Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
PMT2- 1


__ADS_3

PMT- MENJAGA HATI


---------------------------------------


Ketika cinta memanggilmu


Dekatilah dia walau jalannya terjal berliku


Jika cinta memelukmu, maka dekaplah ia


Walau pedang bersembunyi


Disela punggungnya dan siap melukaimu


* * * * *


Pagi ini Nisha sudah rapi dengan baju casual ciri khasnya. Celana levis panjang warna biru bule dan kemeja blouse tangan panjang motif bunga, dengan kerah menutupi leher dan ada satu kancing dibawah kerah tersebut. Dia merapikan buku bukunya kedalam tas untuk pelajaran hari ini. Bergegas keluar kamar sedikit berlari menuruni tangga.


" Yuni dah berangkat Bu? " tanya Nisha saat meraih gelas berisi susu yang sudah ibunya buatkan. Ibu Uni sendiri sedang menggoreng telor dadar.


" udah dari tadi. Kamu masuk pagi hari ini? " tanya Ibu.


" iya " jawabnya singkat.


" terus kerjaan kamu ditata usaha kampus gimana selama ini? Gak ada kesulitan kan? " tanya Ibu seraya meletakkan sepiring nasi goreng dengan telor dadar dimeja depan Nisha.


" gak ada Bu. Semua lancar " ujar Nisha penuh senyum pada Ibu. " syukurlah " mengelus pundak Nisha lembut.


Tak lama pun Papa Sakti ikut bergabung untuk sarapan bersama. Setelah itu Nisha berangkat ke kampusnya diantar oleh Papa sampai halte tempat Nisha menunggu angkutan umum.


Ya, sudah 10 bulan sejak Nisha pulang dari Bandung saat berlibur bersama Ardi dan teman temannya, Nisha menerima tawaran tante Tria untuk bekerja menjadi pegawai lepas membantu dibagian tata usaha kampus tempat dia melanjutkan masa kuliahnya. Sebelum dia memulai masa kuliahnya, Nisha magang dari pagi sampai sore, pekerjaannya pun tak terlalu banyak. Dia membantu siapa saja dibagian itu yang membutuhkan tenaganya. Dari menyalin data para mahasiswa tiap tingkat atau yang sudah alumni, membuat jurnal bulanan, bahkan terkadang ada yang memintanya menyalin lembar soal soal untuk ulangan para mahasiswa. Setidaknya Nisha mendapat banyak pengetahuan dari tempat bekerjanya itu.


Nisha juga ikut penerimaan mahasiswa baru melalu jalur beasiswa yang disarankan tante Tria. Dan beruntungnya dari 250 peserta yang mengikuti seleksi itu dan hanya 10 orang yang menerima beasiswa tersebut, termasuk Nisha. Nisha sangat bersyukur akan itu. Dan sudah 8 bulan kini Nisha kuliah dan kerja paruh waktu.


Saat itu Ardi masih menjalankan kuliahnya, hubungan mereka pun baik baik saja. Setiap hari pun tanpa lupa dan tanpa beban Ardi masih menjemput Nisha dari kampusnya itu setelah pulang magangnya. Kini Ardi pun sudah menyelasaikan kuliah diplomatnya lebih cepat satu semester dari teman temannya yang lain dan telah bekerja sebagai wakil direktur diperusahaan keluarganya yang pimpim oleh pamannya, Pak Kurniawan. Tapi dia tetap melanjutkan menyelesaiakan kuliah sarjana ekonominya dan mengambil kelas karyawan seminggu sekali. Walau pun Ardi semakin sibuk, dia tetap menyempatkan untuk menjemput Nisha tiap sore dikampusnya yang jaraknya pun tak begitu jauh. Soal bengkel milik Ardi, kini bengkel itu tetap dikelola tapi oleh Dono dan temannya. Dono yang memegang penuh sekarang bengkel itu. Dimana sekarang Ardi tinggal?


