
Setelah Altair mendapat panggilan telepon yang tanpa ia duga-duga berasal dari Alice saat pertengkarannya dengan Kafin. Kemudian lantas membuat Altair dan juga Kafin menuju ke arah tempat yang di bicarakan oleh keduanya di telpon tadi.
Keheningan terjadi diantara keduanya saat itu, membuat Kafin lantas terlihat sesekali melirik ke arah Altair saat itu. Entah apa yang ada dipikiran Altair saat ini, namun hal tersebut mengundang rasa penasaran dalam hati Kafin saat itu.
Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Kafin saat itu, namun sama sekali tidak membuat Altair membuka pembicaraan di antara keduanya. Altair yang mendengar helaan napas dari Kafin saat itu, yang Altair lakukan hanya menoleh sekilas ke arah Kafin kemudian kembali menatap lurus ke arah depan.
"Mengapa aku baru menyadari jika jarak di antara aku dan Putra ku begitu jauh, hingga kami berdua lebih nyaman terdiam dalam keheningan masing-masing? Apakah mereka begitu membenci diri ku? Rasanya aku benar-benar gagal menjadi figur seorang Ayah bagi kedua anak ku." ucap Kafin dalam hati sambil terus fokus menatap ke arah jalanan saat itu.
.
.
.
.
Setelah melintasi beberapa meter area jalanan Ibukota, terlihat mobil yang dikendarai oleh Kafin saat itu berhenti tepat di area pinggir bahu jalan. Tanpa menunggu Kafin memarkirkan mobilnya saat itu, Altair yang sudah tidak sabar lantas langsung membuka pintunya begitu saja. Membuat Kafin yang mendapati hal tersebut tentu saja terkejut bukan main, ia bahkan berdecak dengan kesal karena putranya itu sama sekali tidak sabaran padahal tinggal sedikit lagi ia akan menyelesaikan parkirnya.
"Apakah dia harus seperti itu? Bukankah ia bisa melangkah secara perlahan?" ucap Kafin sambil menghela napasnya dengan panjang.
Altair yang memang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Alice saat ini, lantas langsung berlarian menuju ke arah dimana Alice dan juga Belinda berada saat ini. Dengan manik mata yang berkaca-kaca Altair terus mempercepat langkah kakinya, ketika melihat bayangan Alice dan juga Belinda tengah duduk menanti di bangku taman saat itu.
"Bunda..." panggil Altair yang lantas membuat Alice dan juga Belinda menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Alta.. Apakah kamu..." ucap Alice hendak bertanya namun ucapannya terpotong dengan seketika.
Tanpa banyak bicara lagi Altair langsung memeluk tubuh Alice dengan erat, membuat Alice terdiam dengan seketika di tempatnya. Alice bahkan sempat terkejut ketika baik Belinda maupun Altair bereaksi sama ketika bertemu dengannya. Padahal ia hanyalah seorang Ibu pengganti dari Bianca, namun kasih sayang Altair dan juga Belinda memperlakukannya layaknya seorang Ibu kandung.
Diusapnya perlahan punggung Altair saat itu dengan lembut kemudian tersenyum dengan simpul.
"Hei hei ada apa sebenarnya dengan kalian berdua? Ayolah.. Mengapa kalian berdua seperti ini?" ucap Alice sambil menatap ke arah Altair dan juga Belinda saat itu.
"Aku benar-benar merindukan Bunda, em.. Maksud ku tante.. Apa tante baik-baik saja?" ucap Altair sambil melepas pelukannya dengan perlahan.
Disaat keduanya sedang asyik melepas kerinduan antara satu sama lainnya. Sebuah suara yang berasal tidak jauh dari posisi mereka berada saat itu, lantas membuat ketiganya langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
"Maaf mengganggu waktu kalian, hanya saja kita harus pulang saat ini. Cara sudah menunggu di dalam, aku yakin dia sudah lelah setelah perjalanan jauh yang kita lewati." ucap sebuah suara yang berasal dari Ashraf saat itu.
