Move

Move
Berjuang hingga aku lelah


__ADS_3

Ashraf sampai di kediamannya tepat malam harinya, pekerjaannya hari ini benar-benar begitu banyak hingga membuatnya bekerja lembur hari ini.


Raut wajah lesu terlihat jelas pada wajahnya saat itu begitu langkah kakinya sampai di area dalam kediamannya.


"Mengapa gelap sekali? Apakah Alice dan juga Cara sidah tidur?" ucapnya pada diri sendiri dengan bertanya-tanya.


Sepertinya Ashraf lupa jika malam ini Alice tidak akan pulang karena sedang berkunjung di kediaman orang tuanya. Sampai kemudian ketika langkah kakinya sampai di ambang pintu kamar Cara, Ashraf baru teringat jika tadi pagi Alice meminta ijin untuk tidak pulang malam ini.


"Akh mengapa aku bisa lupa? Bertemu dengan Kafin benar-benar membuat pikiran ku menjadi kacau. Aku sudah menunggu terlalu lama, jika aku harus kalah ketika aku bisa menang. Lalu untuk apa penantian ku selama bertahun-tahun belakang ini? Bukankah hal itu akan terasa sia-sia? Aku mencintai Alice, meski aku menghormati keputusannya tapi aku tetap akan berjuang sampai di titik terakhir dimana aku sudah tidak sanggup untuk kembali berjuang." ucap Ashraf dengan raut wajah yang sendu.


Setelah mengatakan hal tersebut Ashraf kemudian kembali melangkahkan kakinya meninggalkan area kamar Caramel dengan raut wajah yang lesu. Ia benar-benar telah letih menghadapi segala hal yang ada di hidupnya. Entah mengapa semuanya terasa begitu sulit meski ia mencoba untuk melangkahkan kakinya dengan penuh semangat.


***


Sementara itu di kediaman Kafin


Terlihat Kafin tengah berkacak pinggang menatap ke lurus ke arah depan. Perkataan Ashraf di Resto saat itu benar-benar mengacaukan hatinya. Kafin benar-benar tidak suka mendengar perkataan Ashraf yang mengatakan jika kepulangan keduanya untuk mengurus segala persyaratan yang tertunda selama keduanya pergi.


Kafin nampak gelisah sambil mengusap raut wajahnya dengan kasar. Apapun itu Kafin tidak akan pernah menyetujui jika sampai Ashraf dan juga Alice bersama dalam ikatan pernikahan.


Disaat segala perasaan bercampur menjadi satu di hatinya saat itu, sebuah suara yang berasal dari ambang pintu lantas membuat Kafin kesal karenanya.

__ADS_1


"Yah ada sesuatu yang harus kamu..." ucap sebuah suara yang berasal dari Belinda namun terhenti ketika mendengar nada sentakan dari Kafin barusan.


"Apa lagi sih? Tidak bisakah kalian memberikan ku ruang untuk menenangkan pikiran ku barang sejenak?" pekik Kafin dengan tiba-tiba yang tentu saja lantas mengejutkan Belinda saat itu.


Belinda yang terkejut akan teriakan Kafin barusan lantas menghentikan langkah kakinya sejenak. Namun sedetik berikutnya kembali melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang besar disertai ekspresi raut wajah yang datar. Sepertinya Belinda sudah kebal akan teriakan juga bentakan yang berasal dari Kafin, lagi pula hal ini tidak hanya terjadi sekali namun berulang kali.


Jika dulu Belinda kecil akan menangis ketika mendengar teriakan tersebut, kini ketika remaja Belinda hanya memasang raut wajah yang datar sambil terus maju mendekat ke arah Kafin. Seakan sama sekali tidak takut kepada dirinya.


"Terserah Ayah akan meneriaki ku atau apa, tapi kedatangan ku di sini hanya untuk meminta Ayah menandatangani pemberitahuan ini. Pekan depan akan ada Darma wisata yang di selenggarakan oleh pihak Sekolah ku dan mengharuskan ku untuk mendapatkan tanda tangan orang tua sebagai ijin bahwa pihak orang tua memberikan ijin mereka. Entah apa yang aku pikirkan hingga datang dan meminta Ayah untuk menandatanganinya, namun yang jelas langkah kaki ku tetap membawa ku kemari. Jika Ayah ingin menyendiri harusnya Ayah pergi ke gua dan bertapa di sana, biar sekalian aku katakan kepada guru ku jika aku sudah tidak memiliki orang tua!" ucap Belinda dengan nada yang terdengar kesal.


