Move

Move
Tidak sesuai harapan


__ADS_3

Ruangan CEO


Di ruangannya terlihat Kafin tengah sibuk mengerjakan beberapa laporan yang harus ia tinjau sebelum mendapat ACC darinya. Kafin melirik sekilas ke arah foto keluarga yang terpajang di meja kerjanya dengan senyuman mengembang.


"Baru sehari berpisah aku bahkan sudah merindukannya." ucap Kafin dengan nada yang terdengar lirih sambil tersenyum dengan simpul.


Sampai kemudian ketika Kafin tengah sibuk menatap ke arah foto tersebut, sebuah deringan ponsel miliknya lantas langsung membuyarkan segala lamunannya saat itu.


"Halo..." ucap Kafin kemudian setelah menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Halo Tuan maaf ini Lala..." ucap Lala dengan nada yang terdengar ragu.


"Iya La, ada apa?" ucap Kafin dengan mengernyit ketika mendapati panggilan telpon dari orang Rumah saat ini.


"Maaf Tuan saya ingin menyampaikan jika barusan pihak Sekolah den Altair dan juga non Belinda menghubungi dan menanyakan perihal keduanya yang tidak datang ke Sekolahan, padahal tadi saya yakin mereka berdua sudah berangkat bersama dengan pak Arman setelah kepergian anda." ucap Lala mulai menyampaikan informasi tersebut.


Kafin yang mendengar perkataan dari Lala barusan tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung. Jika memang keduanya sudah berangkat tadi, lalu mengapa mereka berdua tidak ada di Sekolah saat ini?


"Lalu dimana Alice?" tanya Kafin kemudian.


"Em anu Tuan, Nyonya saat ini sedang pergi tepat setelah den Altair dan juga non Belinda berangkat tadi." ucap Lala kemudian dengan nada hati-hati takut jika Kafin marah ketika mendengar perkataannya barusan.


"Apa katamu!" pekik Kafin yang langsung membuat Lala menjauhkan telpon tersebut dari telinganya saat itu.


Tut... Tut....


Suara panggilan yang diputus secara langsung oleh Kafin tepat ketika mendengar hal tersebut, lantas membuat Kafin langsung meletakkan ponselnya dengan kasar ke atas meja. Kafin terlihat bangkit sambil mengambil posisi bersendekap dada, ia bahkan baru saja tersenyum sambil membayangkan kehidupan Rumah tangganya. Namun setelah mendengar kabar jika kedua anaknya tidak datang ke Sekolah dan juga ketidakadaan Alice di Rumah, membuat Kafin sangat kesal karena hal tersebut.

__ADS_1


"Kemana perginya Alice sebenarnya? Mengapa ia tidak mengatakan apapun kepada ku?" pekik Kafin kemudian.


Diambilnya kembali ponsel miliknya kemudian Kafin terlihat mulai menghubungi Arman di sana.


"Halo Tuan..." jawab Arman dengan nada yang terdengar ragu.


"Dimana kamu!" ucap Kafin secara langsung tanpa basa-basi sama sekali.


"Saya sedang berada di Cafe Bintang mengantarkan anak-anak bertemu dengan gurunya Tuan, apakah ada sesuatu?" ucap Arman dengan nada yang terdengar polos, namun berhasil membuat Kafin kesal.


"Siapa yang menyuruh mu kesana? Aku bahkan di telpon pihak Sekolah yang mengatakan jika keduanya tidak datang ke Sekolah hari ini!" ucap Kafin dengan nada penuh penekanan, membuat Arman terkejut ketika mendengar perkataan dari Kafin barusan.


"Tadi den Altair mengatakan jika gurunya menunggunya di dalam Tuan, saya..." ucap Arman ketika mendapati jika firasatnya tentang hal ini benar adanya.


"Sudahlah, tunggu aku di sana dan pastikan anak-anak tidak pergi kemanapun!" ucap Kafin kemudian yang memutuskan untuk menyusul Altair dan juga Belinda di Cafe Bintang.


