
Jack tersenyum tersenge-senge mendengar sikap ayah mertuanya, karena jika di bandingkan dengan keluarga Jack, semua anggota keluarga sangat teliti tentang barang apa lagi kalau soal bensin sepeda motor, ia selalu memperhatikan soal itu.
"Itu lah Jack sikap ayah Sindy, tahu gunakan saja tapi tidak pandai isi bensinnya, tak pandai memikirkan pemilik nya. Di sangka nya diam tidak marah kali ya jika selalu di pinjam motor nya." Ibu sindy juga selalu kesal dengan suaminya sendiri.
"Kakak sih ngak marah kalau ayah pinjam motor, cobalah sekali-sekali marah biar dia jera mau pinjam, atau kakak kosongkan tangki motornya." saut dinda yang selalu bertengkar dengan ayahnya.
"Aku tuh bukan tipe yang bisa marah langsung, takut durhaka juga sih, tapi kok batin ku sakit banget." jawab Sindy.
"Tuh tahu sendiri. dari pada batin kita sakit lebih baik ucapkan langsung ke ayah, biar bisa mikir tu otaknya, pinjam terus yang ada ngak di perbaiki." Dinda pun ikut memanas membahas ayahnya dengan ucapan yang kasar.
Jack yang mendengar perkataan dinda hanya bisa melihat dan menyimak bahwa semua penghuni rumah tersebut kurang menyukai sikap ayahnya.
"Sudahlah aku lelah jika membahas itu terus, ngak ada faedahnya, yang ada tambah dosa aja." ucap Sindy.
"Sudah jangan terus-terusan begitu sayang, lupakan saja semuanya, belajar lebih sabar sayang. ingat ! dia adalah ayahmu, seburuk-buruknya dia tetaplah ayahmu. Tanpa ayah mungkin kamu tidak di sini." ucap Jack sedikit menyakitkan.
"Bicara sih enak, tapi aku yang merasakan selama ini sayang, luka lama belum juga hilang dan sekarang bertingkah seperti tidak mau tahu saja." Sindy tetap saja merasakan kekesalan nya.
"Sabar." jawab Jack .
Akhirnya Sindy ke dapur agar melupakan tentang prilaku ayahnya, meskipun terasa kesal tetapi ia coba untuk meredakan emosinya dengan melakukan aktivitas di dapur.
__ADS_1
Mencari kesibukan lain sampai ia melupakan segala hal yang merusak mood nya.
"Sayang, tolong jagain Lea sebentar ya!." pinta Sindy kepada Jack.
"Kamu mau kemana sayang?." tanya Jack.
"Bentar sayang, aku mau menemani ibu masak atau apa lah yang bisa di bantu." ucap Sindy.
"Iya sayang."
"Ayya." ucap Lea sambil memberikan salah satu mainan yang ada di lantai.
Lea berjalan ke arah kamar dan di depan pintu ada juga 1 mainan yang tergeletak, lalu ia mengambilnya.
"Ayyah. abajabaja, mimikebeya. nyak!." sambil mengunjukkan mainan tersebut kepada Jack.
"Apa? oh iya iya." sambil mengambil mainan yang ingin di berikan oleh Lea kepada nya.
"Pintar Lea, ngak nangis dia ya, sudah lama ngak ketemu tapi seperti nya dia masih ingat dengan kami di sini." ucap ibu mertua Jack yang baru saja dari dapur.
"Alhamdulillah tidak bu, lagi bagus angin nya, biasa suka rewel." jawab Jack.
__ADS_1
"Kenapa bu?." tanya Sindy datang menghampiri Lea dan Jack serta ibunya.
"Lea pintar datang ke sini tidak menangis." jawab ibu nya.
"Sudah gede' harus pintar ya kan Nak." ucap Sindy sementara Jack beralih ke kursi tamu.
"Oh iya, kopi nya ngak di bawa hehe." Sindy berlari ke dapur lagi untuk mengambil air kopi yang telah di buat untuk Jack.
"Ngak di bawa ternyata." ucap Ibu nya sambil menggelengkan kepala.
"Lupa bu." sambil berlari Sindy menjawab perkataan ibunya.
Sementara Jack yang mendengar hanya tertawa karena Sindy memang terbiasa lupa jika setelah membuatnya tidak langsung ia bawa kepada Jack.
"Kebiasaan tuh bu, di rumah sana juga sering begitu. Sindy sering lupa padahal sudah awal di buat." saut Jack.
"Kebiasaan lama masih di bawa-bawa. Dasar kakak." saut dinda juga.
"Ngak sengaja kok." jawab Sindy ketika memberikan minumannya kepada Jack dan sambil memandang Jack.
Jika masih banyak kesalahan dari Author mohon masukan nya🙏 jangan lupa untuk dukung dengan cara like, komen, dan Vote karya author biar author tambah semangat Up nya🥰
__ADS_1