
Keesokan harinya
Dikamar utama terlihat Alice tengah mengerjapkan kelopak matanya secara perlahan dan berbalik badan menatap ke arah kiri sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku. Ada sedikit perasaan terkejut ketika kelopak mata milik Alice terbuka sepenuhnya dan melihat sosok Kafin berada di sebelahnya. Entah mengapa ia tetap saja belum terbiasa akan hal ini, rasanya apa yang terjadi kepadanya benar-benar seperti mimpi.
"Astaga dia mengejutkan ku, hampir saja aku tendang tubuhnya jika aku tidak ingat kalau sekarang aku sudah punya suami!" ucap Alice menggerutu sambil menatap wajah tenang Kafin ketika sedang tertidur dengan pulasnya.
Bulu matanya yang lentik dengan hidung mancung benar-benar membuat wajahnya seperti sebuah pahatan patung karya seniman terkenal. Alice yang melihat hal tersebut lantas tertegun dan menatapnya dengan tatapan yang intens. Di sentuhnya hidup mancung milik Kafin dengan perlahan kemudian langsung tersenyum.
"Untung saja dia ganteng jadi aku tidak akan bisa menolaknya. Lagi pula mempunyai suami tampan dan kaya adalah idaman para wanita bukan? Lumayan buat memperbaiki keturunan, eh aku sudah ada dua bocil deng..." ucap Alice dengan nada yang lirih kemudian berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
Hanya saja sayangnya sebelum Alice benar-benar bisa bangkit dari posisinya, sebuah tarikan tangan yang berasal dari Kafin benar-benar membuat Alice terkejut dan langsung terhuyung jatuh dalam posisi rebahan di kasur. Kafin memeluk tubuh Alice dengan erat layaknya sebuah guling kesayangannya. Membuat Alice yang mendapat serangan secara mendadak hanya terdiam di tempatnya dengan kaku tanpa bisa bergerak sama sekali.
"Ap..pa-apaan ini?" ucap Alice dalam hati sambil tetap membeku di tempatnya, membuat seulas senyum terlihat terbit di wajah tampan Kafin saat itu tanpa Alice sadari.
"Jika kamu merasa bersyukur memiliki suami yang tampan seperti ku, mengapa kamu tidak mau jika aku menyentuh mu hem? Bukankah kita sudah lama berpuasa Al, tidakkah kau ingin membuatkan adik untuk Belinda dan juga Altair?" ucap Kafin dengan nada suara yang serak khas orang bangun tidur namun masih dengan kelopak mata yang terpejam.
Mendengar perkataan Kafin yang tiba-tiba meminta jatah kepadanya tentu saja membuat bola mata Alice membulat seketika. Alice bahkan belum menemukan bukti ataupun titik terang akan dirinya yang tiba-tiba dari seorang gadis independen yang berhasil, mendadak berubah menjadi seorang ibu rumah tangga dengan sepasang anak kembar. Bagaiman mungkin Kafin tiba-tiba meminta haknya sebagai seorang suami? Ini bahkan benar-benar sudah gila!
Alice yang sadar saat ini waktunya ia kabur sebelum Kafin memakannya lantas mulai mendorong tubuh Kafin agar mulai melepaskan pelukannya yang erat itu.
"Lepaskan aku! Apa yang kau katakan? Ini...ini bahkan sudah pagi anak-anak pasti sudah bangun dan bersiap pergi ke sekolah sekarang...." ucap Alice mencoba untuk mencari alasan agar Kafin mau melepaskannya.
__ADS_1
Kafin yang mendengar perkataan dari Alice barusan tentu saja langsung menatap ke arah Alice dengan tatapan yang menelisik, membuat Alice langsung menelan salivanya dengan kasar ketika mendapati tatapan tersebut.
"Hari ini adalah weekend, apa kamu lupa? Aku bahkan benar-benar ingin bermanja dengan mu hari ini, ayolah kita lakukan ya ya ya?" ucap Kafin dengan nada yang manja, namun berhasil membuat Alice terkejut ketika mendengarnya.
