhu tubuhnya naik saat itu.


Alice yang merasa bersalah dengan sikapnya semalam, lantas berniat membawa Caramel pergi ke Rumah sakit. Sambil menggendong Caramel dengan hati-hati Alice lantas mulai membawa langkah kakinya keluar dari kamar.


"Kamu mau kemana?" ucap sebuah suara tepat ketika langkah kaki Alice baru keluar dari kamar.


"Aku akan membawa Cara ke Rumah sakit, suhu tubuhnya belum turun sedari tadi. Apa menurut mu aku sudah keterlaluan? Aku tidak mengira jika Cara akan berakhir seperti ini." ucap Alice dengan raut wajah yang sendu.


Mendengar perkataan Alice barusan lantas membuat helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulut Ashraf, membuat perasaan bersalah kian mengakar di hati Alice saat itu ketika mendapati jawaban dari Ashraf barusan.


"Jangan terlalu dipikirkan kita sebagai orang tua hanya bisa berusaha dalam mendidik anak. Aku tahu niat mu baik ingin mengajarkan Caramel tentang kepatuhan dan juga sebuah renungan. Hanya saja mungkin timing dan penempatannya saja yang salah, aku yakin ini adalah bentuk adaptasi dari Caramel jadi kamu jangan terlalu menyalahkan dirimu seperti ini." ucap Ashraf yang tentu saja langsung membuat perasaan Alice melega ketika mendengarnya secara langsung.


"Benarkah, bagaimana jika tidak demikian." ucap Alice seakan mencoba untuk memastikan segalanya.


"Ayolah Al.. Sudah ku katakan untuk tidak terlalu menyalahkan dirimu. Sebaiknya kita segera berangkat saja, bukankah kamu tadi ingin mengantar Caramel ke Rumah sakit kan?" ucap Ashraf yang lantas membuat Alice mengernyit ketika mendengar hal tersebut.


"Kita? Bukankah kamu ingin berangkat ke kantor?" ucap Alice dengan raut wajah yang kebingungan.


"Mungkin hari ini aku akan mengambil cuti, lagi pula kesehatan Caramel lebih utama di banding pekerjaan ku. Jadi aku putuskan untuk mengambil cuti hari ini." ucap Ashraf dengan raut wajah yang yakin.


"Tapi..." ucap Alice namun terpotong.


Sebuah suara deringan ponsel milik Ashraf lantas langsung membuat pembicaraan keduanya terhenti saat itu. Ashraf mengisyaratkan kepada Alice untuk menunggu sebentar selagi ia mengangkat panggilan telponnya saat itu.


"Apakah tidak bisa di tunda? Ada hal penting yang harus aku lakukan saat ini." ucap Ashraf dengan seseorang di telpon sana.


"..."


"Baiklah.. Baiklah.." ucap Ashraf pada akhirnya sebelum kemudian menutup panggilan telponnya saat itu.

__ADS_1


Dengan raut wajah yang lesu Ashraf terlihat kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alice berada saat ini. Di lihat dari perubahan raut wajah Ashraf saat itu, Alice bahkan sudah bisa menebaknya jika ada sesuatu yang mendesak saat ini.


"Maafkan aku Al, ada meeting bersama klien penting pagi ini. Harusnya aku mengantar mu tapi..." ucap Ashraf dengan raut wajah yang merasa bersalah saat itu.


"Jangan khawatir soal itu aku bisa pergi sendiri, lagi pula urusan mu tidak bisa di tunda kan? Jadi pergilah bekerja dan lakukan yang terbaik." ucap Alice sambil tersenyum dengan simpul.


"Terima kasih banyak sudah mau mengerti." ucap Ashraf sambil mengusap pelan pundak Alice saat itu.


***


Rumah sakit


Di sebuah ruangan dokter, Alice terlihat tengah mendengarkan dengan seksama segala penjelasan dari dokter spesialis anak. Beberapa hal yang Alice tarik kesimpulan adalah kondisi psikis dan juga mental anak yang tidak bisa kita tekan terlalu berlebihan, sehingga dapat menimbulkan sebuah trauma terhadap anak-anak.