Kini Ardi tinggal disebuah apartemen yang tak begitu jauh dari daerah rumah Teteh Adesty. Itu juga atas bujukan paman Kurniawan dan bang Martin agar Ardi tidak tinggal diruko, dan paman kurniawan membelikan satu apartemen minimalis itu untuk Ardi tinggali. Bahkan Ardi pun dibelikan sebuah mobil mewah untuk memudahkannya bepergian menuju kantornya yang berada dikawasan perkantoran di Jakarta pusat itu. Awalnya Ardi menolak itu tapi,


" masa wakil dirut tinggal diruko dan pakai motor matic. Malu dong paman, Ar. Apa kata rekan bisnis kita nanti. " kata paman Kurniawan, lelaki berusia 48 tahun yang masih terlihat gagah dan berwibawa. Ardi pun akhirnya mengikuti permintaan paman dan abangnya itu. Dan sedikit sedikit kekayaan keluarga Ardi pun terlihat oleh Nisha dan teman teman dekat Ardi.


" kak Ar, kok bawa mobil? Mobil siapa? " tanya Nisha saat Ardi datang menjemputnya dengan sebuah mobik mersedez benz C-class keluaran terbaru tahun ini dengan warna hitam menyala.


" mobil aku lah! " jawab Ardi santai yang masih mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitamnya. Sangat tampan, menurut Nisha.


" kak Ar kok jadi keren gini " seru Nisha menatap Ardi yang malah tersenyum angkuh melipat kedua tangannya didada.


" keren ya? " Nisha hanya mengangguk tak berbohong. " makanya, cowok kamu udah keren begini, dah kerja kantoran pula, awas kamu genit ngelirik cowok lain dikampus ini " ujar Ardi mencolek hidung Nisha.


Nisha mengerucutkan bibirnya " gak akan kok! Nisha udah cukup punya kak Ar aja, satu "

__ADS_1


Ardi pun mengajak Nisha untuk masuk kedalam mobil dan mengantarnya pulang.


" kak Ar mobilnya keren? " ucapnya kagum akan interior dalam mobil itu. Ardi tak menjawab, hanya menyunggingkan senyumnya lebar melihat Nisha yang meraba raba seisi didalam mobil seperti tidak pernah menaiki mobil.


" berarti kak Ar, bisa dibilang termasuk orang kaya dong! Dah tinggal diapartemen, sekarang pake mobil mewah lagi. " tutur Nisha masih tertarik melihat isi mobil.


" yang kaya itu orang tua aku Sha, bukan aku. Aku cuma numpang aja, ini semua bukan dari hasil kerja aku. Aku cuma pinjam aja." Ujar Ardi yang masih fokus pada stirnya.


" ya tetep aja kak Ar, nanti juga kan semua milik orang tua kak Ar jatuhnya ke kak Ardi juga. Bukan ke orang lain. " ucap Nisha yang kini sudah memandang kedepan. Melihat suasana jalan yang cukup padat sore itu.


" ya tetep aja, aku gak mau berbangga Sha, aku lebih bangga kalau ini hasil kerja aku sendiri "


" lagian gak enak pake mobil, tau! " Nisha melirik Ardi yang memasang wajah melasnya.


" kenapa emangnya, kan bagus. Gak kepanasan, adem lagi disini. Kalau hujan juga gak takut kehujanan. "


" iya emang, tapi gampang kejebak macet " saut Ardi.


" lagian gak enaknya lagi tuh, aku gak bisa ngerasain pelukan kamu. Kalau pake motor kan kamu bisa meluk aku dari belakang. Walau hujan atau kepanasan pun setidaknya aku masih bisa ngegenggam tangan kamu yang ada diperut aku. Sedangkan sekarang! Liat. Kamu sama aku duduknya aja jauhan, mau meluk juga susah. Pegangan tangan paling sebentar, karena aku harus fokus sama mengendarai mobil ini. Gak enak kan? Apalagi macet begini, kalau pakai motor pun masih bisa nyelip jalan, pake mobil mah gak bisa berkutik " tutur Ardi. Nisha hanya tersenyum mengulum bibirnya. Karena memang benar yang dikatakan Ardi. Lebih baik memakai motor, karena akan meninggalkan banyak kenangan seperti waktu dulu. Tapi mau bagaimana lagi, memang ini sudah jalannya.


