
"Bunda!" pekik Altair ketika mendapati Alice yang saat ini tengah berdiri persis di depan mobil mereka.
Melihat hal tersebut Altair dan juga Belinda langsung menelan salivanya dengan kasar. Entah apa yang akan mereka berdua jelaskan kepada Alice saat ini, disaat mereka berdua ditanya apa yang sedang mereka lakukan di sini ketika jam sekolah.
Altair dan juga Belinda terlihat saling menatap antara satu sama lain dan terdiam di tempatnya selama beberapa detik. Sampai kemudian ketika keduanya melihat kembali ke arah depan dan saat ini terlihat Alice tengah menatap tajam ke arah bagian dalam mobil. Alice terlihat mengambil posisi bersendekap dada, seakan menunggu keduanya untuk turun dan menghampiri Alice saat itu.
"Bagaimana selanjutnya?" ucap Belinda dengan nada yang lirih.
"Kita turun sekarang juga dan jelaskan sesuatu kepada Bunda, aku yakin Bunda pasti menunggu kita di luar." ucap Altair yang tentu saja langsung membuat bola mata Belinda membulat dengan seketika.
"Tidak, aku tidak mau! Bunda pasti akan bertanya dan memarahi kita nanti." ucap Belinda menolak perkataan dari Altair barusan.
"Jika kita tidak keluar Bunda nanti akan semakin marah kepada kita Bel!" ucap Altair lagi mencoba untuk membujuk Belinda saat ini.
"Itu benar Non sebaiknya kalian berdua keluar dan temui Nyonya, mungkin itu akan mengurangi sedikit kemarahan beliau." ucap Arman kemudian ketika mendengar perdebatan keduanya saat ini.
Mendengar hal tersebut Belinda yang tidak suka akan perkataan dari Arman barusan, lantas langsung menoleh ke arah Arman dengan tatapan yang kesal.
"Benar-benar menyebalkan!" ucap Belinda dengan kesal.
Hanya saja ketika keduanya tengah sibuk berdebat saat ini, sebuah decitan rem yang terdengar dengan keras lantas membuat Altair dan juga Belinda menoleh ke arah sumber suara. Ada sebuah rasa terkejut dalam diri keduanya, ketika mereka berdua melihat Kafin nampak keluar dari mobilnya saat itu.
"Ayah!" ucap Altair dengan nada yang lirih membuat suasananya kian terasa tidak enak.
"Bagaimana ini Abang Ayah juga datang?" ucap Belinda dengan nada yang ketakutan.
__ADS_1
"Diam lah Bel, aku bahkan juga bisa melihatnya jadi tidak perlu kamu perjelas lagi seperti itu!" ucap Altair dengan nada yang ketus.
Brak...
Suara pintu mobil yang terbuka dari luar lantas kembali mengejutkan keduanya. Dengan perlahan baik Altair maupun Belinda nampak melirik ke arah dimana Kafin berada dengan tatapan yang ragu. Sedangkan Kafin yang mengetahui hal tersebut, lantas menatap tajam ke arah keduanya saat itu.
"Ikut pulang bersama dengan Ayah sekarang!" ucap Kafin kemudian dengan nada yang tidak ingin di bantah sama sekali.
"Tapi aku..." ucap Altair namun langsung di potong oleh Kafin saat itu.
"Tidak ada tapi-tapian Abang! Turun sekarang dan masuk ke dalam mobil Ayah." ucap Kafin memberikan perintah.
Melihat Kafin yang begitu marah akan tingkah laku keduanya, lantas membuat Altair dan juga Belinda pada akhirnya mau tidak mau mulai melangkahkan kaki mereka turun dari dalam mobil dan menuju ke arah mobil Kafin saat itu.
"Kamu juga ikut masuk ke dalam mobil!" ucap Kafin yang lantas membuat Alice langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
"Aku masih harus pergi karena..." ucap Alice hendak menolak namun malah mendapat tatapan tajam dari Kafin saat itu.
"Masuk sekarang juga!" ucap Kafin sekali lagi yang kali ini dengan nada penuh penekanan, membuat Alice langsung terdiam dengan seketika.
***
Kediaman Kafin
Di area ruangan keluarga saat itu terasa suasananya begitu hening dan juga dingin. Altair dan juga Belinda yang mengetahui jika Kafin saat ini tengah marah hanya terdiam sambil menunduk seakan takut untuk menatap manik mata Kafin saat itu. Alice yang tahu situasinya tidak baik-baik saja, lantas mulai menarik napasnya dalam-dalam kemudian bangkit dari posisi duduknya.
__ADS_1
"Aku benar-benar minta maaf Kaf karena telah lalai akan anak-anak, jangan seperti ini ya? Biar aku yang akan bicara kepada mereka nanti." ucap Alice kemudian mencoba untuk menengahi ketiganya.
"Diam Al, mereka berdua tetap harus di beri pelajaran. Lagi pula bagaimana bisa kalian berdua berada dalam satu tempat dan saling tidak tahu? Memang seberapa luas Cafe tersebut ha?" ucap Kafin kemudian sambil menatap lurus ke arah keduanya yang saat ini tengah menunduk.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Alice mendadak ikut penasaran, lagi pula untuk apa keduanya berada di Cafe pagi hari seperti itu. Tidak hanya itu selang waktu dan juga lokasinya, entah mengapa begitu tepat dengan dirinya. Membuat Alice lantas bertanya-tanya akan hal tersebut.
Sampai kemudian ingatan Alice lantas terhenti dimana sebelum keduanya berangkat Sekolah ada gelagat aneh dari Altair, membuat Alice lantas terkejut ketika ia baru menyadari akan hal tersebut.
"*****Tidak Bun, Alta sama sekali tidak membaca pesan itu!" ucap Altair yang terkejut akan kehadiran Alice yang tiba-tiba*****.
"Apa yang Abang katakan? Bunda bahkan tidak menanyakan tentang sebuah pesan tapi Abang mengatakan tidak membacanya, apa jangan-jangan Abang..." ucap Belinda kemudian yang tentu saja langsung membuat sadar Altair jika ia telah salah bicara.
"Aku ini kan orangnya peka, tadi ada suara notifikasi di ponsel Bunda dan tanpa sengaja melihatnya di jendela layar ponsel Bunda. Aku mengatakan hal tersebut karena takut jika Bunda mengira aku telah membaca pesan singkat di ponsel milik Bunda." ucap Altair mencoba untuk menjelaskan segalanya.
Alice terdiam menatap ke arah Altair dengan tatapan yang mengernyit, seakan mencoba mencari tahu lewat sorot mata bocah laki-laki tersebut.
"Apa Alta membaca pesan di ponsel Bunda?" ucap Alice kemudian tanpa sengaja mengatakan hal itu.
Sedangkan Altair yang mendengar perkataan dari Alice barusan, lantas langsung terlihat mendongak dengan tatapan yang terkejut ke arah Alice saat itu. Mendapati hal tersebut tanpa dijelaskan sekalipun oleh Altair, Alice jelas tahu jawaban dari pertanyaannya barusan, membuat Alice hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang tidak percaya. Alice bahkan cukup terkejut ketika mendapati jika semua tindakan impulsif Altair dan juga Belinda adalah karena dirinya.
Kafin yang melihat gelagat aneh dari Altair dan juga Alice tepat ketika Alice mengatakan pertanyaan tersebut kepada Altair. Lantas membuatnya menatap dengan tatapan yang bertanya-tanya akan ekspresi raut wajah yang di tunjukkan oleh keduanya saat ini.
"Pesan apa yang sebenarnya sedang kalian bicarakan saat ini?"
Bersambung
__ADS_1