
Area meja makan di kediaman Kafin
Setelah kejadian tamparan di pagi hari yang Alice dapatkan secara tiba-tiba. Lantas membuat Alice mencoba untuk tersenyum dengan simpul, seakan berusaha terlihat ceria agar Belinda dan juga Altair tak curiga kepadanya.
Entah apa yang merasuki Kafin pagi ini hingga mendadak melayangkan tamparan cukup keras di pipinya. Padahal saat itu yang Alice lakukan hanya berusaha untuk membangunkan Kafin dari mimpi buruknya. Sebuah pertanyaan lagi dan lagi kembali berputar di kepala Alice saat itu. Namun sebisa mungkin Alice tepis seakan berusaha untuk tetap berpikir positif saat ini.
"Makan yang banyak dan belajar yang rajin, oh ya Alta kapan pengumuman seleksi pertandingan sepak bola di sekolah?" ucap Alice mencoba untuk terlihat tersenyum seperti biasanya.
"Mungkin hari ini atau lusa Bun, hanya saja Alta belum meminta ijin kepada Ayah. Apakah Bunda yakin Ayah akan mengijinkannya?" ucap Altair dengan nada yang terdengar begitu ragu.
Alice yang mendengar perkataan dari Altair barusan, hanya mengusap dengan lembut puncak kepala Altair kemudian tersenyum dengan simpul. Membuat Pria kecil itu lantas langsung menatap dengan tatapan yang intens ke arah Alice.
"Tak perlu khawatir, Bunda akan membantu mu berbicara kepada Ayah hem... Yang perlu Alta lakukan hanya fokus dan kejar segalanya, mengerti?" ucap Alice mencoba untuk menenangkan Altair saat ini.
Alice benar-benar tahu jika Altair saat ini tengah gelisah sekaligus khawatir jika sampai Kafin tak memberikannya ijin untuk bertanding.
"Terima kasih banyak Bun..." jawab Altair kemudian.
Sampai kemudian ketika jarak di antara keduanya begitu dekat saat itu. Entah mengapa Altair merasa ada yang aneh dengan pipi Alice. Dimana terlihat dengan jelas bekas merah seperti telapak tangan di sana, membuat Altair yang baru menyadari akan hal tersebut kemudian mulai mengernyit dengan raut wajah yang penasaran.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan pipi Bunda?" tanya Altair kemudian yang lantas membuat Belinda juga menoleh dengan spontan ke arah Alice saat itu.
"Iya Bun, pipi Bunda merah sekali seperti habis di pukul!" pekik Belinda sambil mengunyah makanannya saat itu.
Sedangkan Alice yang di cecar terus menerus seperti itu tentu saja gugup sekaligus bingung. Entah apa yang harus ia jelaskan kepada Altair dan juga Belinda, namun yang jelas Alice harus segera memutar otaknya atau keduanya akan curiga karena tak kunjung mendengar jawaban apapun dari Alice saat ini.
"Ini... Ini tadi Bunda salah pilih blush on, Bunda lagi coba produk baru malah kesannya kayak di tampar seperti ini, aneh ya? Sepertinya Bunda gak akan pakai produk itu lagi deh, apakah benar-benar jelek?" ucap Alice mencoba untuk mencari alasan yang sekiranya bisa membuat Altair dan juga Belinda tidak curiga.
Mendengar jawaban dari Alice barusan membuat Altair langsung mengernyit dengan seketika. Sedangkan Belinda hanya manggut-manggut sambil mulai membersihkan roknya yang terkena remahan makanannya saat itu.
"Jangan di pakai lagi Bun, jelek!" ucap Belinda sambil mulai bangkit dari tempat duduknya.
"Baiklah akan Bunda pertimbangkan, segera berangkat ke sekolah, nanti kalian kesiangan.. Hati-hati di jalan muach..." ucap Alice sambil membantu Belinda bangkit dari kursi dan mengambil tas sekolah miliknya.