" apa kamu lebih seneng kalau pakai mobil mewah ini ya? Apalagi sekarang tau kalau keluarga aku kaya? "


" ya gak lah! Mau keluarga kak Ardi gimana juga, Nisha gak perduli kok! Mau pake mobil atau motor sama aja. Aku tetep sayang kak Ardi " ucap Nisha jujur. Ardi pun mengukir senyum indah dipipinya.


* * *


Nisha melirik jam dipergelangan tangannya. Memperhatikan apakah ada angkutan umum yang akan dia naiki pagi ini, katena terlihat jalan raya didepannya ini begitu padat mobil mobil berjejer dengan lajunya yang melambat.


" Arya " ucap Nisha terkejut pada cowok didepannya itu.


Dia adalah Ahmad Arya. Anak dari tante Tria, yang kini juga kuliah dikampus yang sama dengan Nisha bahkan satu jurusan yaitu kompiterisasi akutansi, hanya berbeda tingkat, karena saat ini Arya berada disemester empat. Dan bisa dibilang Arya adalah senior dari Nisha.


Arya juga menjadi pegai lepas dibagian tata usaha kepegawaian, sehingga sering bertemu dengan Nisha. Tapi memang sejak awal pun tante Tria sudah mengenalkan Arya pada Nisha agar dapat membantu Nisha jika Nisha mengalami kesulitan disana.


" hai " sapa Arya masih duduk dimotornya. Nisha hanya melambaikan tangannya seraya mengangkat kedua sudut bibirnya.


" kuliah pagi? " tanya Arya, Nisha pun mengangguk


" iya. Arya pagi juga? " balik bertanya.


" iya! Ayo bareng. Buruan naik " ajak Arya memberi isyarat agar naik ke jok belakang motornya.


Tanpa ragu, Nisha pun segera naik kejok belakang motor sa*tria milik Arya itu.


Baguslah, irit ongkos jadinya. Lumayan ojek gratis. Hehehe. Gumam Nisha dalam hati.


" pegangan Sha! " seru Arya didepan.


" ini udah pegangan Ya! " teriak Nisha dibelakang. Ya pegangan pada baju dipinggang Arya.

__ADS_1


" peluk napa Sha, biar lo gak jatuh nanti "


Nisha reflek memukul bahu Arya.


" nggak mau! " sentak Nisha. " aahhk, lo mah. Gw mau tau dipeluk sama lo, Sha. Kan jarang jarang gw boncengin lo. " ujar Arya keras.


" nggak usah cari kesempatan deh! " imbuh Nisha. " kalau gak Nisha turun aja deh disini biar naik angkot aja "


" iya iya, becanda kok! Jangan marah ahk, ntar bubuk manisnya dibawa angin lagi "


Sekali lagi Nisha memukul pundak Arya keras, menutupi rasa malunya akan godaan Arya. Untungnya Nisha dibelakang, sehingga Arya tidak melihat wajah merah Nisha karena baper.


Arya memang tampan dan tinggi dengan hidung mancung, walau dia tidak memiliki kulit putih seperti Ardi, tapi Arya terbilang tampan dengan kulit sawo matangnya.


" kecil kecil tenaga lo gede juga. Sakit tau Sha! "


" Aauu ahhk! " kata Nisha tak mau menanggapi ucapan Arya. Nisha sudah sedikit terbiasa akan segala godaan yang selalu dilontar kan Arya selama ini kepadanya. Dan Nisha selalu mencoba agar hatinya tak terbawa suasana akan semua perlakuan Arya yang memang sangat perhatian padanya.


Karena hatinya milik Ardi. Nisha selalu mengingat itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


*TBC


Tolong singgah juga ya ke karya aku yang satunya🤗


WIDURI DAN CINTA TUAN MUDA


Baru beberapa bab sih😁jika berkenan mohon dukungannya ya😘😘*



**JANGAN PERNAH LUPA BANTU VOTE YA


LIKE DAN KOMEN JUGA

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA


MOHON DUKUNGANNYA🤗😘**


__ADS_2