Move

Move
Siapa yang kamu cari sebenarnya?


__ADS_3

"Aku minta maaf Kaf.. Aku harus memastikan segala sesuatunya!" ucap Alice kemudian sambil menatap lurus ke arah depan.


Sambil memantapkan hatinya Alice mulai membawa langkah kakinya memasuki area plataran Rumah besar di hadapannya tersebut. Alice membawa langkah kakinya perlahan dan berhenti tepat di pintu utama. Sambil menarik napasnya dalam-dalam Alice memberanikan diri untuk mengetuk pintu Rumah tersebut.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu yang berasal dari Alice terdengar beberapa kali menggema di area sana, membuat rasa gugup mulai menghampiri Alice saat itu. Sampai kemudian suara pintu yang di buka lebar dari area dalam, lantas membuat Alice mundur beberapa langkah dari tempatnya.


"Astaga non Bianca!" pekik seorang wanita paruh baya dengan pakaian khas asisten rumah tangga.


"Em bukan Bi saya Alice..." ucap Alice sedikit canggung ketika mendengar nama Bianca kembali di sebut ketika dirinya muncul.


"Tidak.. Tidak... Nyonya... Nyonya.. Non Bianca hidup kembali... Nyonya..." teriak wanita paruh baya tersebut yang lantas membuat Alice mengernyit dengan tatapan bingung ke arah wanita paruh baya tersebut.


Mendengar suara ribut-ribut di bawah, lantas membuat pemilik Rumah tersebut turun dengan langkah kaki yang bergegas menuju ke area depan ruang tamu.


"Ada apa Bi?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Alice penasaran begitu mendengar suara lembut yang berasal dari dalam Rumah besar tersebut.


Alice yang penasaran akan suara tersebut lantas tanpa menunggu perintah, Alice terlihat mulai membawa langkah kakinya masuk ke dalam area ruang tamu di Rumah besar tersebut.


"Bianca!" pekik sebuah suara yang juga terkejut akan kehadiran Alice saat itu.


**


Area ruang tamu

__ADS_1


Terlihat Kiran saat ini tengah menatap dengan tatapan yang menelisik ke arah dimana Alice berada. Kiran benar-benar terkejut sekaligus tidak percaya ketika mendapati seorang wanita berwajah sama persis dengan putrinya.


"Kamu benar-benar mirip dengannya... Ba...bagaimana bisa? Aku bahkan tidak merasa mempunyai anak yang kembar. Mengapa wajah mu begitu mirip dengan putri ku yang telah meninggal?" ucap Kiran dengan bibir yang bergetar.


Bertemu dengan gadis berwajah mirip dengan Bianca, tentu saja membuat perasaan senang juga haru berkumpul di hatinya saat itu. Diusapnya dengan lembut pipi Alice saat itu seakan mencoba untuk membuktikan jika ia benar-benar tidak bermimpi saat ini.


"Maaf mengganggu waktu anda, hanya saja kedatangan saya di sini untuk meluruskan sesuatu yang mengganjal pikiran saya akhir-akhir ini." ucap Alice kemudian yang lantas membuyarkan segala lamunan Kiran saat itu.


"Apa yang mau kamu inginkan?" ucap Kiran kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Ada beberapa masalah yang terjadi di dalam hidup saya karena ulah dari Kafin. Saya tahu maksud Kafin adalah baik dan berharap anak-anaknya tidak lagi kesepian. Hanya saja saya juga mempunyai keluarga dan ingin kembali ke kehidupan normal saya, jika terus seperti ini saya benar-benar tidak bisa. Saya..." ucap Alice dengan nada yang tersendat seakan tidak kuat meneruskan perkataannya.


Mendengar curahan hati dari Alice tentu saja membuat Kiran langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung. Entah apa yang telah dilakukan oleh Kafin kepadanya, hingga membuat Alice mengadukan segala keluh kesahnya kepada Kiran.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan Kafin? Apakah dia melakukan sesuatu kepadamu?" ucap Kiran kemudian dengan raut wajah yang penasaran setelah mendengar perkataan dari Alice sebelumnya.


