
"Sampai kapan aku harus menunggumu membuka pintu hati mu? Bukankah ini adalah saat yang tepat bagi kita?" ucap Ashraf kemudian yang langsung membuat Alice terdiam membeku di tempatnya.
Pertanyaan yang berasal dari Ashraf barusan benar-benar membuat Alice langsung terdiam dengan seketika. Alice sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut, meskipun saat ini sudah berlalu 6 tahun lamanya. Namun tetap saja perasaan untuk Ashraf seakan mati tepat ketika Kafin telah berhasil mengetuk pintu hatinya saat itu.
Sampai detik ini meskipun ia telah bersama dengan Ashraf bertahun-tahun serta Ashraf yang memperlakukan Caramel seperti anaknya sendiri, nyatanya sama sekali tidak bisa mengetuk pintu hati Alice yang hingga kini masih tertulis nama Kafin di dalamnya.
"Aku..." ucap Alice yang seakan bingung hendak menjawab apa pertanyaan dari Ashraf barusan.
Ashraf yang tidak kunjung mendengar jawaban apapun dari Alice saat itu, lantas hanya menghela napasnya dengan panjang. Ia tentu tahu jika saat ini hati Alice tidak lagi untuknya, namun entah mengapa? Mendapati hal tersebut membuat Ashraf sama sekali tidak menyukai hal itu. Bagi Ashraf, Kafin hanyalah seorang pendatang baru di hati Alice. Sampai kapan pun Alice tetaplah miliknya dari awal hingga kini ia tetap akan menjadi miliknya.
"Baiklah tidak perlu menjawabnya, aku akan memberikan mu waktu berpikir lagi. Aku harap setelah kita kembali ke Perancis kamu akan menerima pinangan ku." ucap Ashraf kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Alice seorang diri dengan segala pemikirannya saat itu.
Alice yang melihat kepergian Ashraf barusan, lantas hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Entah apalagi yang harus ia katakan untuk menolak dan juga menunda secara halus pinangan dari Ashraf kepadanya. Hal ini bahkan sudah terjadi beberapa kali selama 6 tahun belakangan ini, namun Ashraf selalu saja sabar dan tetap menunggu hingga Alice kembali membuka pintu hati untuk dirinya.
"Apa lagi yang harus aku katakan untuk menolak pinangan Ashraf? Ashraf sudah membantu dan menemani ku di saat-saat aku terpuruk, jika aku meninggalkannya begitu saja... Bukankah aku terlalu jahat dan tidak tahu diri? Entah apa yang harus aku lakukan saat ini..." ucap Alice pada diri sendiri sambil mengusap raut wajahnya dengan kasar tepat setelah kepergian Ashraf dari sana.
Disaat Alice tengah menatap ke arah kepergian Ashraf dengan tatapan yang sendu. Sebuah suara yang berasal dari sebelah lantas membuat Alice langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
"Mama Cala lapal!" pekik sebuah suara yang lantas membuat Alice mendengus begitu mendengarnya.
__ADS_1
Alice yang mendapati Putrinya sudah terbangun dari tidurnya, lantas langsung menghampirinya dan mengambil posisi berjongkok untuk menyamai gadis gembul tersebut.
"Lapar sayang bukan lapal, ingat itu oke?" ucap Alice sambil mencubit dengan gemas hidung Caramel saat itu.
Caramel yang mendengar hal tersebut tentu saja mengernyit seakan bingung akan penuturan Alice barusan.
"Lapal adalah lapal Ma.. Apa bedanya?" ucap Caramel dengan nada yang kekeh, namun berhasil membuat Alice tertawa karenanya.
"Baiklah-baiklah, sepertinya aku harus memarahi guru les privat Cara di sana agar lebih memperhatikan dan mengajari Cara pelafalan huruf dengan benar. Bagaimana bisa dia yang sudah memasuki usia lima tahun belum bisa mengucapkan huruf R. Apa mungkin Cara cadel ya?" ucap Alice dalam hati bertanya-tanya kepada dirinya sendiri sambil menuntun Cara menuju ke arah meja makan.
**
Sementara itu di sebuah mobil yang di kendarai oleh Ashraf, terlihat mobil tersebut melaju dengan kencang membelah jalanan Ibukota saat itu. Ashraf benar-benar mulai hilang kesabaran ketika mendapati lagi dan lagi Alice kembali menolaknya. Entah apa yang saat ini tengah di tunggu oleh Alice hingga membuatnya terus memilih untuk mundur tanpa berniat membuka kesempatan kembali bagi Ashraf untuk masuk ke dalamnya.
Ckit....
Hhhhhhhhhh
Tarikan napas yang begitu berat lantas membuat pikiran Ashraf mulai melayang saat itu. Dipukulnya dengan keras setir mobil ketika ia melihat kucing tersebut melintas dengan seenaknya dan meninggalkan area sekitar sana.
__ADS_1
"Sialan! Apa yang sebenarnya terjadi kepada ku? Sejak awal Alice adalah milik ku, bisa-bisa dia yang hanya orang asing datang dan merebut tempat ku sebelumnya yang selalu terlukis indah do hati Alice selama bertahun-tahun lamanya. Kafin kau benar-benar membuat ku kesal, bahkan sudah enam tahu berlalu hati Alice masih tetap memikirkan nama itu! Arg benar-benar mengesalkan." pekik Ashraf dengan nada yang meninggi karena kesal akan keadaan yang sama sekali tidak berpihak kepadanya.
***
Dari arah jalanan di sebuah kompleks perumahan dimana Ashraf tinggal, terlihat Kafin tengah melajukan mobilnya secara perlahan menyusuri area kompleks. Setelah mendapat kabar jika Alice berada di Ibukota saat ini tentu saja langsung membuat Kafin memutuskan untuk menghampiri Alice saat ini.
Entah apa yang ada dipikiran Kafin kali ini, yang jelas hanya ada nama Alice yang terus berputar di sana sejak enam tahun yang lalu.
Kafin yang yakin jika di kiri jalan adalah kediaman Ashraf nampak menghentikan laju mobilnya saat itu. Ditatapnya area kediaman Ashraf saat itu dengan tatapan yang sendu.
"Aku benar-benar merindukan mu Al.. Aku sungguh merindukan mu..." ucap Kafin pada diri sendiri secara berulang kali.
Disaat perasaan merindu begitu membumbung di hatinya, pintu kediaman Ashraf perlahan-lahan mulai terbuka dan memperlihatkan Alice yang terlihat melangkahkan kakinya semakin mendekat ke arah gerbang. Iya dia adalah gadis yang selama ini ia rindukan, kepergian Alice beberapa tahun silam membuat Kafin menyadari jika yang ia cintai saat ini adalah Alice.
Kafin benar-benar tidak perduli jika Bianca marah atau kecewa di atas sana, yang jelas perasaannya kepada Alice jauh lebih besar dan terus menyiksanya selama bertahun-tahun belakangan ini.
Kafin yang begitu merindukan sosok Alice nampak mulai menggenggam gagang pintu mobil dan bersiap untuk keluar dari sana. Hanya saja sebuah panggilan yang terdengar memekakkan telinganya saat itu, lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika begitu mendengar suara tersebut.
"Mama..... Mama... Mama... Ada telpon dali Papa beluang!" teriak Caramel sambil berlarian menuju ke arah Alice dengan membawa sebuah ponsel di tangannya.
__ADS_1
"Mama? Apakah Alice dan Ashraf sudah menikah?" ucap Kafin dengan raut wajah yang terkejut.
Bersambung