Mendengar perkataan Ashraf barusan tentu saja membuat raut wajah sendu terlihat jelas pada keduanya saat itu. Di liriknya Ashraf dan juga Alice secara bergantian kemudian menghela napasnya dengan panjang.
"Em... Cara... Cara adalah Putri Bunda..." ucap Alice pada akhirnya.
Entah bagaimana Alice akan memperkenalkan Caramel kepada keduanya. Namun yang jelas untuk saat ini mungkin perkataan yang barusan ia ucapkan adalah jawaban yang paling tepat, sambil nanti menunggu waktu yang pas untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada Altair dan juga Belinda tentang siapa Caramel sebenarnya.
"Putri? Apakah Bunda sudah menikah lagi dengan Paman itu? Bagaimana bisa?" ucap Altair dalam hati sambil menatap ke arah Ashraf dan juga Alice secara bergantian.
"Sebentar lagi, setidaknya sampai anak-anak ada yang mengantar pulang." ucap Alice kepada Ashraf.
__ADS_1
"Tidak perlu, tidakkah kamu melihat ke arah sana? Kafin bahkan sudah menanti mereka sedari tadi. Apa kamu tidak kasihan kepada Caramel?" ucap Ashraf dengan nada sedikit penekanan.
Baginya pertemuan ini sama sekali tidak menyenangkan untuknya. Ashraf yang berharap jika Alice tidak pernah bertemu dengan anak-anak ataupun Kafin. Namun sayangnya sebuah takdir ke.bali mempertemukan mereka semua tanpa di sengaja. Tatapan semua yang melihat Alice dengan manik mata yang berkaca-kaca, benar-benar membuat Ashraf membenci hal tersebut.
"Sebentar lagi, aku janji.. Biarkan aku untuk berpamitan dengan mereka." ucap Alice dengan nada yang memohon kepada Ashraf untuk memberinya waktu sedikit lagi.
Mendengar permohonan dari Alice barusan, pada akhirnya membuat Ashraf hanya bisa menghela napasnya dengan berat. Meski agak sedikit kesal, namun Ashraf berusaha untuk menahan hal tersebut agar tidak terlalu terlihat.
"Baiklah tapi jangan terlalu lama, aku akan menunggu mu di dalam mobil." ucap Ashraf yang lantas di balas anggukan kepala oleh Alice saat itu.
Setelah mengatakan hal tersebut Ashraf kemudian mulai membawa langkah kakinya masuk ke dalam mobil. Sedangkan Alice yang melihat hal tersebut kemudian mulai menatap ke arah Belinda dan juga Altair secara bergantian.
"Bunda pergi ya.. Jangan lupa untuk makan karena kalian terlalu kurus, Bunda rasa itu tidak cocok untuk image gembul kalian berdua." ucap Alice mencoba untuk mencairkan suasana yang terlihat begitu aneh saat ini.
Apalagi tatapan Kafin yang terus menatapnya sedari tadi, benar-benar membuat Alice sedikit salah tingkah karenanya. Diusapnya rambut Belinda dan juga Altair secara perlahan kemudian tersenyum dengan simpul.
Setelah melakukan hal tersebut Alice kemudian mulai berbalik badan dan berlalu pergi dari sana. Namun sebuah tarikan tangan yang terasa menahannya, lantas membuat langkah kaki Alice terhenti dengan seketika.
"Bisakah Bunda untuk tidak pergi? Aku mohon..." ucap Belinda dengan raut wajah yang memohon.
"Maaf Abel tapi Bunda harus pergi, bukankah kita sudah bertukar nomor ponsel? Hubungi Bunda kapan saja kamu mau..." ucap Alice dengan nada yang lembut.
Namun Belinda yang mendengar hal tersebut sama sekali tidak bisa merelakan kepergian Alice dari sisinya. Tangan Belinda perlahan-lahan terlepas seiring dengan langkah kaki Alice yang kian menjauh menuju ke arah mobil.
__ADS_1
"Apa kamu begitu membenci ku? Hingga sama sekali tidak menyapaku walau kita berada di tempat yang sama." ucap sebuah suara yang lantas kembali menghentikan langkah kaki Alice dengan seketika.
Bersambung