
Suasana malam itu benar-benar berlangsung dengan sangat ceria. Setelah kampanye di gelar, acara selanjutnya yaitu pesta musik sekaligus menikmati jajanan desa yang berjajar rapi di beberapa stand di sekitaran balai desa.
Alex yang baru saja menyelesaikan kampanye nya, lantas terlihat mulai membawa langkah kakinya menjelajah beberapa stand makanan yang tersedia di sana.
Disaat Alex tengah menebar senyuman sambil mulai berkeliling melihat-lihat, sekelebat bayangan seseorang yang tidak asing di ingatannya lantas langsung menghentikan langkah kaki Alex dengan seketika.
"Bianca!" pekik Alex sambil mulai mencari siluet keberadaan orang tersebut.
"Tunggu sebentar, jika itu Bianca tentu saja tidak mungkin. Aku yakin itu adalah Alice... Ya dia adalah Alice." ucap Alex pada diri sendiri dengan nada yang terdengar sangat yakin.
Alex yang yakin jika yang baru saja ia lihat adalah Alice, lantas terlihat mulai mempercepat langkah kakinya sambil mencari keberadaan Alice saat ini. Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak melihat kehadiran Alice, setelah terakhir kali ia bertemu di tempat hiburan malam saat itu. Hal tersebut tentu saja membuatnya begitu penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi di antara Alice dan juga Kafin beberapa tahun yang lalu.
Beberapa kali menyusuri area stan yang terletak diantara beberapa pengunjung bazar malam itu. Pada akhirnya Alex terlihat menghentikan langkah kakinya, ketika ia melihat sosok Alice tengah sibuk berbicara dengan seorang anak kecil dan juga seorang wanita paruh baya.
Alex yang penasaran akan sosok Alice, tentu saja langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Alice berada saat ini. Alex tampak mengernyit ketika mendapati perkataan Alice yang terdengar begitu terburu-buru saat itu.
"Mau pergi kemana kamu buru-buru seperti itu Alice?" ucap Alex yang seakan penasaran akan sikap Alice saat ini.
Mendengar sebuah suara yang tidak asing di telinganya saat itu, lantas membuat Alice yang tengah sibuk mengajak Caramel untuk pergi dari area sana, langsung berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara dengan seketika.
"Sial! Bagaimana dia bisa menemukan keberadaan ku diantara banyaknya pengunjung dan juga pendukungnya saat ini." ucap Alice dalam hati sambil menatap dengan kesal ke arah Caramel saat itu.
Arina yang seakan menyadari jika yang berdiri saat ini adalah calon presiden dengan nomor urut satu, lantas langsung melangkahkan kakinya sedikit mendekat ke arah di mana Alex saat itu dengan raut wajah yang tersenyum. Arina nampak menatap ke arah Alice dengan tatapan yang mengernyit kemudian kembali menatap ke arah Alex dengan tersenyum simpul.
__ADS_1
"Apa kalian berdua saling mengenal? Wah bukankah hal ini luar biasa? Putri ku bahkan mengenal calon presiden. Jika sampai anda terpilih memimpin negara ini, bukankah hal tersebut akan sangat membanggakan bagi saya? Dimana ternyata putri saya mengenal pemimpin negara saat itu." ucap Arina dengan raut wajah yang sumringah saat itu, membuat Alice yang mendengar hal tersebut lantas langsung memutar bola matanya dengan jengah.
Alice yang seakan tahu jika perkataan Ibunya saat ini sangatlah tidak tepat, lantas langsung menarik tangan Ibunya dan mengkode Arina agar diam tidak mengatakan apapun saat ini.
"Ada apa sih Al?" ucap Arina dengan raut wajah yang kebingungan saat itu.
"Ayo kita pergi dari sini Bu, sebaiknya kita segera pulang makanannya keburu dingin nanti." ucap Alice sambil mengkode Arina agar mulai bergerak.
Alex yang mengetahui jika Alice hendak pergi saat itu, lantas membuat Alex langsung berdiri tepat di hadapan Alice dan menghentikan langkah kakinya saat itu. Entah apa yang sedang diinginkan oleh Alex saat ini hingga menghadangnya tanpa alasan yang jelas.
"Maaf saya tidak ada urusan dengan anda, sebaiknya anda menyingkir dari jalan saya." ucap Alice dengan tatapan yang tidak suka akan tingkah Alex saat ini.
"Apa kamu yakin? Aku rasa urusan kita banyak Al? Apakah kamu melupakannya?" ucap Alex dengan tersenyum sinis menatap ke arah Alice saat itu.
"Saya benar-benar yakin, saya bahkan tidak mengenal anda jadi biarkan saya pergi sekarang." ucap Alice kemudian sambil menggendong Caramel dan membawanya pergi bersama dengannya.
Arina yang mendapati Putrinya baru saja pergi lantas terlihat kebingungan. Entah apa yang terjadi kepada Alice maupun Alex, namun yang jelas Arina yakin pasti ada sesuatu di antara keduanya. Arina yang melihat Alice sudah lebih dahulu berlalu pergi kemudian mulai mengambil langkah kaki yang besar menyusul kepergian Alice yang lebih dahulu berlalu pergi dari sana.
Sedangkan Alex yang melihat kepergian Alice hanya tersenyum dengan tipis sambil berbalik badan dan menatap ke arah kepergian Alice saat itu.
"Apakah ada sesuatu Pak?" ucap Rafi yang terlihat baru saja datang setelah mendapati Alex tengah berdiam diri sambil menatap ke suatu arah saat ini.
"Apa acaranya sudah selesai?" ucap Alex kemudian yang lantas membuat Rafi langsung mengernyit begitu mendengar pertanyaan tersebut.
__ADS_1
"Selanjutnya hanya acara hiburan semata, namun pak Lades mengundang anda untuk bermalam di kediamannya. Kemungkinan kita baru bisa kembali pulang keesokan harinya." ucap Rafi kemudian yang lantas membuat Alex menghela napasnya dengan panjang.
"Baiklah setidaknya sampai kepulangan kita, aku bisa melihat Alice untuk beberapa menit ke depan sekaligus mencari tahu apa yang telah terjadi sebenarnya." ucap Alex kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya berlalu pergi dafi sana.
Rafi yang mendengar perkataan Alex barusan hanya bisa menatapnya dengan raut wajah yang kebingungan. Sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal Rafi hanya menatap kepergian Alex dengan tanda tanya saat itu.
"Apa aku melewatkan sesuatu? Harusnya sih tidak!" ucap Rafi dengan tatapan yang aneh.
**
Keesokan harinya
Sesuai dengan permintaan Kades di desa tersebut, pagi harinya Alex dan juga beberapa orang nampak berjalan-jalan sambil menghirup udara segar saat itu.
Disaat langkah kakinya berada tidak jauh dari sebuah rumah kediaman Alice, sebuah mobil nampak mulai terparkir di halam m di ruangannya. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Alex langsung mengernyit sambil menatap ke arah mobil tersebut dengan raut wajah ya penasaran.
"Papa beluang..."
Suara teriakan anak kecil yang lantas membuat lamunan Alex saat itu langsung buyar dengan seketika, lantas membuatnya menatap ke arah sumber suara. Entah hubungan apa yang terjadi di antara keduanya, namun yang jelas Alex melihat anak kecil yang kemarin berada di gendongannya, nampak begitu akrab dengan seseorang yang ia panggil dengan sebutan Papa berluang.
"Siapa dia sebenarnya?" ucap Alex dengan raut wajah yang bingung.
Bersambung
__ADS_1