
Setelah Alice melihat nama Kafin tertera dengan jelas pada layar ponsel miliknya, lantas membuat Alice langsung menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya dan mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Halo..." ucap Alice kemudian setelah panggilan telpon tersebut terhubung.
"Kamu dimana sekarang?" ucap Kafin secara langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Mendengar pertanyaan dari Kafin barusan lantas membuat Alice langsung menelan salivanya dengan kasar. Ada sedikit perasaan terkejut dalam hatinya ketika ia mendapati jika Kafin mengetahui bahwa dirinya sedang berada di luar saat ini.
"Aku sedang berada di luar, apa ada masalah Kaf?" ucap Alice kemudian mencoba untuk setenang mungkin menjawab pertanyaan dari Kafin saat ini. Padahal sebenarnya ia sudah ketar-ketir karena takut jika Kafin akan marah karena ia keluar tanpa ijin.
"Apa kamu bersama dengan anak-anak? Pihak Sekolah menelpon ke Rumah dan mengatakan jika Altair dan juga Belinda tidak datang ke Sekolah hari ini!" ucap Kafin kemudian mulai menjelaskan segalanya.
"Apa? Bagaimana mungkin? Aku bahkan tadi yang mengantar mereka sendiri masuk ke dalam mobil? Apa mungkin mobil pak Arman bermasalah Kaf?" ucap Alice kemudian sambil mulai bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari area Cafe dengan langkah kaki yang terburu-buru.
"Tidak, tidak ada yang terjadi dengan mobil pak Arman. Ini hanya alasan Altair saja yang tidak ingin datang ke Sekolah, namun sialnya ia malah mengajak Belinda sekali untuk ikut bersama dengannya." ucap Kafin dengan nada yang terdengar begitu kesal.
Alice yang jelas tahu jika Kafin tengah kesal saat ini, lantas merasa bersalah karenanya. Jika saja Alice tahu bahwa Altair dan juga Belinda tidak akan pergi ke Sekolah, sudah pasti Alice akan tetap berada di Rumah dan menunda kepergiannya.
"Aku akan pergi mencari anak-anak, kamu tak perlu khawatir dan fokuslah bekerja." ucap Alice kemudian sambil melangkahkan kakinya dengan terburu-buru hendak menuju ke jalanan dan mulai mencari taksi.
"Tidak perlu, aku sudah berada di jalan hendak menuju ke Cafe Bintang, anak-anak sekarang ada di sana." ucap Kafin yang tentu saja langsung membuat Alice menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Apa katamu? Saat ini aku bahkan sedang berada di Cafe Bintang, tapi dimana anak-anak?" ucap Alice dengan nada yang terkejut.
__ADS_1
"Jangan bermain-main kamu Al... Jika kamu ada di sana harusnya kamu bisa melihat mereka." ucap Kafin yang semakin tidak mengerti akan apa yang sedang terjadi saat ini.
Sedangkan Alice yang mendengar perkataan dari Kafin barusan bukannya menjawab malah terdiam dengan seketika. Bukankah ini sebuah kebetulan yang terlalu aneh? Bagaimana bisa ia dan juga anak-anak berada di tempat yang sama dalam satu waktu?
Sampai kemudian ingatan Alice lantas tertarik ketika ia melewati area depan dan tanpa sengaja melihat sebuah mobil yang tak asing di ingatannya. Alice yang tadinya mengira itu hanyalah sebuah kebetulan, tapi setelah mendengar perkataan dari Kafin barusan. Sepertinya hal itu bukanlah hanya sebuah kebetulan.
"Aku akan menelpon mu nanti Kaf, berkendaralah hati-hati dan tidak perlu khawatir karena sepertinya aku tahu dimana anak-anak berada saat ini." ucap Alice kemudian sambil mulai mengakhiri panggilan ponsel miliknya.
