
"Aku bahkan sudah sampai sejauh ini, jika kamu tidak merestui ku aku tetap akan melanjutkannya. Bagi ku anak-anak ku lebih penting daripada perasaan pribadi ku sendiri, aku minta maaf Bi... Aku benar-benar minta maaf..." ucap Kafin dengan nada yang lirih seakan menyesal, namun tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk kedua anaknya selain meneruskan rencananya dari awal.
Kafin menghela napasnya dengan panjang sambil kembali menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kebesarannya. Sampai kemudian sebuah deringan ponsel miliknya, lantas langsung membuyarkan segala pemikiran yang ada di kepalanya saat itu.
Kafin yang melihat sebuah nomor ponsel baru tertera dengan jelas di layar ponsel miliknya, lantas mengernyit dengan tatapan yang penasaran seakan bertanya-tanya siapa gerangan yang saat ini tengah menghubunginya.
"Halo..." ucap Kafin tepat setelah menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Selamat siang Pak, kami dari kantor kepolisian hendak mengabarkan jika ibu Alice tengah mengalami kecelakaan lalu lintas dan saat ini sedang berada di rumah sakit." ucap sebuah suara di seberang sana yang tentu saja langsung mengejutkan Kafin dengan seketika.
"Apa? Bagaimana bisa? Bagaimana keadaannya sekarang?" ucap Kafin dengan raut wajah yang terkejut begitu mendengar hal tersebut.
"Tenanglah Pak, bu Alice hanya mengalami luka ringan saja, silahkan anda datang kemari dan melihat sendiri keadaannya." ucap suara tersebut lagi yang lantas membuat sedikit perasaan lega di dalam hati Kafin saat itu.
"Baiklah saya akan segera pergi ke sana, terima kasih banyak karena telah menghubungi saya." ucap Kafin kemudian sebelum pada akhirnya panggilan tersebut terputus dengan seketika.
Setelah panggilannya terputus, Kafin kemudian lantas mulai bangkit dari posisinya dan membawa langkah kakinya dengan bergegas menuju ke arah rumah sakit di mana Alice tengah berada saat ini.
"Apakah anda ingin keluar Tuan?" ucap Dimas yang tak sengaja bertemu dengan Kafin di ambang pintu ruangannya.
"Aku akan pergi ke Rumah sakit sebentar, kamu tangani lah segalanya hingga nanti aku kembali lagi ke kantor." ucap Kafin sambil terus melangkahkan kakinya tanpa berhenti atau bahkan mengatakan hal lain kepada Dimas saat itu.
__ADS_1
Dimas yang mendengar perintah tersebut tentu saja hanya mengernyit dengan tetapan yang bingung sambil mengikuti arah kepergian Kafin saat itu. Entah apa yang membuat Kafin buru-buru untuk bergegas pergi dari kantornya, namun Dimas sama sekali tidak mengetahui akan hal itu.
"Apa ada sesuatu yang terjadi ya? Tapi mengapa aku tidak tahu apa itu?" ucap Dimas sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menatap ke arah kepergian Kafin yang saat ini sudah tidak lagi terlihat punggungnya di area sana.
***
Rumah sakit
Setelah memarkirkan mobilnya di area parkiran Rumah Sakit, Kafin nampak melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas menuju ke arah ruang UGD di Rumah Sakit tersebut. Hanya saja langkah kakinya terhenti ketika seorang petugas kepolisian nampak langsung mencegah langkah kakinya sebelum ia bisa menemui Alice saat itu.
"Apa anda keluarga dari ibu Alice?"tanya seorang petugas kepolisian ketika melihat Kafin baru saja datang dan hendak masuk ke dalam ruang UGD.
"Iya saya suaminya, ada apa ya Pak?" ucap Kafin dengan raut wajah yang penasaran, namun sambil sesekali melirik ke arah ruang UGD seakan tengah mencari keberadaan Alice saat ini di dalam.
"Dia memang tidak memiliki riwayat penyakit apapun, hanya saja beberapa bulan yang lalu ia sempat mengalami sebuah kecelakaan yang cukup berat sehingga mengakibatkan ia mengalami cedera otak dan hilang ingatan. Selain itu akibat dari kecelakaan yang ia alami istri saya mempunyai sedikit trauma ketika berkendara atau melihat hal-hal yang berkaitan dengan kecelakaan." ucap Kafin menjelaskan detailnya kepada petugas polisian tersebut.
"Baik informasi ini sudah cukup untuk mengisi laporan kami, saran kami sebaiknya jangan biarkan bu Alice berkendara dalam waktu dekat ini. Karena bu Alice hanya korban dalam kasus ini, kami tidak ada alasan lagi untuk menahannya, kami permisi..." ucap petugas polisi tersebut sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari hadapan Kafin saat itu.
Setelah kepergian polisi tersebut dari hadapan Kafin, tanpa membuang waktu lagi Kafin lantas langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang UGD untuk melihat keadaan Alice saat ini.
**
__ADS_1
Ruang UGD
Kafin yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang UGD, lantas mulai memperlambat langkah kakinya ketika mendapati Alice sudah duduk di brankar pasien dengan tatapan kosong ke arah depan menatap ke arah tirai pembatas yang membatasi antara ranjang pasien satu dengan ranjang pasien di sebelahnya.
Kafin menghela napasnya dengan lega ketika mendapati Alice tidak mengalami sesuatu hal yang berat dan hanya beberapa luka ringan saja yang terlihat di plester di bagian kening dan juga sikunya. Sambil membawa langkah kakinya dengan perlahan Kafin nampak mulai mendudukkan pantatnya tepat di sebelah Alice saat itu, membuat Alice yang sedari tadi tengah melamun lantas langsung menatap ke arah sebelah dengan seketika.
"Apa kamu baik-baik saja?" ucap Kafin dengan raut wajah yang khawatir menatap ke arah Alice saat itu.
Alice yang mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung menoleh dengan ketika ke arah Kafin. Ditatapnya raut wajah Kafin dengan tatapan yang intens dan juga dalam. Entah apa yang saat ini tengah memenuhi isi kepalanya, namun Alice seakan seperti ingin menanyakan sesuatu kepada Kafin yang mungkin akan menjadikannya jembatan untuk ia mengetahui semua permasalahan yang tengah ia alami.
Hanya saja ketika sebuah pertanyaan hendak ia lontarkan kepada Kafin saat itu, Alice yang baru mengingat tentang Belinda dan juga Altair yang belum sempat ia jemput tentu saja langsung terkejut. Membuat Kafin yang melihat perubahan ekspresi yang di tunjukkan oleh Alice hanya bisa menatapinya dengan tatapan yang bingung.
"Bagaimana dengan anak-anak? Aku bahkan belum sempat menjemput mereka." ucap Alice dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.
"Tenanglah anak-anak aman di rumah, kamu tidak perlu khawatir yang penting sekarang sehatkan dulu dirimu, baru pikirkan anak-anak." ucap Kafin dengan nada yang lembut sambil mengusap punggung Alice saat itu.
Mendengar hal tersebut membuat perasaan Alice melega seketika. Alice menundukkan kepalanya sejenak sambil menarik napasnya dalam-dalam. Membuat Kafin yang melihat tingkah Alice seperti itu semakin dibuat bertanya-tanya, akan apa yang sebenarnya terjadi kepada Alice saat ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepada ku Kaf? Apa kamu bisa mengatakan yang sejujurnya kepadaku?" ucap Alice dengan tiba-tiba yang tentu saja langsung mengejutkan Kafin saat itu juga.
"Apa Alice sudah mengingat semuanya?"
__ADS_1
Bersambung