
Mentari school 04
Di area plataran Mentari school 04 terlihat Belinda dan juga Altair baru saja menuruni mobilnya dengan perlahan. Seperti hari-hari biasannya keduanya selalu datang berdua di antar oleh supir pribadi mereka. Ditatapnya area sekitar plataran dimana beberapa temannya nampak di antar oleh Ibu atau Ayah mereka, membuat Belinda lantas menatap ke arah mereka dengan tatapan yang iri.
"Mengapa aku berbeda? Bukankah sekarang aku juga sudah punya Bunda?" ucap Belinda dalam hati sambil menatap ke arah teman-temannya.
Altair yang hendak melangkahkan kakinya menuju ke arah kelas namun malah melihat Belinda terdiam di tempatnya, membuat Altair lantas bertanya-tanya apa yang sedang di pikirkan oleh Belinda saat ini.
"Ada apa?" ucap Altair kemudian dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Belinda dan langsung membuyarkan lamunannya dengan seketika.
"Tidak apa, ayo kita ke kelas." ucapan Belinda kemudian sambil menarik tangan Altair agar mulai membawa langkah kaki mereka menuju ke arah dimana kelas mereka berada.
Keduanya kemudian lantas mulai membawa langkah kaki mereka menyusuri setiap lorong kelas yang ada di area sekolahan tersebut. Sampai kemudian ketika sebuah suara memanggil nama Altair, lantas langsung menghentikan langkah kaki mereka dengan seketika.
"Alta!" panggil sebuah suara yang tak asing di pendengaran mereka.
"Iya Mis.." jawab Altair kemudian.
"Mengapa kamu belum bersiap? Pagi ini ada seleksi untuk pertandingan football kids yang akan di langsungkan bulan depan, mengapa kamu tidak ikut? Apa kamu belum memberitahu orang tua mu?" tanya seorang guru dengan nametag Siska di dadanya.
Mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung membuat Altair terdiam seketika. Altair benar-benar lupa untuk menyampaikan hal ini kepada Kafin maupun Alice, membuat ia lantas mulai menggeleng secara perlahan.
"Begini saja, sebaiknya kamu ikuti dulu seleksinya jika nanti kamu lolos ke tahap selanjutnya kamu bisa memberitahu orang tuamu atau nanti Miss akan bantu kamu dengan membuat surat pemberitahuan, bagaimana?" ucap Siska lagi yang seakan tetap ingin Altair untuk mengikutinya.
__ADS_1
Siska jelas tahu jika Altair mempunyai bakat dalam sepak bola hingga membuatnya begitu kekeh mendorong Altair untuk mengikuti pertandingan ini.
Mendengar hal tersebut Altair kemudian lantas langsung menatap ke arah Belinda seakan meminta persetujuan dari saudari kembarnya itu, membuat Belinda yang seakan tahu akan maksud dari tatapan Altair kepadanya dengan spontan mulai terlihat mengangguk dengan perlahan.
"Pergilah Abang, aku akan membantu mu berbicara dengan Ayah nanti." ucap Belinda kemudian.
"Baiklah Miss saya akan ke sana sebentar lagi." ucap Altair pada akhirnya.
"Bagus Miss akan menunggumu di area lapangan, cepat berganti pakaian olahraga dan pergi ke sana." ucap Siska kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari hadapan keduanya.
"Apa kamu baik-baik saja pergi sendiri ke dalam kelas?" ucap Altair dengan raut wajah yang bertanya-tanya kepada Belinda.
"Apa yang kau katakan? Aku sudah besar sama seperti mu! Untuk apa aku takut hanya untuk pergi ke kelas? Sudah pergi sana, aku berdoa kau akan lolos seleksi." ucap Belinda dengan memasang raut wajah yang cemberut ketika mendengar perkataan Altair barusan.
