Move

Move
Tidak bisa menjawabnya


__ADS_3

"Kebetulan sekali kita bertemu di sini, Ashraf Matthew." ucap sebuah suara yang lantas membuat Ashraf pada akhirnya mau tidak mau lantas berbalik badan menatap ke arah sumber suara.


Dari arah tidak jauh dimana Ashraf berada saat ini, terlihat Kafin tengah melangkahkan kakinya dengan perlahan mendekat ke arah dimana Ashraf berada. Tanpa permisi dengan santainya Kafin mendudukkan pantatnya tepat di kursi yang berada di depan Ashraf saat itu.


"Sepertinya kita sama sekali tidak ada urusan, jadi aku akan pergi jika kamu menginginkan meja ini." ucap Ashraf yang seakan sama sekali tidak menginginkan pembicaraan diantara keduanya berlangsung.


Namun Kafin yang seakan mengetahui jika Ashraf saat ini tengah menghindarinya, lantas membuat Kafin tersenyum dengan tipis.


"Apa yang membuat mu begitu menghindari ku? Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" ucap Kafin yang lantas langsung menghentikan langkah kaki Ashraf yang hendak berlalu pergi dari sana.


Mendapati pertanyaan tersebut dari Kafin, tentu saja langsung membuat Asraf mengernyit dengan tatapan yang bingung. Entah apa yang saat ini tengah dipertanyakan oleh Kafin, namun yang jelas Ashraf tentu paham jika yang coba dikatakan oleh Kafin saat ini pasti tentang Alice.


"Aku tidak pernah menghindari mu, aku rasa tepat setelah permasalahan Alice selesai waktu itu. Antara kau dan juga aku sudah tidak ada urusan apapun lagi." ucap Ashraf dengan penuh penekanan seakan berusaha untuk mengatakan kepada Kafin tentang sebuah batasan.


Sedangkan Kafin yang mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Ashraf saat itu, bukannya membiarkan Ashraf berlalu pergi ia malah tertawa dengan tatapan yang sinis. Mendapati hal tersebut membuat Ashraf semakin tidak menyukai akan tingkah Kafin yang tidak langsung to the point.


"Oh ya? Itu tentu adalah menurutmu, sayangnya aku sama sekali tidak menyetujui akan hal itu. Sejak kau membawa Alice pergi saat itu, hal tersebut menandakan bahwa kau sudah menabuh genderang perang kepada ku. Bagaimana pun juga tidak ada seorang pun yang bisa merebut sesuatu milik Kafin Aksan Devendra, camkan itu baik-baik!" ucap Kafin dengan tatapan yang tajam mengarah tepat pada manik mata Ashraf saat itu.


"Asal kau tahu... Alice bukanlah sebuah barang. Tubuh dan perasaan Alice murni adalah miliknya, kau atau siapapun itu sama sekali tidak ada hak atas dirinya!" ucap Ashraf yang seakan tidak terima akan perkataan dari Kafin yang menganggap jika Alice selayaknya sebuah barang.

__ADS_1


"Jika memang aku tidak berhak atas Alice, lalu bagaimana dengan putrinya?" ucap Kafin pada akhirnya.


Bagai petir yang menyambar di siang bolong, pertanyaan Kafin barusan benar-benar langsung membuat mulutnya terdiam dengan seketika. Entah bagaimana Kafin bisa mengetahui akan hal tersebut, namun Ashraf jelas paham akan arah dari pembicaraan Kafin saat ini.


Kafin yang melihat Ashraf hanya terdiam tanpa bisa menanggapi pertanyaannya barusan, lantas tersenyum dengan tipis. Nyatanya segala pemikiran yang berkecamuk di kepalanya sejak semalam, kini terjawab sudah meski hanya dengan kediaman Ashraf.


"Ada apa dengan mulut mu itu? Apakah kamu terkejut karena aku mengetahui akan hal tersebut? Bagi ku informasi seperti ini mudah di dapatkan termasuk dengan nama mu yang tidak tertulis pada akta kelahirannya. Bagaimana? Kamu yang akan menjelaskannya atau aku yang akan mencari tahu segalanya sendiri?" ucap Kafin kembali yang semakin menyudutkan Ashraf saat itu.


"Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, kepulangan kami kemari memang untuk mengurus akta Caramel dan juga pernikahan kami. Kamu tanya namaku tidak ada di akta kelahirannya, ya kau benar karena itu hanyalah akta sementara karena kelahiran Caramel berada di negeri orang. Saat ini ketika kami pulang ke negara kami sendiri, tentu saja aku dan Alice akan mengurus segalanya selagi kami berdua ada di sana. Wah.. Aku benar-benar terkejut karena kau menggali informasi tentang kami, tapi yang jelas dan ingin ku tekankan kepadamu apa yang kamu peroleh belum tentu adalah sebuah kebenarannya!" ucap Ashraf panjang kali lebar menjelaskan segalanya.


"Kau..." jawab Kafin yang tidak tahu lagi harus berkata-kata apa setelah mendengar jawaban dari Ashraf barusan.


"Aku rasa pembicaraan kita cukup sampai di sini, saya permisi bapak Kafin yang terhormat!" ucap Ashraf kemudian memotong pembicaraan keduanya begitu saja, sebelum pada akhirnya Kafin akan kembali menggali sesuatu yang tidak Ashraf ia inginkan.


Sedangkan Kafin yang melihat kepergian Asraf dari hadapannya saat ini, lantas hanya terdiam sambil menatap ke arah kepergian Asraf dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tangan Kafin terlihat jelas mengepal saat ini karena marah akan setiap kata yang tidak sesuai dengan harapannya.


Semua ini benar-benar tidak ingin Kafin dengar, niat hati ingin menyudutkan Ashraf ketika tanpa sengaja melihatnya berada di Resto yang sama dengan dirinya, lantas harus berbalik dan mengenainya sendiri. Kafin menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar.


Sebuah suara yang sama sekali tidak ingin ia dengar mendadak menyapa telinganya, membuat Kafin lantas berdecak dengan kesal ketika mendapati suara tersebut.

__ADS_1


"Tuan, bisakah kita untuk pergi sekarang? Aku rasa pak Septi sidah menunggu kita." ucap Dimas yang lanta membuat Kafin kesal bukan main.


"Diam kau! Kalian semua bisanya hanya membuat ku kesal saja!" pekik Kafin dengan nada yang kesal sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana, yang tentu saja membuat Dimas kebingungan ketika mendapati hal tersebut.


***


Sementara itu di sebuah desa yang ada di daerah Jawa terlihat saat ini Alice tengah sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam. Alice sampai di desanya tepat sore harinya, tangis haru menyambut kedatangan Alice saat itu. Apa lagi ketika Ibunya melihat seorang anak kecil nan gemuk nampak terlihat turun dan mengikuti langkah kaki Alice saat itu.


"Sudah lama sekali aku tidak memasak di dapur ini, aku benar-benar merindukannya." ucap Alice tersenyum dengan lebar.


Di saat Alice tengah sibuk memotong beberapa bahan yang akan ia gunakan untuk memasak hidangan makan malam. Sebuah suara yang berasal dari arah ambang pintu dapur, lantas langsung membuat Alice menghentikan gerakannya dengan seketika dan menoleh ke atas sumber suara.


"Ibu tidak perlu datang, biar Al yang menyiapkan segalanya." ucap Alice dengan tersenyum simpul.


Namun Ibunya yang mendengar perkataan dari Alice barusan bukannya menuruti perkataannya, lantas malah membawa langkah kakinya mendekat ke arah di mana Alice berada dan menatapnya dengan tatapan yang intens.


"Boleh Ibu bertanya nak?" tanya Ibunya kemudian yang lantas membuat Alice mengernyit dengan tatapan yang bingung.


"Tentu Bu katakanlah..." jawab Alice kemudian.

__ADS_1


"Siapa Ayah biologis dari Putrimu itu?"


Bersambung


__ADS_2