Apa yang terjadi pada Caramel saat ini merupakan sebuah pembelajaran penting tentang bagaimana kedepannya Alice mengasuh Caramel. Membuat Alice menyadari satu hal jika baik untuk orang tua, belum tentu baik juga untuk anak-anak.


"Ini saya tulis beberapa resep untuk Caramel, saya harap Ibu bisa mencerna setiap penjelasan saya dengan baik." ucap Dokter tersebut dengan ramah.


Langkah kaki secara perlahan terdengar sedikit nyaring di area lorong Rumah sakit saat itu. Tidak ada pembicaraan khusus yang terjadi di antara keduanya, sampai kemudian Alice mulai mengarahkan Caramel untuk duduk di sebuah kursi panjang kemudian menatapnya dalam-dalam.


"Apa Caramel marah pada Mama?" ucap Alice kemudian dengan tatapan yang sendu.


Namun Caramel yang mendapat pertanyaan tersebut, hanya menggeleng dengan perlahan seakan membantah pertanyaan tersebut.


"Lalu, apakah Cara semalam ketakutan?" ucap Alice sekali lagi dan jawaban gadis kecil itu sekarang hanya mengangguk dengan perlahan.


Melihat jawaban tersebut membuat Alice lantas langsung memeluk tubuh Caramel dengan erat. Didekapnya gadis kecil itu dengan tatapan penuh rasa penyesalan.


"Mama minta maaf ya nak.. Maafkan Mama..." ucap Alice dengan manik mata yang berkaca-kaca, membuat tangan kecil Caramel lantas menggenggam dengan erat kemeja Alice saat itu.

__ADS_1


Alice mengusap air mata yang membasahi wajahnya saat itu kemudian melepas pelukannya secara perlahan.


"Lain kali jika Cara takut katakan takut ya nak, jangan hanya diam dan menyimpan segalanya sendiri." ucap Alice dengan tatapan penuh kasih sayang, membuat Caramel lantas mengangguk dengan perlahan.


"Anak pintar, Bunda akan menebus resep obat untuk mu. Cara jangan kemana-mana ya? Tetap di sini dan jangan beranjak kemanapun, apakah Cara mengerti?" ucap Alice dengan nada penuh penekanan karena takut jika Caramel akan kembali melanggar perkataannya.


"Mama tidak pelu khawatil, Cala akan menunggu Mama di sini." ucap Caramel dengan raut wajah tersenyum manis saat itu.


"Baiklah Mama percaya kepada mu, tunggu Mama sebentar ya..." ucap Alice kemudian sambil mulai bangkit dari posisinya.


Dengan senyuman yang tidak henti-hentinya terlihat pada raut wajah Alice saat itu, Alice lantas mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Caramel untuk menebus resep Dokter tersebut.


.


.


.


.


Dari arah lorong Rumah sakit, Alice terlihat berlarian dengan kondisi rambut yang acak-acakan. Baju Alice benar-benar sudah berantakan saat itu, membuatnya harus menggenggam dengan erat bagian atas kemejanya karena kancing bajunya terlepas begitu saja dan entah kemana.


Dengan raut wajah yang tidak bisa di jelaskan, Alice nampak berlarian seperti orang yang menahan kekesalan di dalam hatinya saat ini. Sampai kemudian ketika langkah kakinya tiba di tempat di mana Alice meninggalkan Caramel sebelumnya, betapa terkejutnya ia ketika ternyata Alice tidak mendapati jika Caramel tengah menunggunya di sana.


"Dimana Caramel? Mengapa anak itu tidak ada di sana? Tidak mungkin bukan..." ucap Alice dengan raut wajah yang penuh dengan ke khawatiran saat itu.


Terlihat jelas jika Alice tengah panik saat ini, membuatnya tidak lagi memperdulikan tatapan orang-orang yang menatapnya aneh dengan penampilan yang seperti itu.


"Cara kamu di mana nak..." ucap Alice dalam hati sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2