Setelah kepergian Altair dari sana kekosongan nampak terjadi di hati Belinda. Belinda yang menginginkan sama seperti teman-temannya di mana ia diantar ke sekolah oleh kedua orang tuanya, lantas langsung menghela napasnya dengan panjang. Sambil mulai membawa langkah kakinya secara perlahan menuju ke arah ruang kelas, Belinda mulai melangkahkan kakinya menyusuri area lorong kelas tersebut dengan langkah kaki yang perlahan.
"Apa aku besok coba bertanya ke Bunda ya? Mungkin Bunda mau melakukannya untuk ku?" ucap Belinda kemudian sambil mencoba untuk tersenyum.
Di saat Belinda yang tadinya bersedih kembali ceria sebuah dorongan yang tanpa sengaja terjadi dari area belakangnya, lantas membuat Belinda langsung terhuyung dan jatuh dengan posisi terduduk di lantai tersebut.
"Apa yang kau lakukan! Lihatlah lutut ku terluka..." pekik Belinda yang lantas menghentikan langkah kaki dua orang siswa perempuan yang tadi tanpa sengaja mendorong dirinya.
"Ups, aku tidak sengaja..." ucap Tia teman sekelasnya.
__ADS_1
"Tidak bisakah kau berjalan dengan baik? Lutut ku bahkan terluka!" ucap Belinda yang tidak terima akan kelakuan Tia kepada yang bahkan tidak mengatakan kata minta maaf sedikitpun karena perbuatannya.
Mendengar teriakan tersebut lantas langsung membuat dia mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Belinda seakan tidak suka akan teriakan Belinda barusan.
"Apa yang mau kamu lakukan dengan meneriaki ku seperti itu? Apa kamu akan mengadukan ku kepada orang tuamu? Oh tunggu, apa kamu punya orang tua? Aku bahkan tidak pernah melihatnya mengantarkan mu sekalipun, apa jangan-jangan kamu adalah putri yang tak di inginkan?" ucap Tia dengan nada yang terdengar mengolok Belinda.
Belinda yang tadinya memang sudah sedih karena tak pernah merasakan diantar oleh kedua orang tuanya, mendengar perkataan dari Tia barusan tentu saja semakin membuatnya sedih dan juga marah. Bisa-bisanya dia mengatakan hal tersebut tepat di depan wajahnya saat ini, membuat Belinda yang mendengarkan kata ejekan tersebut lantas mendorong sedikit pundak Tia yang langsung membuat Tia melotot menatap tajam ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Tia yang seakan tak suka dengan tingkah Belinda saat ini.
"Kau yang mulai duluan, aku punya Ayah dan Bunda dan mereka berdua sangat menyayangi ku, tapi kau malah mengatakan jika aku putri tak diinginkan!" pekik Belinda dengan kesal.
"Oh ya? Jika memang begitu mengapa mereka tidak pernah kelihatan? Apa kau sedang membual saat ini?" ejek Tia lagi yang lantas membuat Belinda semakin kesal dan kembali mendorong Tia saat itu.
Tia yang mendapat dorongan seperti itu tentu saja tidak terima dan kemudian mulai ikut mendorong kembali pundak Belinda saat itu, membuat beberapa buku yang sedari tadi Belinda pegang lantas jatuh dan berserakan. Belinda yang melihat hal tersebut tentu saja semakin dibuat kesal dan mulai menjambak rambut Tia dengan kasar, membuat Tia yang mendapati hal itu lantas ikut menjambak rambut Belinda juga.
Pertengkaran antara Belinda dan juga Tia pada akhirnya tidak bisa dihindarkan lagi, keduanya lantas terlihat saling menjambak antara satu sama lain hingga rambut keduanya yang semula sudah terkuncir dengan rapi dan cantik semakin dibuat tak karuan karena jambakan masing-masing dari keduanya.
Melihat keduanya bertengkar di area lorong kelas lantas membuat beberapa siswa yang lainnya mulai berkumpul dan menatap ke arah keduanya dengan tatapan yang penuh semangat, beberapa anak kecil tersebut mulai meneriaki keduanya seakan seperti tengah menyaksikan sebuah perlombaan di sana.
"Ayo... Ayo... pukul..."
Bersambung
__ADS_1