Move

Move
Aku tidak akan membiarkan mu pergi


__ADS_3

Keesokan harinya sesuai dengan perkataan dari Kafin semalam yang mengatakan kepada Dimas untuk membuat janji melakukan CT-Scan. Pada akhirnya saat ini dengan terpaksa Alice menjalankan segala tesnya dengan raut wajah yang di tekuk. Alice bahkan merasa bahwa dirinya sangat sehat, namun Kafin malah tetap memaksa Alice untuk melakukan serangkaian uji tes termasuk bertemu dengan seorang psikolog.


Alice yang menjalankan segala tesnya secara berurutan mulai dari CT-Scan, medical chek up sampai bertemu dengan psikolog tentu saja langsung berdecak dengan kesal. Tak ada yang bisa Alice lakukan selain menuruti segala permintaan Kafin karena Kafin sendiri yang mengantarnya menjalankan setiap tesnya dan menunggunya dengan sangat telaten, benar-benar seorang suami yang idaman bagi setiap perempuan. Namun sayangnya tidak bagi Alice karena ia malah merasa jika Kafin adalah sosok Pria yang suka sekali memaksakan kehendaknya.


Setelah dari ruangan psikolog keduanya nampak melangkahkan kakinya keluar dan mulai melangkahkan kakinya menyusuri area lorong Rumah sakit. Ketika sampai di ruang tunggu Kafin kemudian mulai menghentikan langkah kakinya yang lantas membuat Alice ikut berhenti juga saat itu.


"Kamu tunggulah sebentar di sini, jangan kemana-mana karena aku akan segera kembali." ucap Kafin kemudian sambil menyuruh Alice untuk duduk dan beristirahat di kursi tunggu.


"Aku tidak akan kemana-mana." ucap Alice kemudian sambil menghela napasnya dengan panjang.


Alice bahkan bukanlah anak kecil lagi, namun Kafin selalu saja memperlakukannya seperti seorang anak kecil.


"Anak pintar.." ucap Kafin sambil mengusap puncak kepala Alice dan tersenyum simpul sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana.


"Sebenarnya aku ini istrinya atau anaknya sih? Mengapa dia memperlakukan ku seperti seorang bayi besar?" ucap Alice dengan tatapan yang kesal menatap ke arah kepergian Kafin saat itu.


.


.


.


.

__ADS_1


Cukup lama Alice menunggu tapi entah mengapa Kafin tak kunjung terlihat juga, membuat Alice yang sedari tadi berada di ruang tunggu mulai merasa bosan. Ditatapnya area sekitaran dengan tatapan yang menelisik seakan berusaha untuk menghilangkan rasa bosan yang sedang melanda dirinya. Disaat tatapan Alice menatap ke arah sekitar, pandangan matanya tak sengaja menatap seseorang yang tak asing di pandangannya saat itu, membuat Alice langsung bangkit dari tempat duduknya begitu melihat orang tersebut.


"Mengapa aku merasa tak asing dengannya? Aku seperti sangat yakin jika aku mengenalnya..." ucap Alice yang terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat.


Alice yang melihat Alda baru saja melintas tepat di area yang tak jauh dengan dirinya berada, tentu saja langsung bangkit dari tempat duduknya kemudian memutuskan untuk mengikuti langkah kaki Alda hendak menanyakan sesuatu kepadanya. Apakah ia benar-benar mengenal Alda atau tidak?


Tanpa mengindahkan pesan Kafin sebelumnya, Alice mulai membawa langkah kakinya mengikuti kepergian Alda dengan langkah kaki yang cepat. Dalam pikirannya saat ini bahkan benar-benar terlintas beragam pertanyaan dan juga spekulasi yang mungkin akan menjawab semua pertanyaan yang ada dalam dirinya.


Di tengah hiruk pikuk Rumah sakit dimana banyaknya orang yang berlalu lalang di sana, Alice berusaha untuk mengejar langkah kaki Alda di sana sambil sesekali memanggilnya. Namun sepertinya Alda tidak mendengarnya sama sekali, membuat Alice lantas berdecak dengan kesal begitu melihat hal tersebut.