Entahlah semenjak Alice mengetahui satu alasan mendasar yang mungkin menyebabkan Kafin melakukan segala hal ini kepadanya. Rasanya Alice begitu sakit hati setelah mengetahui jika semua hal dan juga perhatian yang diberikan oleh Kafin atas dasar Bianca. Yah tidak akan pernah ada Alice di hati Kafin karena ketika Kafin melihat wajahnya, fokusnya pasti akan langsung beralih kepada Bianca.


Jika sudah seperti itu haruskah Alice senang atau bahkan membenci Kafin? Di satu sisi Alice mungkin akan bersyukur karena ia tidak perlu bekerja keras lagi dan sudah mendapatkan segalanya, asalkan ia bersama dengan Kafin. Namun sisi hati kecilnya benar-benar terluka ketika ia menyadari jika dirinya hanya sebagai bayang-bayang dari mantan istri Kafin yang telah meninggal.


Alice menarik napasnya dalam-dalam, tekadnya mengatakan segalanya kepada orang tua Bianca merupakan sebuah keputusan final yang sudah Alice pikirkan sejak semalam. Membuat Alice pada akhirnya mulai membuka mulutnya dan menceritakan segalanya kepada Kiran saat itu.


.


.

__ADS_1


.


.


"Apa yang ada dipikirannya hingga melakukan semua itu kepadamu?" pekik Kiran ketika mendengar segala cerita dan juga penjelasan dari Alice barusan.


Alice yang melihat seakan Kiran tengah membela dirinya saat ini, lantas langsung merasa lega. Digenggamnya dengan erat tangan Kiran saat itu, sambil menatapnya dengan manik mata yang berkaca-kaca.


"Bantu aku keluar dari jeratannya.. Aku mohon.. Bantu aku agar bisa kembali ke kehidupan ku yang normal." ucap Alice dengan nada yang mengiba.


Alice benar-benar frustasi akan apa yang hendak ia lakukan saat ini, jika ia tiba-tiba berhenti dan kabur begitu saja dari Kafin dan juga anak-anak. Hal itu tentu saja akan membuatnya sakit hati, namun jika ia keluar dan berhenti dengan bantuan Kiran yaitu Ibu dari Bianca. Mungkin ia akan merasa sedikit lebih lega, setidaknya Kafin akan sadar jika yang sebenarnya selama ini berada di sisinya bukan lah Bianca melainkan dirinya yaitu Alice.


***


Sore harinya di kediaman Kafin


Kafin yang melihat Alice saat itu tidak nampak di rekaman kamera CCTV yang ia pasang di area sekitar kediamannya, lantas langsung bergegas pulang. Meski sore ini ia masih ada meeting dan juga pertemuan dengan beberapa klien, namun Kafin memilih untuk pulang lebih awal dan mengecek keadaan Alice saat ini. Sejak tingkah laku Alice yang sangat aneh pagi tadi ketika sarapan, membuat Kafin menjadi khawatir dan juga gelisah akan perubahan sikap yang dilakukan oleh Alice sejak pagi tadi.


Dengan langkah kaki yang bergegas Kafin nampak membawa langkah kakinya masuk ke dalam area Mansion, sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitaran Kafin mencoba untuk mencari keberadaan Alice di sekitar sana.


"Abel dimana Bunda?" tanya Kafin kemudian ketika melihat Belinda yang baru saja keluar dari arah dapur.


Mendapat pertanyaan tersebut, lantas langsung membuat Belinda terhenti di tempatnya dengan seketika. Ditatapnya Kafin dengan tatapan yang aneh, membuat Kafin lantas langsung mengernyit begitu mendapati tatapan aneh dari Belinda barusan.


"Siapa yang sebenarnya kamu cari Kaf?" ucap sebuah suara yang tentu saja langsung mengejutkan Kafin dengan seketika.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2