"Jangan gila! Aku harus memasak untuk anak-anak sekarang..." ucap Alice sambil berusaha memberontak dan kabur dari pelukan Kafin yang begitu erat.
"Tidak akan pernah, lagi pula aku juga membutuhkan mu bukan hanya anak-anak saja." ucap Kafin dengan manja membuat Alice langsung memutar bola matanya dengan jengah.
Alice yang tak mendapati Kafin melepaskan pelukannya begitu saja, lantas langsung berusaha memutar otaknya dengan keras mencoba mencari akal. Sampai kemudian sebuah ide muncul dan langsung membuat Alice melakukannya tanpa berpikir panjang sama sekali.
Alice menggelitiki area perut Kafin dengan perlahan tanpa ampun sama sekali, membuat Kafin mulai menggeliat seperti cacing kepanasan dengan tawa yang mulai terdengar menggema di area kamarnya saat itu.
"Hentikan Al... Hentikan... Ini benar-benar menggelikan..." ucap Kafin dengan tawa yang menggema membuat seulas senyum terlihat terbit dari wajah Alice saat itu.
"Benar-benar gadis nakal!" ucap Kafin sambil tersenyum simpul menatap ke arah pintu kamarnya yang baru saja terlihat tertutup saat itu.
***
Area depan kamar utama
Alice yang berhasil keluar dari kamar lantas terlihat menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu kamar utama, setelah pintu tersebut berhasil di tutup dengan rapat olehnya. Diusapnya area dada Alice yang saat ini terasa begitu berdebar ketika mengingat perlakuan Kafin barusan kepadanya. Diusapnya kedua pipinya yang saat ini terlihat begitu memerah seperti kepiting rebus tersebut.
__ADS_1
"Berada di dekatnya benar-benar membuat jantung ku tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa pria itu mengatakan hal tersebut dengan semudah itu? Ini benar-benar gila!" ucap Alice sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan area kamar utama.
**
Dapur
Terlihat Alice tengah sibuk memasak sesuatu di sana untuk sarapan pagi bagi kedua putra putrinya dan juga Kafin, dengan cekatan Alice nampak memotong setiap bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk menu masakannya. Setelah semua bahannya siap Alice kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah lemari pendingin untuk mengambil sepotong daging, namun sayangnya di lemari pendingin sama sekali tidak ada daging.
Alice yang mendapati hal tersebut tentu saja langsung menghela napasnya dengan panjang. Alice terdiam di tempatnya sejenak seakan mencoba untuk mencari solusi saat ini, sampai kemudian seulas senyum terlihat terbit dari wajahnya kala itu.
"Bukankah masih ada Bibi? Aku bisa menyuruhnya untuk membeli daging sebentar di supermarket terdekat bukan?" ucap Alice sambil tersenyum simpul.
**
Area paviliun belakang
Alice yang memang ingin menyuruh Bibi untuk membeli daging sebentar terlihat mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah paviliun. Jika di pagi hari seperti ini biasanya para art akan berkumpul di ruang cuci untuk melakukan tugas mereka sebelum pada akhirnya bersih-bersih setelah Kafin pergi ke kantor dan anak-anak pergi ke sekolah. Bukankah Alice benar-benar pengamat yang cerdas? Ia bahkan baru tinggal beberapa hari di sana, namun sudah bisa mengingat kebiasaan semua orang di sana.
Disaat langkah kaki Alice hampir sampai di area cuci, sebuah suara yang terdengar dari arah dalam lantas menghentikan langkah kakinya dengan sejenak saat itu.
"Em bi Inah, bukankah Nyonya di rumah ini telah tiada? Mengapa tiba-tiba hidup lagi? Bukankah kita juga pergi ke pemakamannya saat itu?" ucap Ani yang tentu saja langsung membuat langkah kaki Alice terhenti seketika.
__ADS_1
"Apa? Tiada? Lalu aku siapa?
Bersambung