Move

Move
Sebuah kesempatan


__ADS_3

Tengah malam


Setelah pikiran tentang bagaimana Alice bisa berakhir di sini kembali terlintas di benaknya, malam itu hingga tengah malam Alice sama sekali tidak bisa tidur dan juga gelisah. Ditatapnya ranjang sebelahnya yang saat ini masih kosong karena Kafin masih di ruang kerjanya.


"Apa dia benar-benar marah hanya karena Altair meminta ijin untuk ikut bertanding? Ayolah ini bahkan bukan liga besar seperti piala dunia, mengapa dia lebai sekali?" ucap Alice berdecak dengan kesal karena tak kunjung mendapati Kafin masuk ke dalam kamar.


Sampai kemudian beberapa menit setelah itu suara pintu yang di buka dari arah luar, lantas membuat Alice langsung mengambil posisi memunggungi area pintu karena kesal akan sikap Kafin kepada Altair.


Sedangkan Altair yang tahu jika Alice belum tidur saat ini, terlihat mulai naik ke atas ranjang dan langsung memeluk tubuh Alice dari arah belakang. Dikecupnya pundak Alice dengan lembut kemudian menyandarkan kepalanya di kepala bagian belakang Alice.


"Apa kamu marah? Aku benar-benar minta maaf..." ucap Kafin kemudian yang lantas membuat kelopak mata Alice yang semula terpejam langsung terbuka dengan seketika.


Alice terdiam sejenak mencoba untuk mengkondisikan hatinya yang sedang tidak tenang saat ini. Sampai kemudian ketika Alice lebih penasaran akan alasan dimana Kafin yang membenci sepak bola, membuat Alice langsung melepas pelukan erat Kafin dan mulai berbalik badan menatap ke arah Kafin dengan tatapan yang intens.


Kafin yang ditatap begitu oleh Alice tentu saja bertanya-tanya seakan penasaran akan maksud dari tatapan Alice saat ini.


"Tidakkah kamu perlu mengatakan sesuatu kepada ku Kaf?" ucap Alice kemudian dengan raut wajah yang serius.


"Tentang apa ini? Ah iya aku lupa mengatakannya kepadamu jika lusa ada perjamuan makan malam perusahaan. Ini event besar jadi aku minta agar kamu bisa bersiap sebelum aku pulang bekerja." ucap Kafin yang mengira jika hal ini lah yang di tanyakan oleh Alice.


"Bukan itu..." ucap Alice kemudian.


Namun Kafin yang mendengar perkataan Alice barusan, lantas langsung menarik Alice agar tidur dan berbaring di pelukannya.


"Lalu apa? Bukankah tidak ada yang lebih penting lagi selain pergi tidur karena ini sudah larut malam Al." ucap Kafin sambil memeluk tubuh Alice dengan erat.

__ADS_1


Alice yang di peluk begitu erat lantas berusaha melepas pelukannya kemudian mendongak menatap ke arah Kafin saat ini, membuat Kafin pada akhirnya mau tidak mau harus mendengarkan Alice sekarang atau ia akan kembali marah nantinya.


"Katakan alasan di balik kamu melarang Altair untuk ikut bertanding?" ucap Alice dengan spontan tanpa basa-basi sebelumnya, membuat raut wajah Kafin langsung berubah dengan seketika.


Sebuah bayangan kejadian masa lalu kembali berputar di kepalanya, membuat Kafin langsung bangkit dari posisi tidurnya kemudian menyenderkan punggungnya sejenak. Mendapati hal tersebut lantas semakin membuat rasa penasaran mengalir dalam diri Alice saat itu.


**


Flashback on


Beberapa tahun yang lalu ketika Kafin menginjak usia remaja dan masih duduk di bangku SMA, terlihat Kafin keluar dari kamarnya dengan seulas senyum yang mengembang cerah menuruni satu persatu anak tangga.


Dipeluknya Kiera dengan erat dari arah belakang, membuat seulas senyum langsung mengembang di wajah Kiera saat itu.


"Apakah hari ini pertandingannya?" tanya Kiera sambil mengusap lembut rambut Kafin saat itu.


"Iya Ma, apa Mama dan Papa akan datang ke pertandingan Kafin nanti?" ucap Kafin sambil mengambil sandwich di piringnya kemudian menggigitnya sambil berdiri.


