Move

Move
Sebuah fakta


__ADS_3

Setelah mendapatkan informasi yang Kafin inginkan, saat itu tanpa membuang waktunya Kafin langsung membuka email pribadi miliknya untuk melihat beberapa informasi yang baru saja di kirimkan oleh Dimas kepadanya.


Seulas senyum nampak terlihat jelas dari wajah Kafin saat itu, ketika mendapati jika baik Ashraf maupun Alice tidak pernah mendaftarkan pernikahan keduanya sekalipun. Tidak hanya itu saja informasi yang di berikan oleh Dimas melalui email pribadi milik Kafin. Melainkan sebuah fakta yang mengejutkan sekaligus membuat Kafin mengernyit ketika mengetahui hal tersebut, dimana akta kelahiran putrinya hanya tertulis nama Alice di sana. Dengan kata lain tidak ada nama sang Ayah dalam akta kelahiran tersebut.


Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Kafin langsung mengernyit begitu mendapati semua informasi tersebut.


"Jika dia adalah anak dari hasil perbuatan terlarang keduanya, mengapa Alice dan Ashraf tidak menikah? Bukankah jika seperti ini akan ada pertanyaan dari pihak luar akan putri mereka?" ucap Kafin mencoba untuk menerka-nerka tentang segala kemungkinan yang terjadi.


Deg


Disaat Kafin mencoba untuk mencocokkan segalanya, Kafin yang baru menyadari akan satu hal lantas langsung terdiam dengan perasaan jantung yang teramat berdebar. Sebuah spekulasi muncul di kepalanya saat ini, memunculkan sebuah letupan-letupan kecil kebahagian dalam hatinya yang telah lama berada dalam musim kemarau.


"Jika memang itu adalah anak keduanya, aku rasa itu tidaklah mungkin. Durasi kehamilan Alice dan juga kepergian Alice dari Rumah ini begitu berdekatan. Lagi pula Alice pergi tepat ketika ia mulai mengingat segalanya. Bukankah ketika itu ia baru beberapa kali bertemu dengan Ashraf? Tentu tidak mungkin jika Ashraf dan juga Alice melakukan suatu hubungan dan langsung jadi hanya dalam jarak waktu yang singkat. Jangan bilang...." ucap Kafin kemudian terhenti ketika ia menyadari ada sesuatu yang salah.


Menyadari hal tersebut lantas membuat Kafin kembali menatap ke arah layar iPad miliknya dengan tatapan yang intens. Sampai beberapa menit kemudian Kafin yang seakan menemukan titik terang dalam pemikirannya, lantas tersenyum dengan tipis sambil menatap ke arah layar iPad miliknya.


"Sepertinya aku tahu apa yang membuat mereka tidak menikah walau sudah beberapa tahun tinggal bersama." ucap Kafin dengan senyuman yang mengembang terlihat jelas pada raut wajahnya saat itu.


***


Keesokan paginya


Alice yang baru saja mandi lantas terlihat melangkahkan kakinya keluar dari kamar hendak membuat sarapan. Namun ketika langkah kakinya baru saja sampai di area meja makan, Alice yang melihat Ashraf sudah siap dengan pakaian kerjanya lantas membuat Alice mengernyit dengan raut wajah yang penasaran.

__ADS_1


"Kamu sudah mau pergi ke kantor? Tidak sarapan dulu?" ucap Alice yang tentu saja langsung membuat langkah kaki Ashraf terhenti dengan seketika.


"Ada meeting penting pagi ini, sepertinya aku tidak bisa sarapan bersama dengan kalian." ucap Ashraf dengan raut wajah yang kecewa.


"Baiklah, jangan lupa untuk sarapan dan jaga kesehatan. Oh ya.. Mungkin nanti aku tidak akan ada di Rumah, aku ingin pergi mengunjungi Ibuku." ucap Alice kemudian mencoba menyampaikan niatannya.


"Apa kamu yakin akan pergi ke sana, mengapa tidak menunggu ku saja atau lusa? Mungkin aku akan lebih longgar." ucap Ashraf yang seakan tidak rela jika Alice pergi tanpa dirinya.


