Move

Move
Marah?


__ADS_3

Setelah perdebatannya dengan Kafin siang tadi, Alice mengurung dirinya di kamar. Alice benar-benar kesal akan tingkah Kafin yang terus-terusan bertindak sesuka hatinya dan mengurungnya di rumah. Entah apa yang membuat Kafin begitu marah ketika mendapati ia bertemu dengan Ashraf di belakangnya, namun apapun itu Alice tetap tidak bisa menerimanya.


"Memangnya ada masalah apa sih? Sampai-sampai Kafin selalu marah jika aku mencoba untuk mencari tahu tentang ingatan masa lalu ku. Apakah ada sesuatu yang membuat Kafin tidak ingin aku untuk mengingat sesuatu di masa lalu? Mengapa dia selalu saja heboh?" ucap Alice dengan nada yang kesal sambil menatap ke arah pintu masuk kamar utama.


Sudah hampir seharian penuh ini Alice merajuk, namun anehnya Kafin tidak mencarinya sama sekali membuat Alice lantas mendengus dengan kesal karenanya.


"Dasar laki-laki, awas saja kalau minta jatah!" ucap Alice dengan nada yang kesal sambil merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dengan menghela napasnya dengan kasar.


Ditatapnya langit-langit kamarnya dengan tatapan yang kosong, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini yang jelas Alice masih merasa kesal dengan tingkah Kafin hingga saat ini. Sampai kemudian ketika Alice tengah menatap lurus ke arah atas, ia langsung bangkit dari posisinya begitu mengingat tentang map pemberian Ashraf sebelumnya.


Alice yang yakin meletakkannya di tas sebelumnya, lantas terlihat mengambil langkah kaki besar menuju ke arah dimana ia meletakkan tasnya setelah datang tadi.


Diambilnya tas milik Alice saat itu dan langsung ia tumpahkan semua isinya ke lantai keramik kamarnya. Sampai kemudian pandangan matanya terhenti kepada sebuah map yang ia cari sedari tadi.


Deg.. Deg...


Suara debaran jantung Alice berdetak begitu kencang ketika tangannya menyentuh map tersebut. Sambil menarik napasnya dalam-dalam Alice mulai membuka map tersebut dan mengeluarkan isinya satu persatu.


Begitu banyak kertas dan juga foto berada di dalamnya, membuat Alice lantas mengernyit sambil mulai mencermati setiap hal yang tertulis dan juga terdapat di sana. Bola mata Alice nampak membulat dengan seketika di saat ia mendapati beberapa foto tentang dirinya, yang terasa begitu aneh dan juga asing untuknya.


"Siapa mereka semua? Mengapa aku tidak pernah melihat mereka seorang pun dan mengapa Kafin sama sekali tidak mengatakan tentang mereka kepadaku?" ucap Alice dengan raut wajah yang kebingungan sambil menatap ke arah selembar foto yang saat ini berada di tangannya.


Alice menggali dan terus menggali mencoba mencari tahu tentang segala hal yang berada di masa lalu, entah siapa yang benar dan siapa yang salah bahkan Alice sendiri tidak bisa memutuskannya saat ini. Hingga kemudian ketika selembar kertas data dirinya terpampang jelas di tangannya saat ini, lantas membuat Alice terdiam seketika.

__ADS_1


Melihat segala hal yang ada di hadapannya saat ini, membuat Alice mulai melihat sekelebat bayangan secara cepat di kepalanya. Beberapa kertas dan juga foto nampak mulai berjatuhan di lantai ketika rasa sakit kian menderu dirinya saat ini.


"Argg.. Sakit... Sakit..." ucap Alice terdengar merintih kesakitan sambil mulai memegang kepalanya dengan erat.


Alice bertumpu kepada dinding di ruangan kamarnya dengan erat, kepalanya benar-benar terasa hendak pecah saat ini ketika setiap memori saling berbenturan di kepalanya saat ini. Segala hal yang dikatakan oleh Kafin dan juga Ashraf, benar-benar terasa begitu berputar di kepalanya saat ini. Hingga kemudian ketika rasa sesak menyeruak di dadanya, membuat Alice jatuh di lantai dengan posisi yang meringkuk.


"Ap....a yang terjadi kepada ku.. Sakit..." ucap Alice sambil mulai berusaha untuk bangkit namun sayangnya gagal dan gagal lagi.


***


Halaman depan kediaman Kafin


Setelah memarkirkan mobilnya di halaman depan, Kafin terlihat mulai melangkahkan kakinya turun dari area dari dalam mobilnya.


Kafin yang baru saja terlihat memasuki arah ruang tengah, lantas mulai mengedarkan pandangannya ke arah sekitaran seakan mencoba mencari keberadaan Alice saat ini. Namun langkah kakinya lantas terhenti ketika ia mendapati Belinda dan juga Altair tengah duduk di ruangan tengah dengan termenung. Entah apa yang sedang keduanya pikirkan saat ini, hingga mengakibatkan keduanya termenung seperti itu.


Mendapati hal tersebut membuat Kafin yang melihat raut wajah lesu keduanya, kemudian lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana keduanya berada saat ini.


"Apa yang terjadi dengan raut wajah kalian berdua? Apakah ada sesuatu hal yang terjadi?" ucap Kafin kemudian yang lantas membuat Belinda dan Altair menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


"Semua ini karena Ayah, Bunda bahkan tidak keluar sedari tadi semenjak pertengkaran tersebut terjadi!" pekik Belinda begitu mendengar perkataan dari Kafin barusan.


Mendengar hal tersebut lantas langsung membuat Kafin mengernyit dengan seketika. Mendengar jika Alice tidak keluar sedari tadi dari kamar, tentu saja membuat Kafin terkejut dengan seketika. Kafin bahkan tidak mengetahui akan hal ini, sehingga membuat rasa khawatir dan juga bersalah semakin membumbung di hatinya saat itu.

__ADS_1


"Apa katamu Bel? Lalu kalian sama sekali tidak melihatnya? Bagaimana keadaan Bunda?" ucap Kafin kemudian mulai memberikan pertanyaan kepada keduanya.


"Aku dan juga Belinda sudah mencobanya, kami terus mengetuk pintu kamar Bunda. Namun Bunda mengatakan agar kami segera pergi dari kamarnya dan bermain sendiri tanpa ingin bertemu dengan kami sama sekali." ucap Altair kemudian mulai menjelaskan segalanya.


Mendapati hal tersebut lantas langsung membuat Kafin mulai membawa langkah kakinya berlalu pergi begitu saja dari hadapan Altair dan juga Belinda. Membuat keduanya yang melihat tingkah laku Kafin seperti itu, lantas langsung saling menatap ke arah satu sama lain selama beberapa detik. Sampai pada akhirnya menghela napasnya dengan panjang sambil menatap kepergian Kafin barusan.


"Sudahlah kita tidak perlu ikut campur urusan orang tua, terkadang para orang tua sikapnya benar-benar membingungkan. Tingkah mereka sangatlah aneh!" ucap Altair sambil menatap kepergian Kafin barusan.


"Benar Abang, aku jadi takut ketika menuju ke arah dewasa nantinya." ucap Belinda kemudian.


"Cih dasar!"


***


Pintu depan kamar utama.


Kafin yang mulai memikirkan segala hal buruk tentang Alice saat ini, lantas langsung mencoba untuk membuka pintu kamar tersebut. Namun sayangnya ketika ia mencoba untuk memutar handle pintu tersebut, lantas kesulitan karena sepertinya pintu kamar telah dikunci dari dalam oleh Alice saat ini.


"Sial mengapa harus di kunci sih?"


Dok dok dok...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2