
Setelah sampai rumah, ibu Sindy bertanya keberadaan suaminya, dan mengira mereka bertemu di sana.
"Sudah ketemu ayahmu Din?." tanya nya kepada Dinda.
"Tidak bu, kami tidak menemukan ayah, entah kemana ayah pergi nya." jawab Sindy ketika masuk ke dalam rumah.
"Kemana lah ayah mu ini, ntar kalau sampai rumah minta marah memang dia ini." ucap Ibu Sindy kesal dengan tingkah suaminya sendiri yang tidak pandai bilang jika ingin bepergian.
"Sudah lah bu, kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi sampai bu." saut jack menyusul.
"Kesal juga rasa nya aku jack, senang sekali seperti ini. Yang mau awal jadi lambat berangkat nya." ucap Ibu Sindy kesal.
"Sabar bu sabar, percuma ibu ngomel disini tapi tidak di depan ayah langsung." saat Sindy yang juga kesal dengan ayahnya.
"Lea sepertinya sudah ngantuk tu. kemana lah kakek mu pergi ni Lea, sudah bangun awal jadinya siang juga berangkat." ucap Nenek Lea.
Tidak lama setelah asyik mengomel, Tiba-tiba ayah Sindy datang dengan membawa papan lantai 4 keping.
"Hm, seperti nya ayah mu pergi beli papan. Tapi ngak bilang-bilang mau pinjam motor." ucap Ibu Sindy melihat suaminya datang.
"Ibu kalau mau marah tunggu kami selesai berangkat ya, ngak enak sama ayah Lea." bisik Sindy kepada ibu nya sendiri.
"Iya iya." terasa tidak sabar untuk ngomel kepada suaminya, ibu Sindy mencoba menahannya sampai Sindy dan jack pergi.
" Bu sekarang kami berangkat dulu ya." pamit Sindy dan jack.
__ADS_1
"Iya, kalian hati-hati ya di jalan." ucap ibunya.
"Iya." mereka bersalaman dan ketika Sindy bersalaman dengan ayahnya sambil menggendong Lea, sindy juga berpamitan dengan ayahnya
"Pergi dulu ya kek." ucap Sindy seolah Lea yang bicara kepada ayahnya.
"Iya, salam kakek dulu cu." pinta ayah Sindy kepada Lea cucunya.
Lea pun bersalaman tetapi ia tidak mau lagi di lepas dari gendongan ibu nya. Karena ia tahu kalau ia akan pergi jalan bersama ibu dan ayahnya.
Ketika dalam perjalanan, jack penasaran dan bertanya kepada Sindy tentang ayah mertuanya itu.
"Sayang, ayah memang begitu ya, kalau apa-apa ngak pernah bilang?." tanya jack kepada Sindy.
"Iya, memang suka begitu, ngak ada kan tadi pinjam kunci ke kita?." tanya Sindy juga.
"Oh begitu ya, mungkin saja begitu. Tapi keseringan ayah itu ngak pernah mau bilang, kalau ada kunci di luar di lihatnya, langsung gunakan saja, ngak peduli tu kita mau pergi jam berapa." ucap Sindy.
"Pantes saja." jawab jack.
"Sayang nanti kalau di rumah, kunci simpan saja di kamar, biar kalau mau pinjam bisa bilang dulu." pinta Sindy yang kurang menyukai sifat ayahnya.
"Kenapa begitu, kan itu ayah kamu sendiri sayang?." tanya jack heran kenapa Sindy begitu kepada ayahnya.
"Kalau mau cerita lagi panjang sayang, inti nya dulu ayah pernah berlaku tidak enak kepada ku. Aku masih ingat, ketika aku menganggur tidak bekerja, otomatis kan hanya berdiam di rumah, eh ayah marah luar biasa, ngak peduli tetangga dengar atau lihat. Karena saat itu ada tetangga menyaksikan aku sedang menangis habis di marah ayah, hanya karena pekerjaan. padahal saat itu aku sudah beberapa kali menyebarkan surat lamaran, dan belum ada panggilan sama sekali."
__ADS_1
Sindy menceritakan rasa sakit hatinya yang di sebabkan oleh ayahnya kepada jack.
"Sampai sebegitu kecewanya kamu sayang, itu kan ayah kamu sendiri." ucap jack mencoba menenangkan hati Sindy.
"Iya sayang, bukan hanya itu, banyak lagi yang lain, kita cerita di jalan, nanti orang yang di belakang kita dengar loh sayang." ucap Sindy khawatir.
"Iya iya." jack melaju kembali agar cepat sampai tujuan..
Batin jack, " Ternyata ada sesuatu yang membuat semua orang di rumah bersikap seperti itu kepada ayah. Sekarang aku baru mengerti kalau ayah kurang komunikasi kepada orang rumah."
Di tengah asyik nya memandang perumahan dan rerumputan di sepanjang jalan, Lea tetap saja tertidur di gendong Sindy.
Sesampainya di kota, jack bertanya kembali tentang tujuan mereka yang entah mau kemana.
"Sayang, ini kita mau kemana nih?." tanya jack yang hanya mengikuti keinginan Sindy.
"Kita ke pantai ua sayang, rasa nya aku sudah lama tidak ke pantai." pinta Sindy.
"Oke sayang, meluncur." jawab jack tanpa ada penolakan.
"Tapi sebelum itu, kita beli makanan dulu sayang, dan snack untuk Lea juga." pinta Sindy lagi.
"Oke siap sayang." ucap jack membuat Sindy tersenyum senang karena permintaannya selalu di turuti oleh suaminya tersayang.
Tetapi di sisi lain, Sindy juga berpikir setelah liburannya ke pantai ini, ia akan pulang kembali ke rumah mertuanya dan melakukan aktivitas seperti biasa nya.
__ADS_1
Jika masih banyak kesalahan dari Author mohon masukan nya🙏 jangan lupa untuk dukung dengan cara like, komen, dan Vote karya author biar author tambah semangat Up nya🥰