Move

Move
Perkenalan (2)


__ADS_3

Gara berjalan menuju perpustakaan mencari keberadaan Naira. Namun, hasilnya nihil. Gara memutuskan untuk pergi ke kantin.


Di kantin, banyak sekali siswi yang menyapa Gara. Dewa sekali-sekali.menanyakan keneradaan Naira kepada beberapa siswi yang menyapanya. Namun, hasilnya tetap saja tak ada yang mengenalnya. Dewa keluar dari kantin dan segera bergegas menuju ruang guru lagi.


"Kak Gara!" Panggil salah satu siswi dari belakang. Siswi itu adalah Cece. Dia sedang berjalan bersama Naira.


Gara yang merasa namanya dipanggil itupun segera membalikkan badan. "Eh, ada apa ya? Maaf gw buru-buru."


"Emm.., anu kak. Tadi saya dengar kakak mencari siswi bernama Naira Kinaya di kantin ya?, atau saya salah dengar?" Ucap Cece sambil menggaaruk tengkuknya.


Sementara itu, Naira hanya diam dengan expresi datar.


"Ohh, iya bener. Lu tau yang manaorangnya? Dia dimana?"


"Ehh, ini kak." Ucap Cece sambil melirikkan mata ke arah Naira.


"Ohh jadi lu. Lu dicariin sma Pak Dadang di ruang guru."


"Makasih." Ucap Naira dengan ekspresi sambil melewati dua orang itu, dan segera berjalan menuju ruang guru.


Cece dan Gara terdiam. Tak disangka Naira akan memberikan respond seperti itu. Biasanya, anak² lain akan mengucapkan terima kasih sambil memberikan senyum lalu pamit untuk pergi ke ruang guru. Tapi, apa yang dilakukan Naira?. Cece yang melihat hal itu sontak tidak enak kepada Dewa yang notabenenya adalah seorang ketos.


"Ehh, makasih ya kak udah cape-cape nyariin. Maaf juga respondnya Nai, mungkin moodnya lagi ga baik soalnya abis panas-panasan dari kantin." Cece mengatakan itu sambil memberikan senyumnya yang sedikit canggung akibat perilaku Naira tadi.


"Iye santuy, mungkin karena belum kenal juga sm gw." Gara hanya menjawab santai sambil memberikan senyum tipis.


"Kalau gitu, saya duluan ya kak. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Skip.


Terlihat dua orang siswi di depan pagar sekolah sedang menunggu angkot. Ya, itu adalah Nai dan Cece.


"Nai, lu kenapa si tadi gitu" Ucap cece nyerocos.


"Gitu gimana, gw biasa aja." Jawab Nai seakan tak peduli.


"Yaa, tadii lu bilang makasih doang ke kak Gara, ga ada senyum-senyumnya, mana pas pergi ga salam lagi."


"Soal salam, ya maap gw lupa kalo soal se BRUK.."


"OMAYGATT, NAAII" Teriak cece diiringi dengan beberapa siswa dan siswi yang mulai berkumpul karena melihat insiden kecelakaan kecil barusan.

__ADS_1


Orang yang menabrak Nai pun turun dari motornya. Para siswi yang berkumpul langsung terpesona dan memusatkan pandangan ke orang itu.


Orang itu langsung berlutut di depan Nai yang sedang meringis kesakitan.


"Sorry, perlu bantuan?" Ucap pria itu dengan santai.


Nai hanya menatap dengan sinis sambil berusaha berdiri dibantu Cece. "Ga usah" ucap Nai yang tak kalah cuek dari orang itu.


"Oke."


"HEH, SEENAK JIDAT NABRAK TERUS CUMA GITU DOANG? TANGGUNG JAWAB DONG! " Seru Cece dengan nada emosi.


"Yang ditabrak bilang gapapa"


"Ya tapii, lo itu. . ." Belum selesai Cece melontarkan kalimatnya, orang itu segera beranjak kembali menaiki motornya dan menghilang begitu saja.


"Naii, lu gapapa kann, apanya yang sakitt. ***** banget ya Varo tuhh, masa abis nabrak cuma gtu doang, gada rasa bersalahnya bangett, tunggu aja ya, nan.." Belum selesai berbicara, kalimat Cece sudah dipotong oleh Nai.


"Udahlah lagian gw lecet dikit doang", tak lama kemudian, angkotpun datang. Nai dan Cece pun naik ke angkot. Sebelum itu, Cece mengucapkan terima kasih ke siswa dan siswi lain yang sedang berkumpul disitu.


