
"Hubungan macam apa sebenarnya yang di tanyakan oleh Alice saat ini?" ucap Kafin dalam hati sambil menatap ke arah Alice dengan tatapan yang menelisik.
"Kaf.. Kafin... Apa kamu mendengarkan ku?" ucap Alice kemudian sambil melambaikan tangannya di depan wajah Kafin, ketika mendapati Kafin malah melamun setelah mendengar perkataannya barusan.
"Apa yang sebenarnya kamu tanyakan Al? Bisakah kamu mengatakannya lebih spesifik lagi agar aku bisa lebih mengerti arah pembicaraan ini?' ucap Kafin kemudian yang langsung tersadar dari lamunannya begitu mendengar panggilan dari Alice barusan.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Alice langsung menggigit bibir bagian bawahnya tanpa sadar. Alice benar-benar bingung, entah ia akan mengatakannya secara langsung keseluruhan ceritanya atau hanya diam dan memendam segalanya sendiri. Alice bahkan benar-benar tidak tahu mana yang harus ia katakan kepada Kafin dan mana yang tidak sekarang.
Ditatapnya manik mata Kafin dengan tatapan yang menelisik kemudian menghela napasnya dengan panjang seakan bersiap untuk mulai bercerita, setelah Alice merasa bahwa ia memang harus menceritakan segalanya.
"Aku tahu mungkin ini agak aneh, tapi kamu jangan salah paham karena aku juga tidak tahu apa yang tengah dibicarakan oleh Alex sebenarnya." ucap Alice yang tentu saja langsung membuat Kafin mengernyit begitu mendengar hal tersebut.
"Baiklah aku janji tidak akan menyelanya ataupun salah paham terhadap cerita mu, katakan ada apa sebenarnya?" tanya Kafin dengan raut wajah yang penasaran.
"Pagi tadi aku datang ke sebuah tempat hiburan malam dimana tempat tersebut adalah satu-satunya tempat yang aku ingat. Hanya saja ketika aku sampai di sana, Alex yang entah datang dari mana malah menarik tangan ku dan mengatakan hal aneh. Alex menanyakan seputar sebuah disk atau memory card yang aku sama sekali tidak tahu keberadaannya. Aku tidak tahu apakah Alex tengah mabuk atau apa, tapi aku rasa sepertinya tidak. Ketika melihatnya seperti itu aku memutuskan untuk pergi saat itu karena aku pikir dia sedang mabuk, namun ternyata ia malah menyudutkan ku ke tembok dan mengatakan sesuatu yang menohok sekaligus membuat ku terkejut. Dia..." ucap Alice terhenti membuat Kafin semakin di buat penasaran karenanya.
Alice benar-benar bingung harus mengatakan segalanya atau tidak kepada Kafin, namun pikirannya saat ini benar-benar mentok karena ia tidak bisa menemukan jalan keluarnya sama sekali. Siapa tahu jika Alice berbagi cerita kepada Kafin, ia bisa sedikit mendapat pencerahan nantinya.
"Dia apa Al? Jangan membuat ku penasaran seperti ini!" ucap Kafin kemudian yang mulai kesal karena Alice menghentikan perkataannya.
__ADS_1
"Dia marah kepada ku dan mengatakan jika aku hanya memanfaatkannya saja. Setelah.. Setelah kita berdua bermalam bersama aku mengambil sesuatu darinya dan memanfaatkannya. Jangan.. Jangan marah kepada ku Kaf, aku sungguh tidak pernah bermalam dengannya. Aku bahkan sama sekali tidak mengingatnya, sungguh aku tidak pernah mengkhianati mu..." ucap Alice takut jika Kafin malah menuduhnya telah berkhianat.
Sedangkan Kafin yang mendengar perkataan dari Alice barusan raut wajahnya benar-benar telah berubah memerah. Apa yang dikatakan oleh Alice barusan memanglah benar jika Alice tak pernah berkhianat dengannya. Hanya saja yang menjadi masalah di sini adalah jika Alex mengatakan hal tersebut kepada Alice, tentu saja yang bermalam dengannya waktu itu pastinya adalah Bianca.
"Bianca.. Apa yang sebenarnya telah kau lakukan di belakang ky?" ucap Kafin dalam hati dengan tatapan yang tajam ke arah depan.
