
1 bulan kemudian Lea masih saja menyebut Atta. Kalau di kampung suami Sindy, Atta itu nama orang yang biasa berjalan sepanjang hari, jika bertemu dengan ibu mertuanya ia selalu meminta uang 2000 an.
"Atta." ucap Lea ketika sedang di depan pintu garasi dan memegang mainan nya.
"Kakak bukan Atta. Kakak.. " ucap Najwa ingin di sebut.
"Atta." saut Lea sambil menghadap kakak sepupunya, layaknya seperti sedang berbicara berhadapan dengan jarak 2 meter.
"Kakak." ucap Najwa lagi.
"Atta." jawab Lea kembali.
"iiiii... Atta terus, itu orang gila Lea." ucap Najwa memberitahu Lea.
"Atta." tetap saja Lea ngotot menyebut-nyebut Atta.
"Ntah apa artinya Atta. Sudah berapa lama hanya bisa menyebut Atta." ucap Sindy.
"Atta." Lagi-lagi Lea menjawab dengan sebutan Atta.
"Haha, Lea lagi terngiang-ngiang dengan nama Atta." ucap Najwa.
"Mak." ucap Sindy ketika mendekati Lea.
"Atta." Lea tetap saja menjawab dengan sebutan Atta.
"Coba ayah." pinta Sindy agar Lea mengikutinya.
Tapi tetap saja ia mengatakan hal yang sama. Pernah Sindy merasa capek, dan memilih terdiam sebentar.
Jack pun ikut mengajarinya agar ia cepat bicara dan bisa menyebut mereka sebagai orang tuanya.
"Ayah." ucap jack mengikuti.
"Ajaa jaa jaa jaa jaaa jaaaaaa..yaaa.. " ucap Lea lagi dengan bahasa planetnya.
__ADS_1
"Lah, ngomong apa Lea, coba perbaiki lagi nak. Ayah!." pinta Jack sambil menyebutkan ulang.
"Atta..Jaaa... jajaja.... ". lagi dan lagi sebutan yang sama yang di ucapkan Lea.
" Apa? Jajan? Lea masih kecil, belum bisa jajan, Lea jajan pempers saja ya." ucap jack kepada putri mungil nya itu.
"Kok jadi jajan sih?." tanya Sindy.
"Lea bilang jajaa, mungkin maksud nya jajan kali ya." jawab jack.
"Ah kamu ini, nama nya juga baru belajar bicara memang asal dong." ucap Sindy serius.
"Biar lucu sayang, jangan serius mulu, nanti otak jadi tegang loh." ucap jack.
"Ah sudahlah, jagain Lea ya sayang, aku mau nyapu dulu." jawab Sindy.
"Iya, sapu saja dulu, aku jagain lea." jawab jack.
Ketika Sindy sedang asyik menyapu dan sangat menikmatinya sampai ia menyelesaikan semua dengan benar.
"Itu sudah maklong sapu wa." ucap Sindy memberitahu bahwa ia telah menyelesaikan semua nya.
"Oh sudah ya. Tapi masih berdebu." ucap nya sambil memandang Sindy yang sedang membawa sapu untuk menyimpannya.
Sungguh sangat menyakitkan bagi sindy, pekerjaan nya terasa tidak di hargai sama sekali, padahal itu baru saja selesai berapa menit yang lalu, dan saat itu ia baru saja menyelesaikan di bagian terakhir.
"ia sudah, Masih debu ya? mungkin debu yang melayang ke atas tadi menempel lagi ke lantai." ucap Sindy dengan wajah berpura-pura tersenyum.
Batin Sindy, " Rasa nya begitu sakit, tidak ada jeda sedikit pun, jika ia menyapu dalam rentang waktu setengah jam aku masih bisa memahami, tetapi ini tidak."
Sindy pun segera menyimpan sapu lantai nya dan mengerjakan yang lain nya, karena ia merasa ia masih menumpang di rumah mertua nya, ia sadar, harus mengerjakan pekerjaan sesuai kemampuan yang ia bisa selama masih di rumah mertua nya.