Setelah mengakhiri panggilan telponnya barusan, Alice mengurungkan niatannya yang hendak memanggil taksi barusan. Dengan langkah kaki yang bergegas Alice mulai membawa langkahnya kembali menuju ke arah Cafe. Alice benar-benar ingin memastikan apakah yang ia lihat tadi benar-benar mobil milik Arman atau hanya mirip saja.
"Aku rasa mobil itu benar-benar pak Arman, tapi untuk apa mereka semua kemari? Apakah ini hanya sebuah kebetulan? Apa yang sebenarnya sedang di pikirkan oleh Altair dan juga Belinda?" ucap Alice pada diri sendiri bertanya-tanya sambil terus membawa langkah kakinya kembali menuju Cafe.
***
Altair yang sedari tadi sibuk mengamati Ashraf dan juga Alice, tepat ketika melihat kepergian Ashraf dari sana. Tidak lama setelah itu Alice nampak bangkit dengan langkah kaki yang terburu-buru keluar dari area sana. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Altair terkejut dan dengan spontan menarik tangan Belinda agar segera bangkit dari posisi duduknya.
"Apa yang terjadi Abang?" ucap Belinda dengan raut wajah yang kebingungan ketika mendapati Altair yang menarik tangannya dengan tiba-tiba.
"Apa kamu sedari tadi tidur? Bunda sudah pergi barusan!" pekik Altair dengan nada yang kesal.
"Benarkah? Mengapa aku tidak mengetahuinya?" ucap Belinda dengan nada polosnya.
"Sudahlah, tak perlu kau cari tahu waktunya. Sebaiknya percepat langkah kaki mu keburu Bunda jauh dan tidak terkejar nantinya." ucap Altair sambil terus menarik tangan Belinda agar mengikutinya.
__ADS_1
Kedua bocah kecil itu terlihat mempercepat langkah kaki mereka menuju ke arah dimana mobil mereka terparkir saat itu. Baru setelah itu langsung bergegas masuk ke dalam mobil, yang tentu saja langsung mengejutkan Arman akan kehadiran keduanya yang tiba-tiba.
"Ayo Pak jalan sekarang!" ucap Altair tepat ketika keduanya baru saja duduk di kursi penumpang.
"Jalan kemana Den?" ucap Arman dengan raut wajah yang bingung.
"Ya pokoknya jalan sekarang juga Pak, nanti Bunda keburu pergi jauh!" ucap Altair dengan nada yang kesal.
"Nyonya? Bukannya tadi kita kemari karena ada guru anda? Mengapa jadi Nyonya?" ucap Arman dengan nada yang kebingungan.
"Sudahlah Pak jalan saja nanti saya jelaskan." ucap Altair lagi.
"Ayo Pak jalan sekarang!" ucap Belinda menimpali perkataan Altair dan juga Arman barusan.
Mendengar hal tersebut lantas membuat Arman pada akhirnya hanya bisa menuruti perkataan Altair dan juga Belinda untuk segera jalan. Keduanya bahkan tidak mengatakan dengan jelas kemana ia harus membawa mobilnya pergi, yang Altair dan juga Belinda katakan hanya segera jalan. Membuat Arman tidak ada pilihan lain lagi selain mulai melajukan mobilnya berlalu pergi dari sana.
Sampai kemudian ketika Arman baru saja melajukan mobilnya hendak meninggalkan area parkiran Cafe tersebut. Sebuah decitan rem yang di injak secara tiba-tiba, lantas terdengar memekkan telinga dan mengejutkan Altair maupun Belinda saat itu.
"Apa yang Bapak lakukan sih? Mengapa berhenti dengan tiba-tiba?" ucap Belinda dengan nada yang kesal karena hal ini bahkan sudah terjadi sebanyak dua kali sedari tadi.
"Nyonya..." ucap Arman dengan nada yang lirih, membuat Altair dan juga Belinda langsung mendongak menatap ke arah depan dengan raut wajah yang penasaran.
"Bun...da"
__ADS_1
Bersambung