
"Siapa kamu sebenarnya?" ucap Alice kemudian dengan tatapan lurus menatap tepat ke arah manik mata Kafin, seakan berusaha untuk mencari sebuah kebenarannya di sana.
Sedangkan Kafin yang tiba-tiba ditanya seperti itu tentu saja langsung mengernyit menatap dengan tatapan penuh pertanyaan. Entah apa yang sedang ditanyakan oleh Alice saat ini, namun yang jelas hal tersebut cukup membuat Kafin terkejut karenanya.
"Ada apa dengan mu Al? Mengapa kamu menanyakan sesuatu yang sudah cukup jelas jawabannya?" ucap Kafin dengan raut wajah yang kebingungan.
"Aku tahu akan hal itu, tapi kumohon jangan membahasnya lagi. Yang aku tanyakan saat ini adalah siapa kamu dan siapa Ashraf? Mengapa di dalam ingatanku, aku dan juga Ashraf sangatlah dekat? Sedangkan kamu... Kamu sama sekali tidak ada di dalamnya, siapa kamu sebenarnya?" ucap Alice dengan nada yang terdengar frustasi.
Kafin yang mendengar perkataan dari Alice barusan, tentu saja langsung terdiam dengan seketika. Kafin benar-benar tidak menyangka jika Alice bisa mengingat tentang Ashraf, padahal Dokter tadi mengatakan jika kemungkinan ingatan Alice akan terganggu. Namun mengapa hanya Ashraf yang ia ingat sedangkan yang lainnya tidak?
Alice yang mendapati jika Kafin hanya terdiam tanpa menanggapi pertanyaannya barusan, lantas langsung mencoba untuk menggoyangkan bahu Pria tersebut. Yang membuat segala lamunan Kafin lantas buyar dengan seketika.
"Mengapa kamu hanya diam? Jawab pertanyaan ku sekarang juga!" ucap Alice yang tak kunjung mendapat jawaban apapun dari Kafin.
"Ashraf... Ashraf adalah kekasih mu di masa lalu. Ketika kamu kecelakaan kamu kehilangan ingatan dan itu membuat ku sangat frustasi. Dan kini.. Kini kamu sudah mengingat Ashraf, jujur saja aku bahagia karena kamu mendapatkan sebagian ingatan mu. Namun ada perasaan sesak di sini, ketika aku mendapati kenyataan jika kamu tidak mengingat ku dan juga anak-anak. Apa kamu kira aku tidak terluka karenanya?" ucap Kafin kemudian berusaha untuk membuat cerita baru.
Kafin berharap ceritanya saat ini akan dapat diterima oleh Alice, sehingga Alice tidak lagi menanyakan tentang masa lalunya maupun tentang Ashraf.
Ditatapnya manik mata Kafin dalam-dalam seakan mencoba mencari kebenaran pada mani mata tersebut. Hanya saja entah mengapa yang Alice dapatkan ketika menatap manik mata Kafin, hanya terdapat kesenduan dan juga rasa kecewa. Ia tidak melihat adanya kesungguhan dalam perkataannya, membuat Alice tidak bisa menarik kesimpulan apakah perkataan Kafin barusan adalah benar adanya atau hanya kembali bualan semata.
"Apakah aku harus mempercayai dirinya? Mengapa rasanya kata hati ku menolak jawaban yang di berikan oleh Kafin barusan?" ucap Alice dalam hati yang seakan berada dalam kebimbangan.
Kafin yang mendapati Alice hanya terdiam tanpa mengatakan kata-kata apa pun, lantas langsung memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Diusapnya rambut Alice dengan perlahan, membuat Alice semakan merasa aneh dengan situasi ini.
__ADS_1
"Perlahan saja Al.. Jangan terlalu di paksakan... Meski aku kecewa karena Ashraf adalah orang pertama yang kamu ingat tapi aku bahagia karena kamu sudah mulai mendapatkan ingatan mu." ucap Kafin sambil mendekap tubuh Alice dengan erat saat itu.
