
"Berhenti Tia!" pekik Cicil yang seakan tidak menginginkan hal itu sampai terjadi.
Disusul nya Tia dengan langkah kaki yang besar, membuat Tia lantas langsung menghentikan langkah kakinya begitu mendengar teriakan dari Cicil barusan.
"Ada apa lagi sih Ma?" ucap Tia dengan raut wajah yang malas.
"Apapun yang terjadi kepada Mama jangan mengganggu Papa mu, apa yang Papa lakukan kepada Mama adalah hasil balasan dari perilaku Mama. Kamu tidak akan mengerti urusan orang tuan Ti.. Berjanjilah jika kamu tidak akan melakukan apapun kepada Papa." ucap Cicil sambil menggenggam dengan erat tangan Tia saat itu.
Mendengar permintaan dari Cicil barusan, membuat Tia lantas menatapnya dengan tatapan yang tidak mengerti. Entah apa yang saat ini ada di pikiran Ibunya, namun Tia sama sekali tidak paham akan sikap Cicil yang malah terkesan membela dan membenarkan sikap Alex tersebut.
"Ayolah Ma..." ucap Tia namun terhenti ketika mendengar suara Cicil yang kembali memohon saat ini.
"Berjanjilah Ti.. Berjanjilah kepada Mama..." ucap Cicil kembali dengan nada yang memohon, membuat helaan napas terdengar jelas berhembus kasar dari mulut gadis remaja itu.
"Baiklah" ucap Tia pada akhirnya, membuat seulas senyum terlihat mengembang di wajah Cicil saat ini.
"Terima kasih banyak Ti..." ucap Cicil sambil memeluk tubuh Tia dengan erat.
Setidaknya untuk saat ini Cicil bisa mencegah hal buruk atau bahkan perpecahan terjadi dalam Rumah tangganya. Cicil bahkan sudah bertahan hingga sejauh ini menghadapi tempramen Alex yang berubah-ubah. Jika ia menyerah begitu saja, bukankah semua usahanya hanya akan berakhir dengan sia-sia?
***
Kediaman Ashraf
Mobil yang di kendarai oleh Arman lantas terlihat berhenti tepat di area plataran kediaman Ashraf. Dengan langkah kaki yang perlahan Belinda dan juga Altair mulai membawa langkah kaki mereka turun dari dalam mobil dan menuju ke arah pintu utama.
__ADS_1
Ada sebuah perasaan tak rela dalam diri Belinda ketika ia dan juga Altair harus mengantarkan Caramel kembali ke Rumah Ashraf. Belinda menghela napasnya dengan panjang disaat mendengar Altair mulai mengetuk pintu utama di hadapan ketiganya saat ini.
Tok tok tok
"Ada apa dengan ku? Aku bahkan baru bertemu dengannya, tapi mengapa aku tidak rela membiarkannya pergi?" ucap Belinda yang sama sekali tidak mengerti akan perasaannya sendiri.
Beberapa menit menunggu seseorang keluar dari sana, tak lama setelah itu terlihat Ashraf tengah melangkahkan kakinya sambil memasang raut wajah datar mendekat ke arah ketiganya.
"Papa Beluang..." pekik Caramel ketika melihat kedatangan Ashraf yang menuju ke arahnya.
Mendengar sebuah suara tak asing di pendengarannya, lantas membuat raut wajah Ashraf berubah dengan seketika. Ashraf yang melihat kedatangan Caramel saat itu, kemudian mulai mengambil posisi sedikit berjongkok dan membuka kedua tangannya dengan lebar. Membuat Caramel dengan spontan berlarian dan masuk ke dalam pelukan Pria tersebut.
Mendapati pemandangan tersebut baik Altair maupun Belinda langsung terdiam seketika. Keduanya seakan sama-sama berselancar dalam pikiran mereka masing-masing.
"Sepertinya Caramel begitu bahagia berada di sini, lalu mengapa aku sedih? Bukankah harusnya aku ikut senang?" ucap Belinda dalam hati sambil terus menatap interaksi antara Ashraf dan juga Caramel saat itu.
Keduanya nampak terdiam dan menyelami pikiran masing-masing saat itu. Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari Ashraf, lantas membuyarkan segala lamunan keduanya saat itu.
