
Nai memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya. Sementara Cece? dia bersembunyi dibawah ranjang. Nai membuka pintu kamarnya perlahan dan dia tidak melihat apa-apa. Dia berjalan perlahan menuju pintu depan karena ingin memastikan ada orang atau tidak. Tapi, hasilnya nihil, dia tidak menemukan siapa-siapa. Saat Nai ingin kembali ke kamarnya, dia sangat kaget karena dibelakangnya sudah ada orang yang membawa kayu panjang dan memukul bahu Nai
"Aawww" Pekik Nai saat dipukuli oleh orang itu
Cece yang sudah meringkuk ketakutan dibawah tempat tidur menjadi semakin gemetar karena dia tau, diluar sedang tidak baik-baik saja. Cece yang melihat Nai di bawa ke arah dapur menjadi semakin takut
"Huaaa, mamaa tolongin Cece, Cece kasian sama Nai, tapi Cece takut " Batin Cece.
Akhirnya, perdebatan otak dan hati Cece memberikan kesimpulan bahwa ia akan memberanikan diri untuk keluar. Prinsip cece sekarang "PERANG ATAU MATI". halah, sok²an bngt Cece nya, padahal mah kakinya gemeteran pas jalan. wkwk.
Cece melirik ke arah dapur dan melihat orang itu sedang mengikat tangan dan kaki Nai. Beruntungnya, sepertinya orang itu tidak menyadari kalau ada Cece dirumah itu.
Cece berlari sekencang mungkin menuju pintu depan dan keluar dari rumah serta mengunci pintu itu dari luar.
"Ah sial" Umpat orang yang berada di dalam rumah Nai.
"TOLOOONGGG. . . TOLOOONGGG" Teriak Cece diluar rumah dengan begitu paniknya, ditambah lagi, dobrakan dari dalam rumah yang berusaha membuka pintu semakin membuat Cece gemetar. Hasilnya? Nihil. Bagaimana tidak, ini sudah hampir pukul setengah 2 pagi, mana mungkin ada orang yang mendengarnya.
"HIKSS TOLONGIIINN HIKS TOLOONGG" Kali ini, Cece berteriak sambil menangis dan berjongkok, dia sudah tidak bisa membayangkan kalau orang itu juga menangkapnya, entah bagaimana dirinya dan Nai akan berakhir.
Tiba-tiba saja sebuah motor dan seorang pria berhenti di depan Cece
"Lu kenapa"
Cece mendongakk dan melihat orang di depannya, dia sudah tidak.peduli itu siapa.
"Tolongin gw plis, didalam ada maling, tmn gw di ikat di dalam"
"Sini kuncinya, biar gw yang masuk, lo cari bantuan lain"
Cece memberikan kunci itu kepada pria itu dan langsung berlari mencari bantuan.
Kira² siapa cowok yang menolong mereka? Cowok itu Gara. Yap, ketua osis SMA Bakti Mulia. Tempat Nai dan Cece bersekolah.
__ADS_1
"Gausah ikut campur ya lo" Ancam maling itu dengan membawa kayu besar yang sudah ia siapkan untuk memukul Gara.
"Apa si, lu yang maling. Lu yang harusnya dibawa ke kantor polisi sekarang" Gara langsung menonjok maling itu.
Tapi, Gara bisa apa, maling itu memukul kepala Gara dengan kayu yang dipegangnya. Gara tersungkur ke lantai dan maling itu langsung menindih dan menonjok muka Gara berkali-kali.
"WOYY BERHENTI DISANA" Teriakan warga yang datang bersama Cece.
Maling itu langsung di bawa oleh warga, sebelumnya Cece sudah berpesan agar warga tidak sembarangan main hakim sendiri. Dia minta agar warga membawa maling itu ke pihak berwajib.
"HUAAAAA NAIII" Teriak Cece dan langsung berlari ke arah Nai, membuka ikatan di tangan dan kaki Nai. Nai tidak pingsan, hanya saja, dia begitu lemas.
"Dek, masih ada yang perlu kami bantu?" Ucap salah satu bapak-bapak yang sudah membantu mereka.
"Engga pak, makasih banyak. Maaf ya pak saya mengganggu istirahatnya" Jawab Cece dengan ramah.
"Yasudah kalau begitu kitasemua pamit dek"
"Iya pak, makasih banyak sekali lagi"
Nai hanya menggeleng dan menunjuk ke arah pria yang menolongnya tadi. Yang tak lain adalah Gara.
"Ya Allah. Maap gw lupa kalo ada orang disanaa"
Cece menuntun Nai untuk jalan menuju ruang tamu dan mendudukkannya di sofa.
Gara memposisikan badannya dalam posisi duduk dan memegangi kepalanya yang terasa nyeri dan mengeluarkan cairan beewarna merah itu.
Cece kemudian menyalakan lampu ruang tamu agar dia tidak menabrak barang² yanh ada disana.
"HAAHH KAK GARAAA, KOK BISA DISINI"
"Gausah teriak-teriak" Gara mengiris sambil memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Ehh maaf kak, ehh itu kepalanya ada darahnyaa, sini doobatin dlu"
"Temen lu aja dulu yang diobatin"
"Haaa, Cece bingung harus obatin yang mana dulu. Gini aja, kak Gara duduk dulu di Sofa" Cece membantu Gara berdiri dan menuntunnya ke sofa.
Cece kemudian pergi ke kamar dan mengambil air yang sebelumnya dia persiapkan untuk minum saat ngemil bersama Naira.
"Nihh, kalian minum dulu. Nai, kotak obat dimana?"
"Ada di kamar sebelah kanan ranjang, ujung bawah" Jawab Nai lemas.
Setelah Cece mengobati Gara dan Naira, mereka bertiga sedang duduk di ruang tamu.
"Tadi emang maling atau salah satu orang yang kalian kenal?" Tanya Gara.
"Gamungkin kalau kenal, saya disini belum 2 minggu kak, masa udah ada aja yang dendam. Kayanya emang maling"
Gara hanya mengangguk kecil.
"Kakak sendiri kok bisa ada di sini, jam 2 pagi lagi" Kali ini Cece yang bertanya.
"Tadi kebetulan lewat, dari rumah keluarga, terus ada teriakan minta tolong, yaudah gw samperin. Emang, orang tua kamu kemana Nai?"
"Ada urusan keluar kota 3 hari" jawab Nai seadanya.
"Yaudah, gw pamit ya, udah malem banget. Kalian kunci pintu baik-baik. Istirahat cepet, besok sekolah"
"Emm, anu, itu kepalanya udah ga sakit kak?" Canggung Naira
"Santai" Ucap Gara sambil tersenyum tipis lalu keluar menuju motornya.
"Hati² kak" Teriak Cece.
__ADS_1
Cece dan Naira langsung mengunci pintu dan merebahkan tubuhnya diatas kasur, sebelum akhirnya Naira membuka suara duluan.