***
Ruangan kerja Kafin
Di atas kursi kebesarannya, terlihat Kafin tengah menatap layar iPad miliknya dengan tatapan yang intens. Semua informasi yang diberikan oleh Dimas mengenai Ashraf, membuat Kafin terlihat mencoba untuk membacanya dengan cermat dan juga serius. Kafin yakin reputasi kebaikan keluarga Matthew hanyalah sebuah reputasi semata.
Dimasa sekarang ini bukankah sangat mudah menciptakan sebuah reputasi? Yang kamu lakukan bahkan cukup mengeluarkan sejumlah uang, tersenyum di depan kamera yang dibumbui dengan sebuah pencitraan, maka semua reputasi baik akan mengelilingi dirimu.
Kafin nampak mengetuk-ketukan jari tangannya beberapa kali di atas meja kerjanya saat itu, sambil tetap fokus menatap ke arah layar iPad miliknya. Kafin menghela napasnya dengan panjang kemudian meletakkan iPad tersebut begitu saja di atas meja.
"Aku yakin ada sesuatu di sana, namun mengapa aku tidak bisa mendapatkan apapun?" ucap Kafin dengan nada yang terdengar frustasi karena tak kunjung mendapatkan jalan keluar dari masalah ini.
Kafin berdecak dengan kesal ketika ia tak kunjung mendapati apapun di sana. Entah apa yang telah disembunyikan oleh Ashraf dan juga keluarganya pada profil miliknya, namun yang jelas apapun itu Kafin harus tetap menemukan kelemahannya.
"Halo Tuan..." ucap sebuah suara di seberang sana.
"Apa kamu sudah mendapatkan informasi lain tentang Ashraf seperti yang aku minta?" ucap Kafin kemudian secara terus terang tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Sejauh ini belum Tuan, hanya informasi itu yang bisa saya dapatkan untuk sekarang. Namun saya akan mencoba mencari informasi Ashraf pada beberapa kenalan saya di dunia bawah, siapa tahu dari mereka mungkin ada yang mengenali sosok Ashraf." ucap Dimas kemudian memberikan jawaban atas pertanyaan dari Kafin barusan.
"Bagus, cari apapun kelemahannya karena satu kelemahannya akan sangat berarti untuk ku." ucap Kafin kemudian dengan nada yang penuh penekanan.
__ADS_1
"Tentu Tuan..." ucap Dimas kemudian sebelum pada akhirnya sambungan telponnya di putus oleh Kafin secara sepihak.
"Baiklah mari kita lihat, apakah kamu benar-benar sebersih profil mu?" ucap Kafin sambil menatap lurus ke arah depan.
***
Kamar utama
Setelah Alice mendapat jawaban dari Kafin tentang segalanya, entah mengapa Alice tetap saja merasa tidak tenang. Pikiran dan hatinya seakan tidak sinkron dan bertolak belakang. Segala hal yang dikatakan oleh Kafin memanglah seperti nyata. Namun anehnya hatinya seakan terus menolak dan mengatakan jika semua hal yang dikatakan oleh Kafin bukanlah kenyataannya.
Alice yang tidak bisa tidur malam ini karena memikirkan segala halnya, lantas mulai bangkit dari tempat tidurnya dan mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah balkon kamarnya. Ditatapnya langit malam hari itu yang terlihat kosong tanpa adanya bintang-bintang menghiasi langit malam kala itu. Seakan seperti mengetahui tentang kehampaan hatinya saat ini.
Helaan napas terdengar berhembus dengan jelas pada mulutnya saat itu. Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari deringan ponsel miliknya, lantas membuat Alice mulai mengambil langkah kaki menuju ke arah dimana ponselnya berada saat itu.
"Nomor asing? Tapi siapa? Aku bahkan tidak merasa memberikan nomor ponsel ku kepada siapapun." ucap Alice kemudian dengan raut wajah yang mengernyit menatap ke arah layar ponsel tersebut.
Alice yang penasaran akan penelpon dengan nomor asing tersebut, lantas mulai menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya dan mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Halo.." ucap Alice kemudian.
.
.
__ADS_1
"Apa?"
Bersambung