
Setelah mendengar perkataan Altair yang mengatakan jika Kafin akan bunuh diri, pada akhirnya membuat hati Alice tergerak dan memutuskan untuk menghampiri Kafin.
Sambil mengangkat gaun pernikahannya tinggi-tinggi, Alice terlihat mengikuti langkah kaki Dimas menuju ke arah mobil Dimas terparkir saat itu.
Entah mengapa Alice merasa khawatir jika sampai Kafin melakukan hal yang sama sekali tidak ia inginkan.
Dimas membukakan pintu mobil untuk Alice saat itu kemudian menutupnya dengan rapat.
"Semoga saja cara yang dilakukan oleh Tuan muda Altair berhasil, jika sampai masalah lain timbul dari sini entah apa lagi yang harus aku lakukan untuk membantu Tuan." ucap Dimas sambil mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah kursi pengemudi.
***
Ruang tunggu pengantin
Belinda yang melihat pintu terbuka disertai dengan kepergian Alice barusan, lantas membuatnya langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Raut wajah sumringah terlihat jelas terpancar dari wajah Altair saat itu, membuat Belinda langsung mengernyit ketika mendapati tatapan Altair yang terlihat aneh saat ini.
"Bagaimana? Apakah Abang berhasil membujuk Bunda untuk kembali bersama dengan Ayah?" ucap Belinda dengan raut wajah yang penasaran.
"Jika untuk membujuk sepertinya belum, tapi setidaknya aku berhasil membuat Bunda untuk datang dan menemui Ayah di kediamannya saat ini." ucap Altair dengan senyuman yang mengembang.
"Apa katamu? Apakah Ayah tahu tentang hal ini? Jangan bilang Abang mengatakan sesuatu yang tidak-tidak kepada Bunda tadi." ucap Belinda sambil menatap curiga ke arah Altair saat itu.
"Tidak ada yang aneh, aku hanya bilang jika Ayah hendak mengakhiri hidupnya saja." ucap Altair dengan nada yang begitu datar, namun berhasil membuat Belinda melotot ketika mendengarnya secara langsung.
"Apa Abang sudah gila?" pekik Belinda sambil memukul pundak Altair dengan spontan.
***
Area Ballroom hotel
Suasana area Ballroom hotel saat itu, terlihat begitu ramai dengan beberapa tamu undangan yang sudah hadir dan memenuhi area tempat diadakannya pernikahan antara Ashraf dan juga Alice saat itu.
__ADS_1
Sebuah sorak suara terdengar begitu jelas dari beberapa tamu undangan, tepat ketika MC pernikahan naik ke atas altar pernikahan.
"Baiklah-baiklah tanpa mengulur-ulur waktu lagi kita sambut pengantin wanita kita yaitu Nona Alice Alexia Zamora, beri tepukan yang gemuruh sekalian..." ucap MC tersebut dengan nada yang terdengar begitu sumringah.
Mendengar suara MC yang mempersilahkan pengantin wanita untuk memasuki area Ballroom, lantas membuat beberapa tamu undangan dan juga Ashraf menoleh kearah pintu utama Ballroom hotel tersebut.
Suara riuh gemuruh tepuk tangan mulai mengiringi area pintu utama Ballroom hotel, seiring dengan dibukanya secara perlahan pintu utama tersebut.
Hanya saja tepat ketika pintu terbuka dengan sempurna, raut wajah tamu undangan dan juga Ashraf langsung mengernyit dengan seketika. Semua mata lantas terkejut serta bertanya-tanya, ketika tidak mendapati adanya seorang pengantin wanita tengah berdiri dan berjalan ke arah altar pernikahan saat itu.
Seluruh tamu undangan nampak saling pandang antara satu sama lain, membuat suasana kian semakin ricuh ketika tak kunjung melihat pengantin wanita keluar dari sana.
"Mohon maaf semuanya, sepertinya ada sebuah kesalahpahaman disini..." ucap MC hendak menjelaskan situasinya.
