
"Bianca I love you?" ucap Alice dengan raut wajah mengernyit begitu mendapati nama Bianca tertulis di pojok sebelah kiri fotonya.
Alice yang sadar jika ada yang aneh dengan nama Bianca yang tertulis di sudut pojok fotonya, lantas langsung membuat rasa penasaran kembali timbul di dalam dirinya saat itu. Alice bahkan baru mengingat jika beberapa orang yang bertemu dengannya selalu saja memanggilnya dengan sebutan Bianca.
Namun ketika ia bertanya kepada Kafin akan arti dari nama panggilan tersebut, Kafin hanya menjawab jika Bianca adalah nama panggilan kecilnya. Hanya setelah Alice mengingat segala hal tentang dirinya di masa lalu, tentu saja ia sadar jika ia tidak pernah mempunyai nama kecil atau bahkan panggilan dengan sebutan Bianca.
Mendapati hal tersebut lantas membuat berbagai pertanyaan keluar dan terus berputar di kepalanya saat ini. Pertanyaan demi pertanyaan terus menerus muncul di kepalanya.
Sampai kemudian Alice yang tidak ingin hanya berhenti dalam segala pikirannya yang tidak pernah ia dapatkan jawabannya, lantas mulai merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya saat itu. Di ketiknya sebuah nama pada mesin pencarian yang terletak di ponselnya saat itu. Hingga tak berapa lama muncullah beberapa informasi yang ia cari sedari tadi.
"Bu...Bukankah dia adalah aku?" ucap Alice kemudian dengan raut wajah yang terkejut.
Alice benar-benar terkejut ketika ia mengklik sebuah informasi. Di mana di dalamnya berisi dengan lengkap profil, biodata serta latar belakang tentang Kafin. Ya, tidak hanya tentang Kafin bahkan juga kehidupan pribadinya termasuk dengan istrinya.
"Bianca Berlinetta Casandra, aku menemukan alasannya. Sebuah alasan yang membuat ku terjebak bersama dengannya." ucap Alice sambil menatap lurus ke arah profil milik Bianca.
Saat ini Alice sudah benar-benar menemukan alasan, apa yang membuatnya terjebak dalam kehidupan Kafin. Alice bahkan sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya, jika segala halnya hanya karena wajahnya yang mirip dengan mantan istrinya. Alice bahkan berdecak dengan kesal, ketika ia menyadari betapa bodohnya dirinya yang sama sekali tidak menyangka jika hal ini bisa saja terjadi kepadanya.
"Mengapa aku tidak mencarinya sedari dulu? Mengapa aku baru terpikirkan tentang hal ini sekarang?" ucap Alice sambil menutup mulutnya seakan terkejut akan berita yang baru saja ia dapat melalui ponsel miliknya.
Di saat sebuah perasaan terkejut sedang memenuhi hatinya saat ini, sebuah suara pintu yang nampak terbuka dari luar lantas langsung mengejutkan Alice saat itu. Alice yang tidak ingin tertangkap basah kemudian mulai mengambil posisi menunduk dan bersembunyi di kolong meja, yang terletak di ruangan tersebut.
Criet...
__ADS_1
Alice yang mendengar suara pintu di buka dengan lebar, lantas menutup mulutnya dengan rapat karena takut jika seseorang tersebut mengetahui dirinya ada di dalam.
"Al.. Apa kamu di dalam? Alice..." ucap sebuah suara yang ternyata berasal dari Kafin.
Kafin mengedarkan pandangannya ke area sekitar, namun tidak ada siapapun yang ia temui di sana. Kafin yang tidak mendapati Alice berada di ruangannya, lantas langsung mengernyit dengan seketika.
"Apa Alice sudah kembali ke atas ya?" ucap Kafin kemudian sambil mulai menutup pintu ruangannya dan berlalu pergi dari sana.
Alice yang mendapati jika Kafin sudah berlalu pergi dari sana, lantas terlihat mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Ditatapnya foto dirinya yang terdapat tulisan Bianca di sana dengan tatapan yang menelisik. Sambil menghela napasnya dengan panjang, Alice nampak terlihat kecewa akan fakta yang baru saja ia dapatkan.
"Bahkan ketika ia melakukan hubungan suami istri dengan ku, ia menyebut nama istrinya.. Wah.. Benar-benar sesuatu sekali dia!" ucap Alice dengan tersenyum sinis menatap ke arah foto tersebut.
**
Keesokan paginya di area meja makan
"Aku ijin untuk keluar Kaf.. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan." ucap Alice kemudian memecah keheningan, membuat Kafin yang mendengar perkataan Alice barusan lantas langsung mendongak menatap ke arahnya.
"Kamu mau pergi ke mana? Jika kamu ingin mencari ingatanmu kembali aku bisa..." ucap Kafin namun terhenti ketika ia mendengar perkataannya dipotong oleh Alice saat itu.
"Aku hanya pergi belanja jangan terlalu berlebihan seperti itu." ucap Alice dengan nada yang datar membuat Kafin sedikit kebingungan akan nada bicara Alice yang begitu aneh.
"Apakah ada sesuatu Al? Mengapa kamu bersikap seperti ini?" ucap Kafin yang sedikit tersentak akan sikap aneh dari Alice saat ini.
__ADS_1
"Apa yang salah dari berbelanja? Bukankah itu adalah hal yang lumrah?" ucap Alice dengan nada yang begitu datar, membuat suasana kian menegang saat ini.
"Apa ada sesuatu Bunda? Ayah?" ucap Belinda kemudian dengan raut wajah yang bingung akan keduanya.
Mendapat pertanyaan dari Belinda barusan lantas langsung membuat Alice menoleh dengan spontan ke arah Belinda, kemudian bangkit dari tempat duduknya dan mengusap lembut rambut Belinda saat itu.
"Tidak ada sayang... Jika kamu sudah selesai, ayo segera bangkit dan berangkat ke sekolah sebelum kesiangan nantinya." ucap Alice yang lantas di balas anggukan kepala oleh Belinda saat itu.
Mendengar perkataan dari Alice barusan lantas membuat Belinda dan juga Altair mulai bangkit dari tempat duduknya, kemudian mengambil tas mereka dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sedangkan Kafin yang melihat segala tingkah laku yang ditunjukkan oleh Alice sedari tadi, hanya bisa menatapnya dengan raut wajah yang kebingungan. Entah apa yang terjadi dengan Alice saat ini, yang jelas Kafin benar-benar tidak tahu akan alasan di balik perubahan sikap Alice tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepada Alice?" ucap Kafin dengan raut wajah yang kebingungan.
***
Siang itu Alice yang ingin memastikan segalanya, lantas terlihat menatap ke arah kaca jendela taksi saat itu. Ditatapnya area jalanan sekitar dengan tatapan yang menelisik, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Namun yang jelas Alice butuh sebuah jawaban yang menguatkan segala praduga yang terus berputar di kepalanya saat itu.
Helaan napas terdengar berhembus dengan kasar keluar dari mulut Alice. Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari pengemudi sopin taksi, lantas terdengar dan membuyarkan segala lamunan Alice saat itu.
"Sudah samapi neng." ucapnya yang lantas membuat Alice menoleh ke arah sumber suara.
"Ah iya Pak terima kasih banyak." ucap Alice kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya turun dari dalam taksi setelah Alice memberikan upah ongkos taksi tersebut.
Ditatapnya sebuah bangunan rumah di hadapannya, begitu Alice turun dari dalam taksi tersebut.
__ADS_1
"Aku minta maaf Kaf.. Aku harus memastikan segala sesuatunya!" ucap Alice kemudian.
Bersambung