"Tidak perlu repot-repot, bukankah kamu ingin segera menyelesaikan urusan mu di sini? Jika kamu cuti hanya untuk mengantar ku ke kampung urusan mu pasti akan semakin lama selesainya." ucap Alice kemudian menolak secara halus tawaran Ashraf untuk mengantarnya.


"Aku sama sekali tidak apa Al..." ucap Ashraf namun terpotong oleh perkataan Alice barusan.


"Jangan khawatirkan aku, aku janji tidak akan lama.. Aku pastikan jika aku akan pulang lusa." ucap Alice sambil tersenyum yang lantas membuat Ashraf menghela napasnya dengan panjang.


"Baiklah, ajak pak Cokro bersama denganmu. Jika tidak maka aku tidak akan mengijinkan mu untuk pergi." ucap Ashraf pada akhirnya.


Setelah memastikan segalanya Ashraf kemudian kembali melangkahkan kakinya berlaku pergi dari sana meninggalkan Alice seorang diri di area meja makan.


"Setidaknya aku bisa melepas rasa kangen ku pada Ibu, meski hanya sebentar saja." ucap Alice pada diri sendiri sambil menatap punggung Ashraf yang terlihat semakin jauh dari pandangannya.


***


Sementara itu seperti perkataannya kepada Alice pagi tadi. Hari ini agenda Ashraf benar-benar padat. Beberapa kali ia nampak berpindah-pindah tempat untuk melakukan meeting sekaligus bertemu dengan klien yang sudah menanti kedatangannya.

__ADS_1


"Saya sangat menyukai kinerja perusahaan bapak, saya berharap kerja sama kita akan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang." ucap seorang klien memuji kehebatan performa perusahaan Ashraf.


Mendengar sanjungan tersebut tentu saja membuat Ashraf begitu tersanjung. Senyuman tipis bahkan selalu terlihat mengembang pada raut wajahnya saat itu.


"Jangan terlaku memuji Pak, bukankah dalam berbisnis kita harus selalu saling menguntungkan?" ucap Ashraf kemudian.


"Tentu saja, itu adalah sebuah keharusan... Saya sangat puas berbisnis dengan anda, lain kali kita adakan makan malam bersama ajak serta keluarga anda untuk datang." ucap klien tersebut dengan nada yang memancing.


Semua orang jelas tahu kabar yang berhembus dengan luas jika Ashraf tinggal satu atap dengan seorang wanita tanpa sebuah ikatan pernikahan. Dan kali ini Reno yang juga penasaran akan kabar tersebut berusaha untuk memancing Ashraf.


Ashraf yang mendengar dengan jelas perkataan dari Reno barusan hanya sebuah pancingan, lantas tersenyum dengan tipis.


"Tentu saja Pak, saya benar-benar menantikannya." ucap Ashraf sambil bangkit dan mengangkat tangannya.


Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Reno langsung tersenyum dengan kecut. Sambil mencoba bersikap untuk bersikap biasa saja, Reno kemudian terlihat mulai bangkit dan menyalami Ashraf.


"Dengan senang hati, kalau begitu saya permisi dulu..." ucap Reno tepat setelah bersalaman dengan Ashraf barusan.


Setelah kepergian Reno dari sana, Ashraf terlihat kembali mendudukkan pantatnya di kursi sambil sedikit menarik dasi yang ia kenakan ke arah kiri dan kanan. Diminumnya segelas air putih yang tersaji di atas meja saat itu, sepertinya perkataan dari Reno barusan benar-benar telah menyinggungnya. Sehingga membuat Ashraf sedikit gelisah akan hal tersebut.


"Benar-benar menyebalkan, aku yakin dia pasti tahu sesuatu!" ucap Ashraf dengan raut wajah yang kesal dengan tatapan yang lurus ke arah depan.


Disaat perasaan kesal tengah membumbung dihatinya, sebuah suara yang sama sekali tidak ingin ia dengar saat itu mendadak menggema di telinganya.

__ADS_1


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini, Ashraf Matthew." ucap sebuah suara yang lantas membuat Ashraf pada akhirnya mau tidak mau lantas berbalik badan menatap ke arah sumber suara.


Bersambung


__ADS_2