Hanya saja Ashraf yang sudah menaruh curiga sebelumnya dan tidak bisa berpikir dengan positif saat itu, lantas langsung berlarian begitu saja tanpa memperdulikan setiap pasang mata yang menatap ke arahnya saat itu. Membuat MC yang kebingungan hendak menjelaskan situasinya kepada para tamu undangan, lantas hanya bisa menatap tak percaya akan kepergian Ashraf saat ini.
"Pergi kemana kamu Al?" ucap Ashraf dalam hati dengan gelisah.
***
Dengan langkah kaki yang perlahan Ashraf nampak membawa langkah kakinya menuju ke arah ruang tunggu pengantin wanita. Pikirannya saat ini benar-benar kacau dan tidak bisa berpikir dengan jernih, membuatnya semakin membawa langkah kakinya dengan gerakan yang cepat saat itu memasuki area ruang tunggu pengantin wanita.
Brak
Suara pintu yang terbuka dengan lebar jelas terdengar saat itu, membuat suasana hening lantas tercipta begitu Ashraf berhasil membuka area ruang tunggu pengantin wanita.
"Al kamu dimana? Jangan bercanda Al... Ini sama sekali tidak lucu! Al.. Alice..." ucap Ashraf dengan manik mata yang menatap ke area sekitar, seakan mencoba untuk mencari tahu keberadaan Alice.
Ashraf berdecak dengan kesal, ketika ia tak kunjung menemukan keberadaan Alice di manapun, membuat tangannya lantas menggenggam dengan sempurna, seakan berusaha untuk menahan amarah dan rasa malu yang saat ini terlempar tepat dan menutupi wajahnya.
Ashraf mendial nomer Alice di ponselnya, sambil menunggu dengan gelisah Ashraf nampak mondar-mandir layaknya sebuah setrikaan.
"Angkat telponnya Al, kamu dimana?" ucap Ashraf pada diri sendiri.
__ADS_1
Hingga kemudian sebuah suara deringan ponsel yang tak asing di telinganya, lantas membuat Ashraf mulai mengikuti sumber suara saat itu dengan raut wajah yang cemas.
"Kafin.... Tidak bisakah kau diam dan tidak mengurusi hidup orang lain? Kau benar-benar menyebalkan sekali!" ucap Ashraf sambil menggenggam ponsel milik Alice yang berhasil ia temukan barusan.
***
Kediaman Kafin
Mobil yang dikendarai oleh Dimas nampak berhenti di area plataran mansion tersebut. Alice yang tak menghiraukan lagi kakinya yang bertelanjang tanpa alas kaki, terlihat mulai menuruni mobil dengan langkah kaki yang bergegas.
Dimas terpaku menatap ke arah Alice yang saat itu tengah berlarian memasuki area dalam Mansion. Seulas senyuman terlihat jelas terpancar dari wajah Dimas saat itu. Entah mengapa ia merasa setelah semua ini, Alice dan juga Kafin akan kembali bersatu.
"Semoga saja firasat ku benar adanya." ucap Dimas sambil menatap ke arah punggung Alice yang tak lagi terlihat pada pandangannya saat itu.
**
Area dalam Mansion
Alice nampak berlarian ke sana ke mari mencari keberadaan Kafin di area Mansion. Alice menghentikan langkah kakinya sejenak ketika ia tak berhasil menemukan Kafin dimana pun saat itu.
"Dimana sebenarnya kamu Kaf? Mengapa aku semakin merasa khawatir ketika tak kunjung menemukan mu." ucap Alice pada diri sendiri sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitaran.
Alice mulai menggigit bibir bagian bawahnya ketika rasa frustasi mulai datang dan menyerang hatinya. Sampai kemudian pandangannya tertuju pada area Taman sebelah, di mana ia belum sempat memeriksa area tersebut.
Alice yang sekan yakin dan terdorong untuk ke arah sana, lantas mulai membawa langkah kakinya dengan langkah kaki yang bergegas menuju ke arah Taman sebelah berharap ia dapat menemukan Kafin di sana.
Langkah kaki Alice lantas terkejut dengan seketika, begitu ia mendapati pemandangan yang sam sekali tak pernah ia bayangkan saat itu.
"Apa yang kau lakukan Kaf?" pekik Alice dengan manik mata yang membulat.
Criang... Brak...
Bersambung
__ADS_1