"Apa Ayah tahu akan hal ini? Sepertinya aku harus mengatakannya kepada Ayah nanti." ucap Altair sambil mulai melangkahkan kakinya mengikuti kepergian Belinda yang menuju ke arah parkiran.
**
SJ Company
__ADS_1
"Kau ingin tahu apa alasannya? Alasannya adalah karena kau berhak untuk mendapatkan itu semua!" pekik Alex dengan tawa yang mengembang di ruangan tersebut.
Mendengar tawa mengembang di ruangan tersebut tentu saja membuat Kafin langsung mengernyit dengan seketika. Entah apa yang merasuki Alex saat ini, namun ketika Kafin mendengar tawa dari Alex barusan, anehnya Kafin merasakan sebuah atmosfir yang berbeda akan diri Alex saat ini. Seakan-akan Alex seperti orang yang berbeda dari biasanya.
"Apa maksud dari perkataan mu sebenarnya?" ucap Kafin dengan raut wajah yang penasaran akan tawa dan juga segala hal yang di katakan oleh Alex barusan.
Mendengar pertanyaan tersebut lantas membuat Alex bangkit dari posisinya kemudian melangkahkan kakinya dengan perlahan mendekat ke arah dimana Kafin berada saat ini.
"Jangan sok berlagak naif seperti itu, aku bahkan sudah mulai lelah terus-menerus menjadi bayang-bayang mu. Kau pikir kau hebat dengan bersikap seperti itu? Ayolah jangan gila Kaf karena aku benar-benar membencinya! Aku sungguh muak melihat tingkah mu itu!" pekik Alex dengan nada yang begitu kesal karena Kafin malah bersikap menjadi korban saat ini, padahal di sini ia lah korbannya.
"Kau..." ucap Kafin terjeda seakan tidak tahu lagi harus berkata-kata apa lagi untuk menanggapi setiap perkataan yang keluar dari mulut Alex barusan.
"Ya, aku benar-benar kesal melihat mu yang selalu unggul dalam segala hal. Aku bahan sangat muak ketika mendapati kau, lagi dan lagi berhasil dalam mencapai segala hal terkecil sekalipun. Apa kau pikir menyenangkan hidup seperti ini dan selalu menjadi bayangan mu? Tentu saja tidak! Kau dapatkan segalanya dengan begitu mudahnya, tapi aku.. Aku harus merangkak terlebih dahulu agar bisa sampai ke puncak sama seperti mu. Bukankah dunia ini begitu terasa kejam dan tidak adil? Kau bahkan merebut Bianca dariku! Seseorang yang begitu menarik perhatian ku sejak dulu. Apakah kau belum cukup puas telah merenggut segalanya dari ku?" ucap Alex pada akhirnya meluapkan segala kekesalan di dalam dirinya.
Sedangkan Kafin, mendengar setiap perkataan keluar dari mulut Alex membuatnya hanya tersenyum dengan tipis seakan tidak terlalu terpengaruh akan perkataanya.
"Kau kira aku mendapatkannya dengan percuma? Setiap hal yang ada di dalam hidup ku tidak ku dapatkan dengan cuma-cuma. Harta, jabatan, keberhasilan ku mencapai atas, bahkan Bianca sekalipun... Aku berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Kau saja yang tak tahu bagaimana usaha ku untuk mencapai segalanya. Yang kau tahu aku hanya duduk di kursi kebesaran ku dan mendapatkan segalanya dengan begitu mudahnya. Cobalah berpikir dengan jernih dan jauhkan sikap iri dengki mu itu!" ucap Kafin panjang kali lebar sambil menatap tajam ke arah Alex saat ini.
Setelah mengetahui alasannya secara langsung semua mata dan juga pintu hati Kafin langsung terbuka dengan seketika. Sebuah penyesalan bahkan kini memenuhi hatinya setelah mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Alex saat itu.
__ADS_1
"Jika saja aku mempercayai perkataan Bianca saat itu... Akankah Bianca masih bersama dengan ku hingga kini?" ucap Kafin sambil mulai membawa langkah kakinya berlalu pergi begitu saja.
Bersambung