***
Tengah malam
Dari arah kamar utama terlihat Kafin tengah melangkahkan kakinya dengan perlahan keluar dari area sana. Sambil menatap ke arah ponsel miliknya Kafin mulai mendial nomor Dimas di sana.
"Coba kau cari tahu, ada hubungan apa antara Bianca dan juga Alex sebelum kecelakaan tersebut terjadi satu tahun yang lalu!" ucap Kafin langsung memberikan perintah kepada Dimas tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Mendengar perintah tersebut tentu saja langsung membuat Dimas mengernyit dengan seketika. Hal ini bahkan baru pertama kalinya Kafin menyuruhnya menyelidiki tentang Alex maupun Bianca. Biasanya meski ada hal buruk sekalipun akan keduanya Kafin selalu menolak ketika di tawari untuk menyelidikinya. Hari ini entah mengapa tiba-tiba Kafin berubah pikiran yang tentu saja membuat Dimas sedikit merasa aneh karenanya.
"Apakah anda yakin Tuan? Biasanya anda sama sekali tidak pernah menginginkan akan hal tersebut. Apakah ada sesuatu yang terjadi Tuan?" ucap Dimas dengan nada yang hati-hati karena takut jika Kafin akan tersinggung ketika mendengar perkataannya.
"Selama ini aku sudah berusaha untuk menutup mata dan juga telinga ku dari segala hal yang beredar di luaran sana. Tapi ketika aku mendengarnya secara langsung dari Alice akan hal tersebut malam ini, ada sebuah perasaan yang seakan mendorong ku untuk mulai membuka hati ku dan melihat dunia ini sepenuhnya. Aku tahu perkataan ku agak ngawur, tapi aku minta padamu selidiki segalanya dan jangan ada yang terlewat. Aku akan memberi mu waktu hingga besok pagi, segera hubungi aku jika kamu telah menyelidiki segalanya." ucap Kafin yang mencoba untuk mengungkapkan isi hatinya saat itu, membuat Dimas langsung terdiam seketika begitu mendengar akan perkataan Kafin barusan.
__ADS_1
"Tentu Tuan anda tak perlu khawatir." ucap Dimas sebelum pada akhirnya Kafin menutup sambungan telponnya barusan.
Setelah sambungan telpon terputus Kafin lantas terus membawa langkah kakinya menuruni setiap anak tangga menuju ke arah ruang kerjanya. Malam ini Kafin benar-benar membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya yang tengah kacau saat ini.
***
Ruangan Kafin pagi harinya
Di dalam ruangannya Kafin terlihat tengah duduk sambil termenung menatap ke arah sebuah foto milik Bianca. Ditatapnya foto itu dengan berbagai macam perasaan yang menyelimuti dirinya. Selama ini Kafin memang mencoba untuk menutup matanya dan tak ingin mengetahui apapun yang berhubungan dengan Alex, mengingat bagaimana jasa kedua orang tua Alex yang menolongnya saat itu. Namun ketika ia mendengarnya secara langsung dari Alice, entah mengapa ia merasa begitu marah saat ini.
Kafin menutup kelopak matanya sebentar seakan mencoba untuk menangkan hatinya, sedari semalam hingga pagi ini ia bahkan belum tertidur sama sekali karena gelisah dan terus kepikiran akan Bianca. Namun ketika kelopak matanya tertutup dengan sempurna bayangan bagaimana pertengkarannya saat itu malah berputar di kepalanya dengan jelas.
Tepat setelah pertengkaran itu terjadi adegan yang selanjutnya terlukis dengan jelas di ingatannya adalah Kafin yang melihat Bianca dan juga Alex tengah bercumbu mesra tepat di atas sebuah ranjang dengan ukuran king size saat itu. Entah bagaimana bisa ingatannya menuntunnya ke arah sini, namun rasa curiga yang begitu besar sepertinya telah mendoktrin alam bawah sadar Kafin saat itu.
"Bianca apa yang kamu lakukan?" pekik Kafin dengan nada yang meninggi.
"Aku... Aku hanya coba untuk membangunkan mu!"
Plak...
__ADS_1
Bersambun