
Kamar utama
Di atas ranjang dengan ukuran king size, nampak Kafin mulai menggeliat mencari sebuah kehangatan dengan mencoba untuk memeluk tubuh Alice saat itu. Namun ketika ia menoleh ke arah samping dan merenggangkan tangannya, Kafin lantas mengernyit ketika mendapati Alice menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Kafin yang tadinya dalam posisi tertidur, lantas langsung bangkit dari posisi tidurnya. Kafin mengira jika Alice saat ini tengah kembali demam hingga menutup seluruh bagian tubuhnya menggunakan selimut yang tebal. Sambil sesekali menguap Kafin terlihat mulai menggoyangkan bagian atas tubuh Alice untuk melihat keadaan Alice saat ini.
"Al apa kamu baik-baik saja? Bagian mana yang sakit? Biar aku bantu meredakannya dengan pijatan..." ucap Kafin sambil menguap karena ia masih mengantuk.
Beberapa kali menggoyangkan tubuh Alice anehnya Alice sama sekali tidak merespon, membuat Kafin lantas langsung mengernyit sambil menatap ke arahnya dengan tatapan yang intens.
"Al jangan membuatku takut, jika kamu sakit sebaiknya kita..." ucap Kafin namun terhenti ketika ia membuka selimut dan tidak mendapati Alice di sana melainkan hanya sebuah guling saja.
Kafin yang tak mendapati Alice di area kamarnya tentu saja langsung membuat Kafin bertanya-tanya akan dimana keberadaan Alice saat ini.
"Dimana Alice? Tidak mungkin jika dia..." ucap Kafin sambil langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berlalu pergi dari kamarnya begitu saja.
**
Area tangga
Sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar Kafin mulai membawa langkah kakinya menuruni satu persatu anak tangga dengan langkah kaki yang bergegas. Perasaan khawatir mulai datang dan menyelimuti Kafin ketika ia tak mendapati keberadaan Alice dimanapun termasuk kamar tidur anak-anak sekalipun.
Dengan gerakan yang perlahan tapi pasti, Kafin yang mengira jika Alice pergi keluar rumah malam-malam begini, lantas langsung menghentikan langkah kakinya ketika ia tak sengaja melihat pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka.
Kafin yang mendapati hal tersebut tentu saja langsung mengernyit, Kafin benar-benar yakin jika sebelumnya ia telah menutup dengan rapat pintu ruang kerjanya sebelum pada akhirnya mulai naik dan pergi tidur.
"Apa mungkin Alice pergi ke dalam? Tidak..." ucap Kafin sambil langsung mengambil langkah kaki seribu menuju ke arah ruang kerjanya.
__ADS_1
**
Ruang kerja Kafin
"Apa yang sedang kamu lakukan Al?" tanya sebuah suara yang lantas langsung menghentikan gerakan tangan Alice dengan seketika.
Alice yang mendengar sebuah suara tak asing di telinganya tentu saja langsung terkejut dengan seketika.
"Sial, mengapa aku harus tertangkap ketika belum mendapatkan apapun? Apa yang harus aku katakan kepadanya?" ucap Alice sambil memejamkan matanya sejenak.
Disaat Alice kebingungan ketika ditanya apa yang sedang ia lakukan. Kafin terlihat mulai membawa langkah kakinya semakin masuk ke dalam untuk melihat apa yang sedang di cari oleh Alice saat itu.
"Al.. Ada apa?" tanya Kafin dengan raut wajah yang penasaran karena Alice tak kunjung menjawabnya juga.
Alice bangkit dari posisinya dan perlahan-lahan mulai berbalik badan menatap ke arah Kafin yang saat itu telah berada di belakangnya.
Kafin yang melihat hal tersebut bukan fokus kepada apa yang di tunjukkan oleh Alice saat itu, melainkan fokus kepada laci yang terbuka di belakang Alice, dimana laci tersebut menampilkan dengan jelas sebuah berkas pernikahan namun hanya bagian kopnya saja.
