Move

Move
Jangan lupa untuk memberinya makan


__ADS_3

"Non Bianca, anda pulang?" ucap Darto dengan raut wajah yang terkejut.


Namun Alice yang memang fokusnya menatap lurus ke depan, seakan tidak mendengar pertanyaan dari Darto barusan lantas terus membawa langkah kakinya menuju ke arah pintu utama. Hari ini Alice harus benar-benar membawa Caramel pulang dengan tangannya sendiri.


Deringan ponsel miliknya yang berasal dari Ashraf sama sekali tidak ia hiraukan, yang ada di pikirannya saat ini hanya bagaimana caranya ia membawa kembali Caramel pulang bersama dengannya.


Ceklek..


Suara pintu yang terbuka dari luar memunculkan Dimas dari dalam sana dan langsung terkejut ketika mendapati penampilan Alice saat ini.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Dimas yang terlihat sedikit aneh akan penampilan Alice saat ini.


Lagi dan lagi Alice sama sekali tidak memperdulikan sekeliling, yang ia pikirkan saat ini hanya Caramel dan Caramel. Membuatnya sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan dari Dimas barusan, yang Alice lakukan hanya melangkahkan kakinya masuk ke dalam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


Mendapati hal tersebut Dimas hanya bisa mengernyit dengan tatapan yang penasaran. Entah apa yang sedang terjadi kepada Alice saat ini, namun yang jelas Alice terlihat sedang tidak baik-baik saja.


"Sudahlah lagi pula tugas ku sudah selesai, jadi Dimas mari untuk bersikap acuh dan kembali melakukan tugas mu yang lain. Sepertinya kerjaan ku akan semakin menumpuk..." ucap Dimas sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian mulai melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana.


**


Dengan tatapan yang kosong Alice terlihat mempercepat langkah kakinya memasuki area Rumah saat itu. Sampai kemudian langkah kakinya lantas terhenti ketika mendapati suara seseorang yang memang sedang ia cari sedari tadi keberadaannya.


"Apa kamu akan terus mengelilingi Rumah ini dengan penampilan yang seperti itu?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Alive menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


Mendengar suara tersebut tentu saja membuat Alice langsung berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara. Raut wajah penuh kelelahan dan juga keringat yang masih bercucuran terlihat jelas di pelipis Alice saat itu, membuat Kafin yang melihat penampilan Alice saat ini lantas terlihat mengernyit dengan tatapan yang bingung.


Perasaan khawatir mendadak menghampiri dirinya ketika mendapati penampilan Alice yang seperti itu. Padahal kancing baju Alice yang terlepas merupakan ulah darinya sebelumnya. Namun sepertinya Kafin melupakan hal tersebut, sehingga membuatnya memutuskan untuk melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alice berada saat ini.

__ADS_1


"Apa yang terjadi kepadamu? Apakah kamu berlarian hingga sampai ke tempat ini? Mengapa kamu tidak menelpon ku Al? Lihatlah keringat mu.." ucap Kafin dengan raut wajah yang khawatir sambil berusaha untuk mengusap keringat Alice saat itu.


Hanya saja sayangnya Alice yang kedatangannya bukanlah untuk meminta belas kasihan ataupun simpati dari Kafin, begitu mendapati perlakuan tersebut lantas langsung menepis tangan Kafin begitu saja.


"Jangan memperdulikan ku saat ini, katakan saja dimana Caramel. Saat ini aku sedang tidak ingin berbasa-basi.." ucap Alice dengan raut wajah yang datar.


Kafin yang mendapati nada ketus dari Alice barusan lantas langsung berbalik badan dan memunggungi Alice saat itu. Ditatapnya tangannya yang baru saja dihempaskan oleh Alice, kemudian menarik napasnya dengan kasar.


"Apakah kita harus berakhir seperti ini Al? Ini bahkan sudah bertahun-tahun, tidakkah kamu lelah?" ucap Kafin sambil menundukkan kepalanya.