"Tentu asalkan kamu bisa menjunjung tinggi piala kemenangannya atau Papa tidak akan pernah datang ke sana." ucap sebuah suara yang lantas membuat Kafin dan juga Kiera langsung menoleh dengan seketika.


"Tentu saja Pa tak perlu khawatirkan soal itu karena anak kita akan mengangkat piala kemenangan bersama timnya." ucap Kiera dengan senyuman yang mengembang.


Sebuah piala kemenangan Kafin angkat bersama dengan timnya ketika ia dan juga teman-temannya berhasil memenangkan laga dengan skor 4-2. Senyuman terlihat jelas di wajah Kafin saat itu ketika ia berhasil memegang piala di tangannya dan mengalungi mendali emas. Sebagai kapten tim Kafin berhasil membawa timnya menang dalam pertandingan saat itu.


Kafin yang yakin jika kedua orang tuanya akan begitu bangga kepadanya, lantas berlarian menuju ke pintu utama untuk menunjukkan piala kemenangannya sebelum di bawa ke Sekolah sebagai kenang-kenangan.

__ADS_1


"Gue balik dulu ya Kaf... Jangan lupa antar piala kemenangan kita ke Sekolah..." ucap salah satu temannya.


"Tentu saja... Berkendaralah dengan hati-hati." ucap Kafin sambil melambaikan tangannya ke arah temannya.


Setelah kepergian satu-persatu teman-temannya, Kafin terus menunggu dan menunggu. Namun sayangnya hingga tak ada lagi orang yang tersisa di sana, kedua orang tuanya tak kunjung terlihat juga. Membuat raut wajah Kafin lantas berubah menjadi kecewa dengan seketika.


Sampai kemudian sebuah deringan ponsel miliknya lantas terdengar menggema di sana, langsung membuat Kafin menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya begitu melihat nomor Kiera tertera jelas di sana.


"Halo Ma.. Mama dimana?" ucap Kafin tepat setelah panggilan tersebut tersambung.


"Maaf kami dari pihak Rumah sakit Bakti Husada, ingin menyampaikan jika pemilik ponsel ini tengah mengalami kecelakaan lalu lintas..." ucap sebuah suara di seberang sana.


Tak tak tak


Suara piala yang terjatuh begitu saja terdengar dengan jelas di sana tepat ketika Kafin mendengar kabar tersebut di telinganya.


***


"Kehidupan ku berubah drastis setelah itu, aku benar-benar kehilangan segalanya. Aku yang masih kecil sama sekali tidak mengerti cara menangani perusahaan dan beberapa bisnis milik Papa, membuat aku kehilangan segala bisnis Papa yang di rebut oleh rekannya. Sampai kemudian keluarga Sanjaya membawa ku dan memberi ku nama mereka, benar-benar sebuah pertolongan yang datang tepat di saat aku terpuruk. Itulah mengapa aku begitu menghargai Alex meski ia melakukan berbagai macam hal kepada ku. Hanya saja..." ucap Kafin menjeda perkataannya yang lantas membuat Alice menatap dengan tatapan yang menelisik ke arah Kafin.


Sebuah luka lama yang kembali di ingat oleh Kafin tentu saja membuat hati Kafin sedikit bergetar. Digenggamnya dengan erat tangan Kafin saat itu seakan berusaha untuk menguat Kafin. Tanpa sadar jika perkataan yang tidak di teruskan oleh Kafin adalah sebuah awal kisah hubungan antara Bianca, Alex, Alice dan juga dirinya bisa terjadi.


Kafin menatap ke arah Alice dengan tatapan yang intens, sebuah kesalahan besar yang mungkin akan berakibat fatal jika sewaktu saat nanti Alice mengetahui segalanya.


"Maafkan aku Al... Maafkan aku..." ucap Kafin dengan tatapan lurus ke arah manik mata Alice, namun Alice yang ditatap tersebut malah tersenyum dan memeluk tubuh Kafin dengan erat.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaksa mu untuk mengijinkannya, tapi aku hanya meminta mu untuk memberikan Altair sebuah kesempatan. Akan aku pastikan jika akhir kisah mu tidak akan pernah terjadi kepada Altair. Aku berjanji..." ucap Alice yang lantas membuat Kafin memeluknya semakin erat lagi.


Bersambung


__ADS_2