Melihat hal tersebut Kafin yang takut jika Alice telah melihat hal itu, lantas langsung mengangkat tubuh Alice begitu saja dan meletakkannya di atas meja. Sedangkan bagian kakinya mendorong laci tersebut agar menutup dengan sempurna. Merasakan pergerakan yang tiba-tiba membuat Alice yang tubuhnya di angkat seperti itu tentu saja langsung terkejut bukan main.
"Ap..pa yang kamu lakukan?" tanya Alice dengan raut wajah yang bingung.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Kafin yang sedari tadi menoleh ke arah bawah, lantas langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Aku hanya ingin mengecek suhu tubuh mu saja.. Emm.. Demam mu sudah turun ternyata.." ucap Kafin sambil menempelkan telapak tangannya ke arah kening Alice saat itu.
"Dengan cara seperti ini? Bukankah tanpa kamu mengangkat ku ke atas kamu masih tetap bisa menjangkau ku?" ucap Alice dengan raut wajah yang penasaran akan tingkah Kafin yang begitu aneh.
__ADS_1
Kafin yang baru menyadari apa yang ia lakukan tentu saja langsung menurunkan tubuh Alice kembali ke lantai sambil tersenyum dengan garing, membuat helaan napas lantas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Alice saat itu.
"Maaf, aku hanya reflek saja melakukan hal tersebut." ucap Kafin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Iya sudah kalau begitu, aku akan kembali ke kamar dan meminum obatnya.. Kamu kembali lah tidur ini masih larut..." ucap Alice kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana dengan mengambil langkah kaki seribu.
Alice benar-benar harus segera pergi dari sana atau Kafin akan menanyainya yang tidak-tidak.
Bruk..
Suara pintu ruang kerja Kafin yang tertutup dengan rapat membuat Alice langsung mengusap bagian dadanya selama beberapa kali. Alice menghela napasnya dengan panjang sambil menatap ke arah pintu yang sudah tertutup dengan rapat itu.
"Mungkin tidak sekarang, tapi entah mengapa aku masih merasa jika Kafin seperti tengah menyembunyikan sesuatu dari ku." ucap Alice sambil menatap ke arah pintu tersebut kemudian berlalu pergi dari sana dan kembali ke kamarnya dengan perasaan yang kecewa karena tidak bisa mendapatkan informasi apapun.
***
Sementara itu di area dalam ruang kerjanya, terlihat Kafin tengah menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup dengan rapat. Kafin benar-benar terkejut ketika mendapati Alice tanpa sengaja hampir menemukan sebuah informasi penting yang sama sekali tidak boleh ia ketahui.
Sambil melirik sekilas ke arah pintu ruangan kerjanya, Kafin mulai membuka perlahan laci tersebut dan mengeluarkan berkas pernikahan yang tadi hanya terlihat bagian kopnya saja.
Kafin menghela napasnya dengan panjang ketika ia membuka berkas pernikahan tersebut dan terdapat dua surat pernikahan. Dimana surat pertama tertulis dengan nama "Kafin Aksan Devendra & Bianca Berlinetta Casandra" sedangkan yang satu lagi berisi nama "Kafin Aksan Devendra & Alice Alexia Zamora".
Dua surat pernikahan dengan dua nama wanita yang berbeda, membuat sebuah tatapan sendu terlihat dengan jelas di raut wajah Kafin saat itu ketika melihat kedua surat pernikahan tersebut yang kini berada tepat di tangannya.
"Aku minta maaf Bi.. Altair dan juga Belinda membutuhkan sosok seorang Ibu, aku tidak pernah mengkhianatimu namun aku mencoba untuk melanjutkan hidup ku!" ucap Kafin hingga tanpa sadar meneteskan setetes air matanya dan mengenai kertas tersebut.
Bersambung
__ADS_1