
Di dalam sebuah mobil yang dikendarai oleh Kafin dengan kecepatan tinggi, terlihat Kafin tengah berkendara sambil menatap kosong ke arah jalanan saat itu.
Pikirannya benar-benar melayang memutar kembali ingatan yang baru saja terlintas di benaknya. Pelukan yang terjadi diantara Alice dan juga Ashraf, benar-benar tidak bisa lepas dari pikirannya.
Kafin yang mendapat informasi setelah menandatangani surat penyerahan proyek kepada SJ Company, lantas langsung meminta bantuan polisi untuk melakukan penangkapan kepada Alex saat itu juga.
Tak pernah terbayangkan dalam benaknya, jika ketika Kafin sampai di tempat tersebut. Kafin malah melihat sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia inginkan.
Ckit....
Sebuah suara rem yang di injak dengan tiba-tiba, lantas membuat deruan napas Kafin terdengar dengan jelas. Sebuah sepeda motor mendadak melintas persis di depan mobil dan membuat Kafin terkejut karenanya.
Tinnnnn...
"Sial! Mengapa semua orang sangat menyebalkan!" pekik Kafin sambil memencet klakson mobilnya cukup panjang saat itu.
Helaan napas berat terdengar berhembus jelas dari mulutnya saat itu, membuat Kafin langsung mengusap rambutnya dengan kasar ke arah depan.
Sebuah deringan ponsel terdengar menggema di sana dan langsung membuyarkan segala lamunan Kafin saat itu. Sambil berdecak dengan kesal, Kafin yang melihat nama Dimas tertera jelas di layar ponsel miliknya lantas mulai menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Ada apa?" tanya Kafin dengan nada yang terdengar begitu ketus saat itu.
"Tuan saya ingin memberitahukan kepada anda jika pihak SJ Company mengklaim proyek taman terbuka hijau dalam naungan mereka, apakah anda tahu mengenai masalah ini?" ucap Dimas dengan nada yang terdengar khawatir jika sampai Kafin sama sekali tidak mengetahuinya.
"Aku lah yang melakukan penyerahan itu, sebaiknya kau lebih berfokus pada berita penangkapan calon presiden atas penculikan Alice. Aku mau kamu membuat berita itu besar asalkan nama Alice tidak boleh ada yang mengetahuinya." ucap Kafin dengan nada yang terdengar begitu datar, namun berhasil membuat Dimas mengernyit dengan raut wajah yang bingung ketika mendengar perkataan dari Kafin barusan.
"Apakah sesuatu telah terjadi Tuan? Mengapa saya sama sekali tidak mengetahui tentang hal ini?" ucap Dimas dengan nada yang terdengar seperti sedang kebingungan.
__ADS_1
"Datanglah ke Kantor polisi pusat kau akan tahu jawabannya di sana. Untuk selanjutnya jangan mengganggu ku karena aku sama sekali tidak ingin di ganggu." ucap Kafin dengan nada yang penuh penekanan.
"Tapi Tuan..."
Tut tut tut
Tanpa menunggu jawaban dari perkataannya sebelumnya, Kafin memutus sambungan telepon yang dilakukan oleh Dimas saat itu dan melempar ponselnya ke arah kursi penumpang sebelahnya. Kafin benar-benar malas menjelaskan situasinya kepada Dimas saat ini.
Diusapnya rambutnya dengan kasar kemudian menarik napasnya dalam-dalam.
"Entahlah, aku sudah benar-benar lelah saat ini..." ucap Kafin sebelum pada akhirnya kembali menancap gas dan berlalu pergi dari sana.
***
Sementara itu di kediamannya, terlihat Cicil tengah duduk di ruang tengah sambil tersenyum menatap ke arah map yang saat ini terletak di atas meja.
"Bukankah Kafin sangatlah bodoh? Lagi pula mana ada Pria yang sebegitu bucin kepada seorang wanita hingga mampu mengorbankan apapun yang ia miliki." ucap Cicil sambil mengetuk-ketukan jari tangannya pada meja selama beberapa kali saat itu.
Sampai kemudian sebuah deringan ponsel miliknya, lantas terdengar menggema dan langsung membuyarkan lamunannya saat itu. Cicil yang melihat nama Rafi tertera dengan jelas pada layar ponsel miliknya, tentu saja langsung mengernyit dengan raut wajah yang bingung.
Tidak biasanya Rafi meneleponnya seperti ini, membuat Cicil lantas bertanya-tanya apa yang hendak Pria itu bicarakan kepadanya.
"Halo.." ucap sebuah suara di seberang sana, tepat setelah Cicil menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Ada apa? Tumben sekali kau menelpon kemari?" ucap Cicil dengan nada yang sewot.
"Saya ingin memberitahukan kepada anda jika Tuan Alex di gelandang ke kantor polisi saat ini. Saya juga tidak tahu bagaimana bisa polisi datang dan menyergap dengan tiba-tiba. Namun saat ini berita sudah kian meluas Nyonya, saya takut jika tidak segera di selesaikan maka Tuan akan kesulitan untuk maju ke pemilu tahun ini." ucap Rafi dengan nada yang terdengar begitu khawatir.
__ADS_1
Mendengar perkataan dari Rafi barusan, tentu saja langsung membuat manik mata Cicil membulat dengan seketika. Entah bagaimana jadinya, mendadak di pikirannya hanya ada satu nama yang terlintas saat ini yaitu Kafin.
"Kafinnnnnnnn" ucap Cicil dalam hati dengan tatapan yang kesal.
"Nyonya apakah anda mendengar saya? Halo... Halo..." ucap Rafi di seberang sana ketika tak kunjung mendengar jawaban apapun dari cicil di seberang sana.
"Urusi masalah pers untuk sementara ini, aku akan mencoba untuk mencari bantuan." ucap Cicil kemudian.
"Baik Nyonya..." ucap Rafi kemudian sebelum pada akhirnya menutup sambungan telponnya saat itu.
Setelah sambungan telponnya terputus, Cicil nampak bangkit dari tempatnya dan melempar begitu saja map yang sedari tadi ia tatap. Sambil berteriak dengan kesal, Cicil nampak mulai menatap ke arah beberapa lembar kertas yang nampak berhamburan dan jatuh ke bawah.
"Kau benar-benar Pria b3r3ngs3k Kaf! Awas saja kau..." pekiknya dengan nada yang terdengar sangat kesal karenanya.
***
Kafin yang baru saja sampai, lantas terlihat melangkahkan kakinya dengan lesu turun dari dalam mobil. Pikirannya saat ini benar-benar tengah kacau, entah bagaimana ia akan bisa melanjutkan kehidupannya. Yang jelas Kafin akan berusaha untuk maju dan menjalani hidupnya dengan baik selanjutnya.
Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Kafin saat itu, membuat langkah kakinya kian menjadi berat ketika semakin masuk ke dalam kediamannya.
"Entah apa yang harus aku lakukan untuk melewati hari berikutnya, namun aku rasa sepertinya akan terlalu berat untuk menuju ke hari esok." ucap Kafin pada diri sendiri sambil terus membawa langkah kakinya menuju ke kediamannya.
Disaat Kafin yang baru saja hendak membuka pintu kediamannya, sebuah suara yang tak asing di pendengarannya saat itu lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
Kafin perlahan-lahan mulai memutar tubuhnya ke arah sumber suara, untuk memastikan asal suara yang baru saja ia dengar.
"Apa yang kau lakukan sebenarnya ha? Apakah kau tengah menguji ku saat ini?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Kafin mengernyit dengan seketika.
__ADS_1
Bersambung