
Kafin yang mendengar keberadaan Alice dari seseorang, lantas terus berlari dan berlari menuju ke arah ruang UGD. Dengan perasaan yang tak karuan Kafin terus mempercepat langkah kakinya menuju ke arah sana.
Setelah melewati beberapa lorong, langkah kaki Kafin lantas terhenti ketika melihat Alice nampak begitu kesakitan sambil bertumpu kepada tembok lorong tersebut. Melihat hal itu tentu saja membuat hati Kafin berdenyut dengan seketika. Diambilnya langkah kaki lebar menuju ke arah dimana Alice berada saat ini.
Tanpa membuang waktu lagi Kafin langsung memeluk tubuh Alice dengan erat, membuat Alice yang sedang berusaha mengatur napasnya lantas sedikit terkejut akan pelukan erat dari Kafin barusan. Ditatapnya raut wajah Alice yang begitu pucat dengan keringat dingin yang membasahi area keningnya saat itu, membuat perasaan khawatir dan takut semakin memenuhi hatinya saat itu.
"Bernapas lah secara perlahan Al.. Pelan-pelan.. Tarik napas mu secara perlahan, tenangkan dirimu kamu pasti bisa... Lakukan secara perlahan Al.." ucap Kafin tepat setelah melepas pelukannya pada Alice.
"Aku.. hhhhhhhhh aku hhhh" ucap Alice dengan napas yang tersendat-sendat sambil berusaha menggenggam kemeja Kafin dengan tangan yang gemetar.
Kafin yang melihat Alice tak kunjung membaik juga lantas langsung menggendongnya ala bridal style dan membawanya menuju ke UGD untuk mendapat pertolongan.
"Dok.. Dokter... Tolong istri saya... Dokter..." teriak Kafin dengan nada yang meninggi membuat beberapa orang yang ada di sana, lantas langsung menatap ke arah Kafin dengan tatapan yang bertanya.
Mendengar teriakan dari Kafin lantas membuat beberapa perawat langsung membawa brankar pasien ke arah keduanya. Membuat Kafin langsung meletakkan tubuh Alice di atas sana dengan perlahan dan mendorongnya menuju ke arah UGD. Hanya saja ketika Kafin hendak ikut masuk ke dalam ruangan UGD, seorang perawat nampak menghentikan langkah kakinya saat itu.
"Sebaiknya Bapak tunggu di luar biar kami yang akan menangani istri anda." ucap seorang perawat sebelum pada akhirnya menutup pintu UGD dan menyisakan Kafin di luar dengan tatapan yang penuh ke khawatiran.
Kafin yang melihat pintu tertutup di depan matanya, tentu saja langsung mengusap raut wajahnya dengan kasar. Kafin benar-benar takut sesuatu hal buruk terjadi kepada Alice saat ini. Kafin bahkan terus merutuki kebodohannya yang meninggalkan Alice seorang diri tadi di ruang tunggu.
__ADS_1
"Aku mohon bertahanlah Al... Aku mohon..." ucap Kafin pada diri sendiri sambil terus menatap ke arah pintu yang saat ini masih tertutup dengan rapat.
Disaat perasaan khawatir menyelimuti dirinya ketika menunggu Alice di sana, sebuah deringan ponsel miliknya lantas berdering dan mengejutkan Kafin saat itu. Kafin menghela napasnya dengan panjang begitu melihat nama Altair tertulis dengan jelas pada layar ponsel miliknya. Sambil menarik napasnya dalam-dalam Kafin kemudian mulai menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Halo..." ucap Kafin kemudian tepat setelah meletakkan ponsel di telinganya.
"Apakah Ayah dan Bunda sedang pergi keluar? Mengapa ketika kami pulang sekolah Bunda tidak ada di rumah?" tanya Altair langsung pada intinya membuat helaan napas lantas terdengar dengan jelas dari mulutnya.
"Sebentar lagi kami pulang ya nak, Bunda dan Ayah saat ini tengah keluar sebentar. Altair jaga Belinda selama Bunda dan Ayah belum pulang ya..." ucap Kafin dengan nada yang terdengar serak.
