
"Halo" ucap Alice tepat setelah menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Hai Al, apa aku mengganggu mu? Ini aku Ashraf." ucap sebuah suara di seberang sana.
"Apa?" pekik Alice yang seakan terkejut akan panggilan telpon tersebut yang ternyata adalah nomor ponsel milik Ashraf.
Alice yang mendengar jika suara di seberang sana adalah Ashraf, lantas langsung terdiam dengan seketika. Ia bahkan baru memikirkan segalanya barusan, namun mendadak Ashraf sudah menghubunginya saat ini. Hal tersebut tentu saja membuat hati Alice kian menjadi gelisah, entah apa lagi yang akan terjadi di hidupnya. Namun yang jelas sepertinya misteri yang terdapat pada kotak pandora akan segera terungkap sebentar lagi melalui tangan seorang Ashraf.
"Al apa kamu mendengar ku?" ucap Ashraf kemudian yang tak kunjung mendengar kembali perkataan Alice selain kata 'apa' yang baru saja ia ucapkan.
"Iya aku mendengar mu, tidak hanya mendengar bahkan aku juga mengingat mu. Hanya saja sepertinya kita tidak seharusnya berhubungan seperti ini. Bukankah kita sudah lama terpisah? Saat ini aku sudah memiliki suami, jadi tidak sepantasnya kita berhubungan kembali seperti ini." ucap Alice kemudian yang lantas membuat Ashraf mengernyit begitu mendengar perkataan dari Alice barusan.
"Suami? Apakah maksud mu adalah Kafin? Apa kau yakin jika dia adalah benar-benar suami mu?" ucap Ashraf yang tentu saja langsung membuat Alice terdiam begitu mendengar pertanyaan tersebut.
Jujur saja sejak awal ia membuka matanya, Alice meragukan jika Kafin adalah suaminya. Namun ketika semua bukti dan juga foto yang di tunjukkan oleh Kafin, pada akhirnya membuat Alice tidak bisa menyangkal fakta yang ada di hadapannya.
"Jangan bercanda, aku bahkan sudah memiliki dua anak kembar yang lucu, tapi kamu masih menanyakan hal itu kepada ku?" ucap Alice mencoba untuk menepis segala pemikiran negatif akan Kafin.
"Bisa saja semua hanya manipulasi belakang, aku bisa membuktikannya kepadamu." ucap Ashraf yang seakan membuat hati Alice kian semakin goyah ketika mendengar setiap perkataannya.
"Ini mulai tidak lucu As, ku mohon jangan racuni pikiran ku." ucap Alice dengan nada yang memohon.
"Aku rasa tanpa memancing mu sekalipun, perasaan mu sudah bisa mengetahuinya bukan? Kafin bukanlah orang baik, dia hanya memanfaatkan mu saja. Aku bisa membantu mu keluar dari jeratan Kafin namun harus atas persetujuan darimu." ucap Ashraf sekali lagi mencoba untuk meyakinkan Alice.
"Tapi aku..." ucap Alice hendak menolak opsi tersebut, namun perkataan Ashraf lantas langsung memotong ucapannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan meminta mu untuk langsung percaya akan perkataan ku, hanya saja pikirkan sekali lagi Al... Aku tahu kamu pasti bisa merasakannya selama ini. Kabari aku jika kamu berubah pikiran, aku akan siap membantu mu kapan pun..." ucap Ashraf kemudian sebelum pada akhirnya memutus sambungan telponnya begitu saja.
Tut tut tut....
Setelah sambungan teleponnya terputus barusan, Alice nampak menghela napasnya dengan panjang. Ditatapnya kembali langit-langit malam itu dengan tatapan yang intens, entah apa yang saat ini tengah berada di dalam pikirannya. Namun yang jelas setiap perkataan yang berasal dari mulut Ashraf selalu saja bisa membuat hatinya goyah ketika mendengarnya.
"Mana yang harus aku pilih? Akankah aku mencoba untuk tetap percaya atau malah sebaliknya? Mengapa semua ini membuat kepala ku pusing sekali?" ucap Alice kemudian dengan menggerutu kesal.