Alice tidak tahu apa yang sedang coba di katakan oleh Kafin saat ini, perlahan-lahan pandangannya mendadak buram membuatnya lantas terlihat menggelengkan kepalanya secara pelan seakan mencoba untuk menstabilkan kesadarannya.


"Jangan terus berbicara yang tidak perlu Kaf, aku sudah lelah terus bermain kata-kata dengan mu.. Diantara kita benar-benar telah selesai, jadi ku harap cepat katakan dimana Caramel saat ini." ucap Alice sambil terus berusaha menatap punggung Kafin yang terlihat mulai menjadi dua di matanya.


"Kau tidak mengerti apapun Al, tidak ada yang benar-benar selesai di antara kita. Kamu lah yang mengakhiri segalanya secara sepihak, aku benar-benar..." ucap Kafin namun terpotong ketika ia mendengar seperti benda jatuh di belakangnya saat itu.


Kafin yang penasaran akan suara tersebut lantas langsung berbalik badan untuk melihat suara apa barusan. Betapa terkejutnya Kafin ketika ia berbalik dan mendapati jika Alice sudah tergeletak pingsan di lantai saat itu.


"Alice... Apa yang terjadi? Buka matamu Al..." ucap Kafin sambil mengangkat dengan spontan kepala Alice dan menggoyangkan sedikit tubuhnya saat itu.


Kafin yang menggoyang tubuh Alice berulang kali namun tidak ada respon apapun, lantas memutuskan untuk menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke kamar utama.


.


.


.

__ADS_1


Setelah memeriksa keadaan Alice, Fatur terlihat bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkahkan kaki dengan perlahan mendekat ke arah dimana Kafin berada saat itu.


"Apa dia baik-baik saja?" ucap Kafin dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Kau itu bagaimana? Seharusnya setelah bercinta dengannya kau juga harus memberikannya makan, jangan menyiksanya seperti itu.. Benar-benar tidak punya hati." ucap Fatur dengan nada yang menyindir membuat Kafin yang mendengar hal tersebut lantas langsung mengernyit dengan seketika.


"Apa maksud perkataan mu sebenarnya? Jangan membuat ku bingung seperti ini!" ucap Kafin dengan nada yang datar namun berhasil membuat Fatur menghela napasnya dengan panjang saat itu.


"Dia mengalami dehidrasi, aku sudah memasangkan infus untuknya. Mengapa wajah mu tegang sekali? Jangan memasang raut wajah yang melotot seperti itu, dia sudah baik-baik saja sekarang. Hanya satu pesan ku jangan lupa untuk memberinya makan jika sudah berolahraga panas, kau benar-benar keterlaluan Kaf.." ucap Fatur sambil menepuk pundak Kafin saat itu kemudian berlalu pergi dari sana, membuat Kafin lantas memutar bola matanya dengan jengah.


"Sialan kau!" pekik Kafin yang lantas membuat tawa keras terdengar menggema dari sana yang berasal dari Fatur.


Setelah kepergian Fatur dari ruangan kamarnya, Kafin terlihat menatap lurus ke arah Alice yang saat ini masih menutup matanya dengan rapat. Kepalan tangannya terlihat begitu erat saat itu, ketika kembali teringat akan tingkah Ashraf yang begitu keterlaluan dan tidak lagi bisa ia terima.


"Kau benar-benar kurang ajar Ashraf, lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu!" ucap Kafin dengan tatapan lurus ke arah depan.


***


Sementara itu di kediamannya, Ashraf yang tidak dapat menghubungi Alice lantas memutuskan untuk pulang ke Rumah. Tanpa membuang waktu lagi Ashraf terlihat mulai menyusuri setiap sudut area Rumahnya untuk mencari keberadaan Alice.


"Kamu dimana sebenarnya Al? Mengapa kamu tidak menjawab telpon ku?" ucap Ashraf dnegan raut wajah yang cemas.


Disaat Ashraf tengah kebingungan mencari keberadaan Alice saat itu, sebuah notifikasi pesan singkat lantas terdengar dan menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


"Apa-apaan ini!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2