My Sweet Baby

My Sweet Baby
Episode 27


__ADS_3

Beberapa menit Ibu mertua Sindy mengajak Sindy pergi sampai Sindy selesai makan dan shalat.


Ketika Sindy mengambil HP ny karena sudah selesai shalat, Tiba-tiba Lea datang bersama nenek nya.


"Dengan mak dulu ya lea." ucap Ibu mertua nya ketika sampai rumah.


"Sini sini." Sindy kembali meletakkan HP nya di meja dan menggapai Lea.


"Lea main ke mana sayang?." tanya Sindy kepada Lea.


"Mak nyamen." ucap Lea.


"Apa nyamen sayang?." tanya Sindy ketika sedang menggendong Lea.


Ketika Sindy bertanya, Lea berusaha membuka baju ibunya untuk menyusu kepada ibunya.


"Kenapa buka baju mak?." tanya Sindy lagi.


"Nyamen." jawab Lea setelah ibunya bertanya.


"Oh ternyata mau nyusu. Nyemen tu nyusu ya haha." ucap Sindy sambil tertawa karena perkataan Lea yang semakin hari semakin lucu terdengar.


"Nyemen lah sayang." sambil membuka baju nya Lea pun langsung disusui.


"Apa nyemen? Dah nyemen lagi yang di ucapkannya." saut ibu mertuanya.


"Nyamenya." Tiba-tiba Lea menyaut kembali sambil menyusu da mendengar neneknya bicara dengan ibunya.


"Nyamenya lagi." ucap Sindy sambil mengelus kepala Azalea Azzahra.

__ADS_1


Keinginan untuk bicara memang luar biasa, tapi tidak ada yang bisa di mengerti.


Setelah Lea selesai menyusu tiba-tiba Sindy merasa lapar kembali, padahal ia baru saja selesai makan.


"Kok Rasa nya maklong lapar lagi Najwa." ucap Sindy kepada Najwa ponakan ipar nya.


"iiiiii.... Maklong. Baru juga selesai makan sudah lapar lagi, Bogoh maklong tu." jawab Najwa, sungguh sangat menyedihkan bagi Sindy baru pertama kali ia di sebut sebagai bogoh, padahal ia orang baru yang tinggal di rumah tersebut.


Perasaan Tidak enak pun di rasakan, mau makan banyak ngak enak, makan sedikit lapar.


Kalau belanja Sindy biasanya memberikan uang untuk belanja bersama meskipun hanya sedikit dan ketika makan banyak ia di bilang bogoh.


Bogoh itu adalah binatang yang paling rakus kalau makan. Apa enak ketika sedang enak makan, di bilang bogoh.


"Bogoh itu sebutan untuk binatang." jawab Sindy berusaha terlihat santai.


"Maklong lah bogoh. Ya kan Nek." ucap Najwa dengan santainya, dan saat itu Ibu mertua Sindy tidak menjawab.


"Sayang, apa perasaan mu jika adik ku bilang kamu itu bogoh?." Sindy mengumpamakan kepada jack sendiri.


Tetapi Jack tidak terlalu mengambil pusing tentang jawaban yang akan di ucapkannya kepada Sindy.


"Memangnya kenapa sayang, apa ada yang bilang sesuatu yang aneh kepada mu?." tanya jack kepada Sindy.


"Aku makan banyak di bilang bogoh, padahal ibu menyusui yang lain juga tahu kalau aku butuh asupan yang banyak untuk bayi juga." ucap Sindy kepada jack.


"Siapa memangnya yang bilang bogoh?." tanya jack penasaran, mengira ibunya yang mengatakan itu.


"Najwa yang bilang seperti itu, apa perasaan ku, padahal aku makan juga untuk anak mu, darah dagingmu." jawab Sindy lagi.

__ADS_1


"Mungkin najwa bercanda sayang, maafkan dia, dia kan masih labil." pinta jack dengan mudah.


"Sayang, dia itu berpendidikan tinggi, seharusnya ia bisa jaga bicara kepada orang yang lebih tua, ia seharusnya tahu apa yang pantas di katakan dan apa yang tidak, ini sungguh sangat menyinggung perasaan ku, aku ini adalah orang yang tidak punya hubungan darah dengan nya. apa aku sanggup mendengar perkataan yang tidak menyenangkan bagi ku." ucap Sindy.


"Sayang, kamu kan tahu, dia masih labil, dan mungkin ia bicara itu tidak bermaksud melukai hati mu." jawab jack.


"Ya mungkin benar begitu, tapi coba kamu pikirkan lagi bagaimana perasaan ku, di sini aku yang di sakiti, gini saja deh sayang, kalau kamu ngak mau kita kontrak rumah, apa sebaiknya kita coba tinggal di rumah orang tuaku." pinta Sindy.


"Apa bedanya dengan tinggal disini? Kan sama saja tinggal di rumah orang tua." jawab jack.


"Iya memang sama, aku ingin kamu juga merasakan bagaimana jadi aku di sini, menahan rasa sakit yang tidak berlawan, aku menahan nya sendiri." ucap Sindy sambil ingin menangis.


"Iya iya maafkan aku dan juga najwa ya sayang."


Tidak ada kata selain maaf yang di dapatkan oleh Sindy, Lagi-lagi ia harus mengalah atas semua ini.


Batin Sindy, " mau pergi takut dosa karena tidak mematuhi suami, bertahan tetapi tersakiti batinku."


Hidup yang penuh dengan kepura-puraan itu, membuat Sindy merasa lelah dan ingin menyerah.


"Maklong." ucap Najwa.


"Iya ada apa." jawab Sindy yang sedang serenung.


"Tidak. Manggil saja he." ucap Najwa yang moodian itu.


"Kirain ada hal penting." jawab Sindy dengan wajah yang datar dan biasa.


Tetapi tidak pernah sedikitpun ia bertanya kenapa Sindy hari ini. apakah Sindy baik-baik saja. Itu tandanya Sindy berhasil bersikap pura-pura di depan semua nya termasuk mertuanya sendiri.

__ADS_1


Jika masih banyak kesalahan dari Author mohon masukan nya🙏 jangan lupa untuk dukung dengan cara like, komen, dan Vote karya author biar author tambah semangat Up nya🥰


__ADS_2