Di saat Alice tengah bingung akan keputusan apa yang hendak ia ambil saat ini, sebuah pelukan tangan yang berasal dari area belakangnya. Lantas langsung melingkar di area perutnya, membuat Alice yang tanpa sadar akan kehadiran Kafin barusan tentu saja langsung terkejut bukan main.
"Kafin!" pekik Alice yang lantas membuat Kafin langsung mengernyit begitu mengetahui jika Alice terkejut akan kehadirannya.
"Apakah kamu terkejut? Aku benar-benar minta maaf. Apa yang kamu lakukan malam-malam begini? Jika kamu terus berada di luar kamu akan masuk angin, angin malam benar-benar tidak baik bagi kesehatan." ucap Kafin sambil mendaratkan dagunya pada pundak Alice saat itu.
"Aku hanya mencari angin sebentar sambil menunggu hingga aku mengantuk." ucap Alice sambil terus melangkahkan kakinya dan mengambil posisi duduk di tepi ranjang, yang di susul dengan Kafin di belakangnya.
"Benarkah? Lalu bagaimana keadaan mu? Apakah kamu sudah lebih baik?" ucap Kafin kemudian yang mulai melihat Alice merebahkan tubuhnya di ranjang dan mengambil posisi membelakanginya saat ini.
"Ya lebih baik dari sebelumnya, aku sudah mengantuk aku tidur dulu." ucap Alice kemudian sambil memejamkan kelopak matanya tanpa menunggu jawaban dari Kafin terlebih dahulu.
Sedangkan Kafin yang melihat sikap Alice seperti itu, tentu saja hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Ia benar-benar paham akan alasan dari sikap Alice saat ini, membuat Kafin tidak punya pilihan lain lagi selain ikut merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Baiklah, selamat malam..." ucap Kafin sambil mengecup puncak kepala Alice sebelum pergi tidur.
Alice yang mendapati sikap dari Kafin barusan lantas terlihat membuka kelopak matanya dengan lebar, kemudian melirik sekilas ke arah belakang dimana Kafin yang saat ini tengah mengambil posisi memunggunginya.
__ADS_1
"Aku minta maaf Kaf, setidaknya aku harus mencari tahu segalanya, bukan?" ucap Alice dalam hati sebelum pada akhirnya kembali memejamkan kelopak matanya dan pergi berlayar ke pulau impian.
***
Keesokan harinya
Di area kamar utama terlihat Alice tengah menatap ke arah layar ponselnya dengan tatapan yang termenung. Setelah semalaman berpikir, entah mengapa rasa keingintahuan dalam diri Alice mendadak begitu terpacu. Ditatapnya ruang chat dimana nama Ashraf tertulis dengan jelas di sana, membuat helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Alice.
"Apakah langkah yang aku ambil benar?" ucap Alice kemudian setelah mengirim sebuah pesan singkat kepada Ashraf baru saja.
Disaat Alice tengah sibuk akan keputusan yang harus ia pilih, dari arah ambang pintu kamarnya terlihat Belinda dan juga Altair nampak berlarian masuk ke dalam kamar dengan raut wajah yang kesal.
"Bun tolong kepang kan rambutnya, aku sudah benar-benar kesal karena terus mendengarnya merengek ingin di kepang." pekik Altair sambil menunjuk ke arah Belinda saat itu yang tengah memasang senyuman lebar di wajahnya.
"Benarkah? Sini biar Bunda kepang kan... Lain kali jika kamu ingin di kepang, jangan minta kepada Abang karena ia pasti tidak akan bisa, oke?" ucap Alice kemudian sambil menarik tangan Belinda menuju ke arah meja riasnya.
Cengkling....
Suara pesan singkat yang berbunyi melalui ponsel milik Alice, lantas langsung memunculkan rasa penasaran dalam diri Altair saat itu. Sehingga membuatnya lantas mengintip secara diam-diam ketika Alice tengah sibuk mengepang rambut Belinda.
Aku senang karena kamu menghubungi ku, temui aku di Cafe Bintang pukul 9 nanti. Aku akan menemui mu di sana...
"Siapa Ashraf?"
Bersambung
__ADS_1