"Tentu Ayah, tapi Ayah janji akan kembali membawa Bunda pulang bukan?" ucap Altair yang lantas membuat Kafin semakin merasa sesak ketika mendengarnya.
"Baiklah kalau begitu hati-hati di jalan dan jaga Bunda." ucap Altair kemudian.
"Tentu nak" ucap Kafin lagi sebelum pada akhirnya panggilan telpon tersebut terputus.
Kafin mengusap raut wajahnya dengan kasar kemudian kembali menatap pintu UGD dengan tatapan yang intens seakan menunggu pintu itu terbuka. Hingga kemudian tak berapa lama seorang Dokter nampak keluar dari ruangan tersebut dan datang menghampiri Kafin.
"Maaf apakah sebelumnya pasien pernah mengalami kejadian yang besar dan memiliki sebuah trauma berat? Aku rasa penyebabnya ada pada rasa trauma yang terletak pada dirinya. Dalam beberapa kasus trauma yang terjadi pada seseorang dapat menimbulkan dampak buruk termasuk juga kematian. Saya sudah memberikannya suntikan obat penenang namun hal ini tidak akan bisa mengurangi trauma dalam dirinya, saya sarankan agar anda membantu pasien dalam menghadapi trauma yang ia miliki secara bertahap dan perlahan agar bisa sembuh sepenuhnya." ucap Dokter tersebut menjelaskan kondisi Alice kepada Kafin, membuat Kafin langsung terdiam sejenak di tempatnya mencerna setiap perkataan yang di ucapkan oleh Dokter tersebut.
__ADS_1
"Apakah saya sudah bisa masuk Dok?" tanya Kafin kemudian.
"Tentu saja, namun karena pasien sedang istirahat saya harap anda bisa tenang dan membiarkannya untuk beristirahat." ucap Dokter tersebut sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari hadapan Kafin.
**
Ruangan UGD
Dari arah pintu masuk terlihat Kafin melangkahkan kakinya dengan perlahan semakin masuk ke dalam mendekat ke arah di mana ranjang pasien milik Alice berada. Melihat Alice terbaring di sana membuat hati Kafin berdenyut dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Kafin berhenti tepat di sebelah ranjang pasien tersebut dan menatap ke arah raut wajah Alice yang terlihat pucat saat itu. Tubuh Kafin luruh begitu saja ke lantai sambil memegangi dengan erat tangan Alice kemudian menciumi tangan itu.
Perasaannya saat ini benar-benar tak karuan, disaat rasa yang begitu menyeruak memenuhi hatinya, ingatan tentang sebuah kecelakaan mendadak berputar di kepala Kafin saat itu. Dalam ingatannya Kafin sangat jelas mengingatnya jika ia tak sengaja membanting setir ke arah kiri dan menyebabkan mobil yang ia tumpangi menabrak ke arah pohon beringin besar di tepi jalan. Sebuah peristiwa naas yang sama sekali tidak ingin Kafin kenang kembali walau hanya terlintas sepersekian detik dalam pikirannya.
Kafin yang sedari tadi memejamkan matanya lantas mulai membukanya dan menatap ke arah Alice yang masih menutup matanya hingga kini.
"Aku benar-benar minta maaf, aku janji akan menjaga mu lebih baik lagi.. Tapi aku mohon jangan lakukan ini karena aku benar-benar tidak menyukainya. Marahi saja aku sesuka mu tapi aku mohon jangan seperti ini." ucap Kafin sambil mencium punggung tangan Alice berulang kali karena Kafin benar-benar takut kehilangan Alice saat ini.
"Jangan tinggalkan aku lagi Al.. Aku mohon.. Aku dan anak-anak telah berjuang selama ini.. Aku mohon jangan tinggalkan aku..." ucap Kafin lagi hingga tanpa sadar ia meneteskan air mata do sudut kelopak matanya.
Bersambung
__ADS_1