Setelah mengatakan hal tersebut Kafin kemudian mulai mengambil langkah kaki yang lebar keluar dari ruangannya saat itu. Dimas yang tak sengaja bertemu dengan Kafin, lantas menatap dengan tatapan yang bertanya-tanya akan langkah kaki terburu-buru Kafin saat ini. Sampai kemudian Kafin yang terlihat menghentikan langkah kakinya begitu melihat Dimas barusan, membuat Dimas ikut menghentikan langkah kakinya juga.


"Tangani beberapa hal di kantor untuk ku hari ini, aku ada masalah dan harus pulang sekarang." ucap Kafin kemudian memberikan perintah kepada Dimas.


"Baik Tuan, apakah anda membutuhkan bantuan?" tanya Dimas kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Tidak perlu!" ucap Kafin dengan cepat kemudian kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Dimas saat itu.


***


Cafe Bintang

__ADS_1


"Apapun yang ingin kau tanyakan aku akan memberikan segala jawabannya kepadamu. Bukankah terlalu banyak pertanyaan yang berputar dan memenuhi kepala mu selama ini?" ucap Ashraf kemudian.


"Aku...." ucap Alice dengan raut wajah yang bingung.


Alice terdiam sejenak seakan mencoba untuk mengkondisikan dirinya, apa yang dikatakan oleh Ashraf adalah benar. Terlalu banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, hingga membuat Alice bingung hendak menanyakan yang mana terlebih dahulu kepada Ashraf saat ini.


"Mengapa ketika ada seseorang yang datang untuk memberikan jawaban aku malah terdiam seperti orang bodoh seperti ini?" ucap Alice dalam hati sambil menatap lurus ke arah depan.


Ashraf yang seakan mengerti tentang kebimbangan Alice saat itu, lantas mulai mengeluarkan sebuah map berisi segala hal yang ingin di ketahui oleh Alice tentunya. Membuat Alice yang mendapati map tersebut, terlihat menatap dengan tatapan yang mengernyit ke arah Ashraf saat itu.


"Apa ini?" tanya Alice kemudian.


"Di dalam map ini berisi segala informasi detail tentang dirimu, aku juga menambahkan beberapa foto di sana untuk memperkuat bukti dan juga asumsi ku. Jika memang kamu tidak nyaman menanyakannya kepada ku, kamu bisa melihatnya secara langsung di sana." ucap Ashraf dengan manik mata yang teduh.


Mendengar perkataan Ashraf barusan, membuat Alice semakin tidak mengerti akan siapa yang sebenarnya salah dan siapa yang benar. Ditatapnya map yang saat ini berada di hadapannya sambil menghela napasnya dengan panjang. Entah mengapa Alice merasa sedikit takut untuk membuka dan melihat isi dari map tersebut, Alice benar-benar takut jika semua hal yang ada di dalam map itu tidaklah sesuai dengan harapannya.


Alice sudah terlanjur nyaman dengan Kafin dan juga kedua anak-anaknya. Jika sampai apa yang di katakan oleh Ashraf adalah benar, itu artinya semua kehidupannya selama ini adalah palsu. Termasuk tawa, kebahagiaan, kebersamaan, dan juga cinta yang ia peroleh bersama dengan mereka adalah sebuah kepalsuan semata.


Ashraf yang melihat kebimbangan terlihat jelas di wajah Alice saat itu, lantas langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Aku akan memberikan mu ruang dan juga waktu, aku harap kamu benar-benar bisa membuka mata saat ini Al... Hubungi aku jika ada apa-apa aku akan siap membantu mu kapan pun itu." ucap Ashraf sambil menepuk pundak Alice dengan lembut kemudian berlalu pergi dari sana.


Alice yang mendapati kepergian Ashraf baru saja hanya bisa meliriknya sekilas kemudian kembali fokus menatap ke arah map tersebut.


Disaat segala pemikiran mulai memuncak dan berkumpul di kepalanya saat itu. Sebuah deringan ponsel yang berasal dari miliknya lantas langsung membuyarkan segala lamunan Alice dengan seketika.


"Kafin!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2