"Tunggu.. Hei..." ucap Alice dengan nada yang sedikit berteriak sambil terus berusaha mengejar langkah kakinya.


Sampai kemudian ketika dari arah lobi, seorang perawat dan beberapa Dokter nampak berlarian mendorong brankar pasien dimana di sana terdapat pasien korban kecelakaan yang tubuhnya sudah berlumuran dengan darah. Alice yang tanpa sengaja berpapasan dengan mereka tentu saja langsung menghentikan langkah kakinya dengan sejenak.


Kaki Alice mendadak lemas seketika entah apa yang sedang ia rasakan saat ini, namun sebuah ingatan tentang kecelakaan mobil yang ia alami mendadak berputar dengan jelas di kepalanya dan membuat kepala Alice begitu pusing dan sakit. Alice menahan tubuhnya yang seperti hendak terhuyung dengan berpegangan erat di tembok, sedangkan tangan satunya memegangi area kepalanya yang terasa sangat berdenyut.


"Apa yang terjadi kepadaku, akh bayangan apa itu?" ucap Alice sambil memegangi kepalanya dan mencoba untuk mengambil napas dalam-dalam.


**


Sementara itu Kafin yang baru saja selesai mengurus administrasi dan juga mengambil obat untuk Alice, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke ruang tunggu di mana Alice berada saat itu. Hanya saja ketika langkah kaki Kafin sampai di tempat tersebut, Kafin sama sekali tidak melihat keberadaan Alice di sana membuat dirinya langsung merasa panik dan juga khawatir.


Ditatapnya area sekitar seakan berusaha untuk mencari keberadaan Alicia di sana, namun sama sekali tak ia temukan keberadaannya, membuat Kafin semakin merasa kesal dan juga khawatir.

__ADS_1


"Dimana kamu Al?" ucap Kafin sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitaran.


Kafin yang mulai panik dan takut kehilangan Alice, lantas langsung berlarian menyusuri area Rumah sakit dengan langkah kaki yang bergegas. Kafin benar-benar kehilangan jejak Alice membuatnya mulai merasa frustasi dan juga kesal. Kafin bahkan merutuki kebodohannya yang malah meninggalkan Alice seorang diri di sana. Jika tahu kejadiannya akan seperti ini mungkin Kafin tidak akan meninggalkan Alice seorang diri di sana.


Kafin yang tak kunjung mendapati keberadaan Alice dimanapun mulai merasa takut dan juga gelisah. Dengan perasaan yang tak karuan Kafin terlihat menghentikan langkah kakinya sejenak di sana dan tetap mengedarkan pandangannya ke area sekitaran.


"Permisi apa kamu melihat gadis ini?" ucap Kafin pada seorang perawat yang baru saja melintas dan langsung di balas gelengan kepala.


"Dimana kamu sebenarnya Al?" ucap Kafin setelah kepergian perawat tersebut.


Kafin yang tak ingin putus harapan tentu saja kembali melangkahkan kakinya menyusuri area lorong untuk mencari keberadaan Alice sambil sesekali kembali bertanya kepada seseorang.


"Maaf permisi, apakah kalian melihat gadis ini?" tanya Kafin lagi.


"Tidak maaf.."


"Permisi apakah kalian melihat gadis ini?" tanya Kafin kembali kepada seseorang.


"Sepertinya tadi aku melihatnya menuju ke area ruang UGD." ucap salah seorang.


"Terima kasih banyak" ucap Kafin kemudian sambil tersenyum dengan lega.


Mendengar hal tersebut tentu saja langsung membuat Kafin berlari menuju ke arah ruang UGD untuk melihat apakah Alice benar-benar masih berada di sana atau tidak. Dengan langkah kaki yang berlari Kafin mulai membawa langkah kakinya sesuai dengan ucapan Pria tadi. Perasaannya saat ini bahkan sudah sangat campur aduk, padahal Alice meninggalkannya hanya beberapa detik saja.

__ADS_1


"Alice, aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi dari ku... Tidak akan! Apapun yang terjadi kamu akan selamanya bersama dengan ku..." ucap Kafin dalam hati.


Bersambung


__ADS_2