...


"Lu kenal sama orang tadi ce? " Ucap Naira sambil membersihkan lukanya.


"Yaelahh Nai, dia itu sekelas kita. Ya, dia emang duduk paling ujung belakang, sering bolos juga, terus super duper dingin sama orang. Tapi harusnya dia tanggung jawab dong tadi" Cece menjelaskan sambil menahan kesal yang masih mengganjal hatinya.


Keesokannya


"Haloo. Assalamu'alaikum bundaa" Terdengar suara khas bangun tidur dari telfon.


"Wa'alaikumussalam. Astaga Naii. Kamu baru bangun? Kamu baru dtinggal sehari sama bunda udah kaya gini? Gimana nantinya Naii, kan bunda bakalan sering keluar nantii" Omel wanita paruh baya itu kepada anaknya.


"Hmm iya bundaa iyaa, ini Nai bangun, udah ya bunda, Nai mau mandi. Assalamu'alaikum. "


"Wa'alaikumussalam"


Nai sengaja langsung mengalihkan telfon karena kalau tidak, bundanya itu akan mengomel sepanjang jalan tol ga berhenti-berhenti, wkwk. Bundanya Nai sedang kota karena mengurus bisnis yang ia jalankan


Setelah selesai berpakaian, Nai segera keluar dari rumah, menuju ke sekolah. Tapi, Sepertinya hari ini hari sialnya. Di dalam kelas, dia hanya menemukan seorang pria dengan baju kaos dan tidak memakai seragam sekolah. Yap, pria itu adalah Varo, pria yang menabrak Nai kemarin.


Nai tidak menghiraukan Varo sana sekali, sebelum akhirnya Varo membuka suara duluan.


"Sorry yang kemarin"

__ADS_1


"Ok". Nai bukannya marah, tapi dia memang sedikit sensitif dengan cowok, maklum trauma karena ayahnya dulu.


Suasana hening tanpa suara. Sampai akhirnya, Cece datang dan mencairkan suasana hening ini.


"ASSALAMU'ALAIKUM" Teriak cece saat ingin memasuki kelas. Nai yang sedang fokus dengan bukunya terkejut dengan kedatangan Cece.


"Lo bisa ga si, ga teriak² sehari aja" sewot Varo


"Yeuu, kita tuh kalo pagi² ya harus semangat dong. Biar otak tuh jadi Freshh. Emang eluu yang ga pagi, siang, sore, malem, sewotin orang mulu kerjaannya. Ntar nih ya lu jadi cepet tua terus keriput. Makanya ceria dong" Jelas cece sepanjang jalan tol.


Varo sanya diam sepanjang penjelasan cece. Karena dia sudah paham, berdebat dengan cewek tidak akan ada ujungnya.


"Ce, malem ini mau temenin gw dirumah ga? Bunda gw lagi ada urusan 3 hari" Kali ini, Nai yang menbuka pembicaraan.


"Ayoo, gw juga udah lama ga nginep dirumah temen. Tapi, nanti gw balik dulu ke rumah. Mau minta izin, beli jajan, sekalian ambil baju."


"Oke"


...


Nai dan Cece sedang rebahan santai berdua di kamar sambil memakan camilan yang dibawa Cece.


"Nai, kok lu bisa pindah kesini sihh, cerita dong"


"Gw ikut mama, mama katanya mau buka usaha disini"


"Lahh seriuss? Usaha apaan? Kenapa buka usahanya ga di tempat lu yang dulu aja gtu?"


"Gw jawab yang mana dulu nih"


"Ehh, ehhe maap. Yaudah usaha apaan dulu"


"Butik"


"Wahh keren, terus kenapa kudu pindah kesini"


"Tanya sama mak gw"


"YAHHH" Cece lalu menunjukkan raut wajah kecewanya.


"Ehh, Ce. Lu ad dnger suara ga. Kaya dari pintu belakang"


"Hah, jangan sembarang lu. Gw parnoan, gw balik nih kalo lu nakut-nakutin"

__ADS_1


"Yaudah kalo gapercaya"


Karena Nai sudah mulai merasa ada yang aneh. Nai mengunci pintu kamarnya. Sebenarnya, Nai juga takut, tapi dia akan lebih takut lagi kalau Cece balik. Jadi, ya pura-pura berani aj. Wkwk.


__ADS_2