Sindy tidak kuat menahannya, setelah ia mengerjakan semua nya, ia mengadu kepada suaminya berharap dapat pembelaan.
"Sayang, tadi aku kan baru selesai sapu lantai, belum sempat simpan sapu nya, eh Najwa sapu lagi, sudah aku bilang udah di sapu, tapi dia jawab nya masih debu dengan wajah cemberut." ucap Sindy mengadu kepada jack.
__ADS_1
"Mm mungkin ia tidak tahu kalau sudah di sapu." jawab jack begitu seperti membela ponakan nya.
"Iya tidak tahu, tapi kan aku sudah bilang. Maksud aku kenapa harus jawab begitu, aku kan jadi tersinggung, dan orang rumah sini beranggapan hasil sapuan ku tidak bersih loh. " ucap Sindy lagi dengan nada yang tidak enak.
"Sayang, sudahlah, jangan terlalu di ambil hati, dia kan masih labil, jadi kita yang harus dewasa menyikapinya." jawab jack memang ada benarnya.
Tetapi Sindy merasa tidak enak, apa lagi ia adalah orang baru yang tinggal di rumah itu, Sindy sebagai pendatang baru dan mudah tersinggung dengan ucapan orang yang menurutnya perkataan seperti itu menyindir dirinya.
"Aku tidak suka dengan jawaban seperti itu, sayang kenapa kita tidak pindah saja dari sini, kita kontrak saja dulu aku tidak masalah kok, asal jangan di rumah ini." pinta Sindy.
"Kenapa dengan rumah ini, rumah ini sudah lengkap kok sayang, dapur dengan perlengkapannya, rumah lumayan besar, wc juga ada, kamar juga luas. Terus di mana yang kurang?." tanya jack sangat menyedihkan bagi Sindy.
"Iya benar, di sini punya segalanya, untuk apa rumah besar dan punya segalanya tapi tidak punya kebahagiaan. setiap rumah punya peraturan, dan aku ingin peraturan itu aku yang punya, tapi di sini aku yang harus mengikuti aturan. Aku cuma minta kita tinggal bertiga saja, biar semuanya lebih leluasa aku kerjakan." Sindy masih meminta ingin di pisah kan dengan mertuanya.
"Sayang, kamu tahu sendiri kan, rumah ini sudah di amanahkan untuk ku, dan orang tuaku sudah tidak muda lagi, aku ingin berbakti kepada orang tuaku, aku sudah lama meninggalkan nya yang hanya tinggal berdua jika ponakan ku kuliah, dan sekarang aku ingin kita bersama merawat mereka." Pinta jack kembali kepada Sindy.
"Sudahlah sayang, aku lelah membicarakan ini dan ujungnya tetap sama, aku tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan diriku. Aku tidak melarang mu untuk berbakti, tapi cobalah untuk mengerti, aku tidak bisa hidup seperti ini." jawab Sindy menyerah.
"Sayang, tolong bersabar ya, jangan terlalu ambil hati setiap omongan yang kurang menyenangkan bagimu." pinta jack lagi.
Sindy memilih diam dan meneteskan air mata, percuma saja ia mengadu pada akhirnya ia akan di abaikan.
"Sayang." panggil jack karena Sindy hanya terdiam membelakanginya.
"Sayang maafkan aku, aku belum bisa menunaikan permintaan mu.
Sindy sama sekali tidak bicara dengan jack, seketika ia memandangi Azalea, dan berkata sambil meneteskan air mata.
Batin Sindy, " Lea maafkan mak, mak harus menangis di hadapanmu, Ini sangat menyakitkan bagi ku, tapi aku harus menahan nya sendiri, kepada siapa aku akan meminta jika bukan kepada suamiku saat ini."
Air mata itu terus saja menetes, ketika jack menyadari Sindy sedang menangis, ia langsung memeluknya.
"Sayang maafkan aku." ucap Jack, saat di peluk Sindy semakin tersedu-sedu merasa tidak ada pembelaan untuk dirinya.
Jika masih banyak kesalahan dari Author mohon masukan nya🙏 jangan lupa untuk dukung dengan cara like, komen, dan Vote karya author biar author tambah semangat Up nya🥰
__ADS_1