Belinda bahkan benar-benar muak akan sikap Kafin yang terus-terusan seperti ini. Kali ini Belinda pastikan akan mengeluarkan segala unek-uneknya kepada Kafin.


Namun sepertinya semua harapan yang ada di kepala Belinda saat itu, sayangnya sama sekali tidak seperti harapannya. Tepat ketika semua isi hatinya keluar kala itu, sebuah tamparan dengan keras mendadak mendarat di pipinya. Yang tentu saja membuat Belinda terkejut bukan main karenanya.


Suara tamparan tersebut terdengar begitu nyaring hingga membuat Kafin yang tersadar akan perbuatannya, lantas terlihat menatap ke arah tangannya yang nampak bergetar saat itu.


"Ayah menampar ku? Apakah.. Ayah perlu melakukan hal tersebut? Setelah Ayah tidak memberikan kami kasih sayang, kini Ayah mulai menyiksa kami? Oh Ya Tuhan.... Apa yang sebenarnya terjadi kepada Ayah ku?" ucap Belinda dengan mulut yang bergetar hebat.


Sambil berusaha menahan isak tangisnya agar tidak keluar, Belinda nampak mengusap air mata yang mengalir di sudut bibirnya saat itu.


"Jika Ayah tidak mengijinkan ku pergi, tak apa. Aku tidak akan pergi.. Tapi aku rasa, Ayah tidak perlu melakukan hal ini kepadaku. Lihatlah Yah, air mata ini bukanlah sebuah air mata akibat dari tamparan Ayah, melainkan air mata yang berasal dari rasa sakit seorang anak yang terus di perlakukan seperti orang asing oleh orang tuanya sendiri." ucap Belinda sambil mengambil kembali kertas tersebut di meja kerja Kafin kemudian berlalu pergi dari sana dengan langkah kaki yang lebar.

__ADS_1


"Belinda... Arg apa yang telah ku lakukan?" ucap Kafin pada diri sendiri sambil terus merutuki kebodohannya yang tanpa sengaja melayangkan pukulan kepada Belinda saat itu.


***


Di kampung halaman Alice


Setelah Alice mengetahui jika yang sedang berkampanye adalah Alex. Dengan langkah kaki yang lebar Alice mulai mencari keberadaan Caramel dan juga Arina di tengah kerumunan warga desa yang tengah berpartisipasi dalam kampanye tersebut.


Apapun yang terjadi Alice harus segera pergi dari sana sebelum ia bertemu dengan Alex, seseorang yang sama sekali tidak ingin ia temui saat ini. Alice menatap ke area sekitaran, ke kanan dan juga ke kiri mencari keberadaan Caramel dan juga Arina di sana. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada area sudut balai desa, dimana Alice melihat Caramel tengah sibuk membeli jajanan kembang gula pada salah satu penjual keliling hajatan.


"Kalian berdua dari mana saja? Ayo kita pulang sekarang! Makanannya keburu dingin nanti." ucap Alice sambil menepuk pundak Arina saat itu dan langsung menggendong tubuh Caramel.


"Tunggu sebental, Cala ingin itu.. ingin itu..." ucap Caramel dengan nada yang merengek, namun sayangnya Alice sama sekali tidak menghiraukannya.


"Tunggulah sebentar Al, itu kurang sedikit lagi jadi..." ucap Arina yang seakan tahu jika cucunya menginginkan kembang gula tersebut.


"Tidak bisa Bu kita harus pulang sekarang juga." ucap Alice kemudian sambil terus mendesak keduanya untuk bergerak pergi dari sana.


Disaat Alice tengah berusaha untuk membujuk Caramel agar pergi dari sana, sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas langsung menghentikan gerakan Alice dengan seketika.


"Mau pergi kemana kamu buru-buru seperti itu Alice?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2