"Bagaimana Cara bisa ada bersama dengan kalian?" ucap Ashraf ketika mendapati kepulangan Caramel bersama dengan anak-anak Kafin.
"Em.. Ada sedikit permasalahan yang terjadi pada Bunda, kami berdua di minta untuk mengantarkan Caramel pulang terlebih dahulu." ucap Belinda kemudian menjawab pertanyaan Ashraf barusan.
Mendengar hal tersebut membuat Ashraf memutar bola matanya dengan jengah. Setelah mendapatkan pesan singkat dari Kafin sebelumnya, Ashraf benar-benar tidak yakin jika permasalahannya segampang yang di ucapkan oleh Belinda barusan. Ashraf yang mendengar jawaban tersebut lantas tersenyum dengan tipis, membuat Belinda dan juga Altair yang melihat ekspresi tersebut kemudian saling pandang antara satu sama lainnya.
"Cih.. Aku tidak yakin jika masalah yang kamu katakan barusan konteksnya kecil. Aku kenal Papa mu jadi aku rasa kali ini ia akan kembali menyulitkan Alice." ucap Ashraf sambil menggendong Caramel di pelukannya, yang saat ini sudah lebih mirip dengan bayi koala di gendongan Ashraf.
__ADS_1
"Jaga mulut anda ya Om, kami lebih tahu Papa kami lebih baik dari pada siapapun. Jika memang keduanya sedang terlibat sesuatu, lalu apa urusannya dengan anda?" ucap Altair yang mulai kesal sekaligus tidak terima akan perkataan dari Ashraf barusan.
"Kamu anak kecil tahu apa? Tugas kalian hanyalah sekolah, aku harap kalian bisa membedakan mana yang baik dan juga mana yang buruk di seusia kalian saat ini." ucap Ashraf lagi yang semakin membuat Altair tersulut emosi saat ini.
"Om itu sama sekali tidak tahu apapun, Papa..." ucap Altair yang mulai meninggi saat itu.
Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Belinda khawatir sekaligus takut, apabila terjadi pertengkaran diantara keduanya.
"Sudah Abang, apa yang kamu lakukan? Bukankah kita datang ke sini untuk mengantar Caramel pulang? Jadi jangan buat keributan apapun dan segera pergi dari sini." ucap Belinda sambil masih mencoba untuk tersenyum menengahi keduanya.
"Tapi dia menghina Ayah, tidakkah kamu juga mendengarnya?" ucap Altair yang seakan tidak terima jika Belinda menyuruhnya untuk tetap diam dan tidak melawan.
Mendengar hal tersebut membuat Belinda mengambil napasnya dalam-dalam kemudian sedikit mendekatkan mulutnya ke telinga Altair bersiap untuk membisikkannya sesuatu.
"Tenanglah Abang, jika Abang membuat keributan di sini aku yakin Om Ashraf tidak akan membiarkan kita bertemu dengan Caramel ataupun Bunda. Jadi mari berakting jadi anak yang baik baru setelah itu kita bicarakan langkah kita selanjutnya." ucap Belinda kemudian dengan nada setengah berbisik, membuat raut wajah Altair berubah dengan perlahan begitu mendengar bisikkan dari Belinda barusan.
"Baiklah aku akan mencobanya." ucap Altair pada akhirnya, membuat perasaan Belinda sedikit lega ketika mendengarnya.
"Saya rasa tugas kami berdua sudah selesai, jika begitu kami pamit dulu Om... Mel kita pergi ya? Kapan-kapan Kakak akan main lagi ke sini untuk bertemu dengan mu." ucap Belinda kemudian sambil mengulum senyum menatap ke arah Caramel saat itu.
"Benal ya Kak? Cala akan menunggu Kakak kalau begitu..." ucap Caramel dengan tersenyum simpul.
Mendapat jawaban tersebut Belinda lantas mengangguk kemudian setelah itu menarik tangan Altair agar mulai bergerak pergi meninggalkan kediaman Ashraf.
"Tidak Anak tidak Bapak sama saja kelakuannya!" ucap Ashraf tepat setelah kepergian keduanya dari hadapannya, sebelum berlalu pergi masuk ke dalam.
__ADS_1
Bersambung